SEMARANG – Pemprov Jawa Tengah menargetkan produksi 10,56 juta ton gabah kering giling pada 2026, dengan penguatan irigasi, mekanisasi, perlindungan lahan sawah, dan dukungan bagi petani.
- Produksi Padi Jateng Ditargetkan Tembus 10,56 Juta Ton
- Dari Benih hingga Panen, Petani Diperkuat
- 26 Kabupaten/Kota Penuhi Target Perlindungan Lahan Sawah
- Irigasi Bikin Petani Rembang Bisa Panen Tiga Kali
- Mekanisasi Pertanian Pangkas Waktu Kerja hingga 10 Hari
- Ratusan Infrastruktur Irigasi dan Mesin Pertanian Disiapkan
- Petani Juga Mendapat Perlindungan dari Risiko Gagal Panen
- Produksi Tinggi Harus Diikuti Distribusi yang Merata
- Dari Sawah Jateng untuk Meja Makan Indonesia
Peran petani menjadi semakin penting menjelang Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah. Di tengah tantangan perubahan iklim, ancaman kekeringan, alih fungsi lahan, hingga persoalan distribusi, Jawa Tengah terus memperkuat posisinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Gambaran itu terlihat di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo. Mesin panen menyusuri lahan sekitar 264 hektare yang dikelola lebih dari 100 petani anggota Gapoktan Sari Tani. Pada musim tanam kedua 2026, produktivitas sawah di kawasan tersebut mampu mencapai lebih dari 6 ton padi per hektare.
Bagi Ketua Gapoktan Desa Gentan, Joko Mursito, panen raya bukan hanya soal hasil produksi. Momen tersebut sekaligus menjadi kesempatan petani menyampaikan kebutuhan mereka secara langsung kepada pemerintah, mulai dari ketersediaan air untuk musim tanam berikutnya, jaringan listrik untuk sumur pertanian, tambahan mesin panen, hingga perbaikan jalan usaha tani.
“Alhamdulillah petani Desa Gentan senang, karena aspirasi kami langsung ditangkap Pak Gubernur. Kami merasa diperhatikan dan nyaman,” ujar Joko.
Produksi Padi Jateng Ditargetkan Tembus 10,56 Juta Ton
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu prioritas pembangunan.
Orientasinya tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Jawa Tengah, tetapi juga mempertahankan kontribusi provinsi tersebut terhadap ketahanan pangan nasional. Pada 2025, produksi padi Jawa Tengah tercatat mencapai 9,39 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka tersebut meningkat sekitar 493.684 ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi itu berasal dari luas panen sekitar 1,67 juta hektare, sekaligus membuat Jawa Tengah berkontribusi sekitar 15 persen terhadap produksi pangan nasional. Artinya, hasil panen petani Jawa Tengah memiliki peran yang melampaui batas administratif provinsi. Sebagian produksi kemudian didistribusikan ke berbagai daerah dan menjadi bagian dari pasokan beras nasional.
Target yang lebih tinggi dipasang pada 2026. Pemprov Jawa Tengah menargetkan produksi padi mencapai 10.559.679 ton GKG. Hingga periode Januari-Juli 2026, produksi diproyeksikan telah mencapai 6,74 juta ton GKG, atau sekitar 63,43 persen dari target tahunan.
Gubernur Ahmad Luthfi menilai capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama antara petani dan pemerintah dalam menjaga produktivitas lahan. “Petani bukan sekadar penanam, tetapi penjaga masa depan bangsa,” ujar Gubernur Luthfi.
Dari Benih hingga Panen, Petani Diperkuat
Untuk mengejar target produksi, dukungan pemerintah tidak hanya diberikan ketika petani memasuki masa panen. Intervensi dilakukan sejak tahap awal budidaya hingga pascapanen. Pada 2026, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan bantuan benih dan sarana produksi padi untuk lahan seluas 47.200 hektare.
Dukungan juga diberikan untuk komoditas strategis lainnya, antara lain:
- Jagung seluas 3.200 hektare.
