45 Peserta PKN II Jateng Lulus, Pemprov Minta Inovasi Tak Berhenti di Ruang Pelatihan

Tahmid Musyafa
5 Min Read
Peserta pelatihan kepemimpinan nasional, peserta terbaik dapat penghargaan. (dok. Pemprov Jateng)

SEMARANG – Setelah menjalani proses panjang, 45 peserta PKN II atau Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Jawa Tengah dinyatakan lulus. Meski begitu, para peserta diminta membawa inovasi ke instansi masing-masing dan menjadi teladan dalam membangun organisasi yang berintegritas.

Sebelumnya, para peserta ini telah menjalani program selama lebih dari empat bulan. Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa kelulusan bukanlah tujuan akhir. Para peserta justru dituntut membuktikan hasil pelatihan melalui penerapan inovasi, peningkatan kinerja, dan penguatan integritas di lingkungan kerja masing-masing.

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno saat mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen dalam acara penutupan PKN Tingkat II Angkatan VII di BPSDM Jawa Tengah, Jumat (14/8/2026).

Kelulusan PKN Harus Menghasilkan Dampak Nyata

Sumarno mengatakan, keberhasilan sebuah program kepemimpinan tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang menyelesaikan pelatihan. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan dan dampak yang muncul setelah peserta kembali menjalankan tugas di instansi masing-masing.

“Yang terpenting adalah dampak dari pelaksanaan PKN ini nanti terhadap teman-teman peserta setelah kembali bekerja,” katanya.

Para peserta ini merupakan calon maupun pemimpin yang memiliki peran strategis dalam menggerakkan organisasi. Karena itu, ilmu, pengalaman, dan inovasi yang diperoleh selama PKN harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Sumarno berharap lulusan PKN mampu membangun organisasi yang lebih efektif sekaligus memberikan contoh dalam hal kinerja dan integritas.

“Saya berharap mereka menjadi lebih bisa menggerakkan organisasi dan bisa memberi contoh untuk lebih berkinerja dan juga lebih berintegritas,” ujarnya.

Pemimpin Harus Menjadi Contoh bagi Organisasi

Selain kemampuan manajerial, Sumarno menekankan pentingnya keteladanan seorang pemimpin. Dia juga menilai bahwa perilaku pemimpin memiliki pengaruh besar terhadap budaya kerja di lingkungan organisasi. Ketika pemimpin mampu menunjukkan integritas, nilai tersebut akan lebih mudah ditularkan kepada jajaran di bawahnya.

Sebaliknya, persoalan integritas juga dapat menyebar apabila seorang pemimpin tidak memberikan contoh yang baik.

“Kalau pemimpinnya tidak berintegritas, itu akan merembet ke bawahnya seperti piramid,” katanya.

Karena itu, lulusan PKN diminta tidak hanya menjadi pejabat yang mampu menjalankan tugas administratif, tetapi juga pemimpin yang mampu menggerakkan orang, membangun kepercayaan, dan menciptakan perubahan.

BPSDM Jateng Akan “Menagih” Implementasi Inovasi

Kepala BPSDM Jawa Tengah Uswatun Hasanah memastikan inovasi yang dirancang peserta selama mengikuti PKN tidak akan dibiarkan berhenti sebagai dokumen proyek perubahan.

BPSDM Jateng akan terus melakukan tindak lanjut dan meminta para peserta memastikan inovasi tersebut benar-benar dijalankan di instansi masing-masing.

“Kami masih akan mengundang dan menagih teman-teman semuanya untuk membuat inovasi atau melaksanakan inovasi tersebut,” kata Uswatun.

Langkah tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan pembelajaran PKN memberikan manfaat langsung terhadap peningkatan kualitas pelayanan dan kinerja pemerintahan.

Dengan demikian, inovasi yang lahir selama pelatihan diharapkan tidak hanya menjadi pencapaian personal peserta, tetapi dapat memberikan manfaat bagi organisasi dan masyarakat.

PKN Jateng Berlangsung Lebih dari Empat Bulan

Sebanyak 45 peserta mengikuti program tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur pemerintahan dan lembaga negara. Dari jumlah itu, sebanyak 15 peserta meraih predikat sangat memuaskan, sementara 30 peserta memperoleh predikat memuaskan.

Selama mengikuti PKN, peserta tidak hanya memperoleh pembelajaran di dalam kelas. Mereka juga mengikuti Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan tersebut mengambil tema besar ketahanan pangan dengan sejumlah fokus pembelajaran.

Empat tema yang diangkat meliputi:

  1. Penguatan dan pemberdayaan sumber daya manusia pertanian.
  2. Transformasi pemasaran produk pertanian berbasis inovasi.
  3. Alih teknologi untuk mempercepat produksi pertanian.
  4. Ketahanan pangan berkelanjutan melalui penyediaan infrastruktur yang memadai.

Melalui visitasi tersebut, peserta diajak melihat secara langsung berbagai pendekatan yang dapat diterapkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong inovasi di sektor pertanian.

Peserta juga memperoleh pembelajaran dari Perum Bulog dan Bank Indonesia sebagai bagian dari rangkaian pengembangan kompetensi kepemimpinan.

Dari Pelatihan Menuju Perubahan Birokrasi

Berakhirnya PKN Tingkat II Angkatan VII sekaligus menandai dimulainya tahap yang lebih penting bagi para peserta: membuktikan hasil pembelajaran melalui perubahan di tempat kerja.

Pemprov Jawa Tengah berharap para lulusan tidak kembali ke rutinitas lama tanpa membawa perubahan. Sebaliknya, inovasi yang telah dirancang selama pelatihan harus diuji, diterapkan, dan dikembangkan sesuai kebutuhan organisasi.

Bagi pemerintah, keberhasilan PKN pada akhirnya bukan sekadar berapa banyak peserta yang lulus atau memperoleh predikat terbaik.

Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana para lulusan mampu menjadi motor perubahan, penggerak organisasi, serta teladan integritas di lingkungan kerja masing-masing.

Dengan pendekatan tersebut, PKN diharapkan tidak berhenti sebagai program peningkatan kompetensi aparatur, tetapi menjadi salah satu instrumen untuk melahirkan pemimpin birokrasi yang mampu menghadirkan kinerja dan pelayanan publik yang semakin baik.

Share This Article