- Kedelai seluas 3.000 hektare.
- Cabai seluas 310 hektare.
- Bawang merah melalui benih biji atau true shallot seed seluas 25 hektare.
Program tersebut diarahkan untuk menjaga produksi pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Namun, peningkatan produksi tidak akan berjalan optimal tanpa kepastian lahan pertanian. Karena itu, pengendalian alih fungsi sawah menjadi salah satu agenda penting pemerintah daerah.
26 Kabupaten/Kota Penuhi Target Perlindungan Lahan Sawah
Pemprov Jawa Tengah terus memperkuat perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) untuk menjaga keberadaan lahan produktif. Ahmad Luthfi menyebut hingga kini terdapat 26 kabupaten/kota yang telah memenuhi target perlindungan LP2B sebesar 87 persen.
Perlindungan lahan menjadi penting karena peningkatan produksi pangan tidak cukup hanya dilakukan melalui penggunaan teknologi dan sarana produksi. Tanpa lahan yang memadai, produktivitas pertanian dalam jangka panjang akan menghadapi tekanan.
Karena itu, menjaga sawah tetap menjadi lahan pertanian merupakan bagian dari strategi mempertahankan Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Irigasi Bikin Petani Rembang Bisa Panen Tiga Kali
Dampak dukungan sarana pertanian mulai dirasakan kelompok tani di sejumlah daerah. Salah satunya Kelompok Tani Budi Luhur di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang. Kelompok yang beranggotakan sekitar 80 petani tersebut mengelola lahan sekitar 35 hektare.
Sebelum mendapatkan dukungan irigasi perpompaan dan alat mesin pertanian, lahan mereka hanya mampu ditanami padi satu kali dalam setahun. Kini, petani dapat meningkatkan intensitas tanam hingga tiga kali dalam setahun, dengan produktivitas sekitar 7-7,5 ton per hektare.
Anggota Kelompok Tani Budi Luhur, Karyono, mengatakan keberadaan irigasi perpompaan membuat petani lebih percaya diri mengolah sawah meskipun harus menghadapi ancaman musim kemarau.
“Sejak mendapat bantuan irpom, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali,” kata Karyono.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan indeks pertanaman dan produktivitas sawah.
Mekanisasi Pertanian Pangkas Waktu Kerja hingga 10 Hari
Selain irigasi, modernisasi pertanian juga terus didorong melalui penggunaan alat dan mesin pertanian. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah mekanisasi terintegrasi atau dikenal sebagai “sistem sepur”.
Dalam pola tersebut, berbagai mesin bekerja secara berurutan, mulai dari mesin panen, pengolah tanah, penyemprot dekomposer hingga mesin tanam. Dengan pola kerja yang terintegrasi, lahan dapat segera dipersiapkan kembali setelah panen.
Untuk lahan seluas sekitar dua hektare, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga 10 hari secara manual dapat dipangkas menjadi sekitar satu hari dengan mekanisasi. Efisiensi tersebut tidak hanya menghemat tenaga dan waktu petani, tetapi juga membuka peluang meningkatkan indeks pertanaman.

Ratusan Infrastruktur Irigasi dan Mesin Pertanian Disiapkan
Penguatan infrastruktur pertanian juga dilakukan melalui rehabilitasi dan pembangunan jaringan irigasi.
Pada 2026, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan:
- 334 paket rehabilitasi jaringan irigasi tersier.
- 75 paket pembangunan irigasi perpipaan.
- 100 unit mesin tanam padi.
- 86 traktor crawler.
- 30 traktor roda empat.
- 100 pompa air.
- 10 combine harvester.
- Puluhan unit cultivator dan traktor tangan.
Dukungan tersebut dirancang untuk memperkuat seluruh mata rantai produksi, mulai dari pengolahan tanah hingga panen.
Di tengah ancaman perubahan musim dan kekeringan, pemerintah juga terus melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan, pipanisasi, sumurisasi, pemanfaatan sumber air baku, serta distribusi pompa. Jawa Tengah sendiri telah menerima sekitar 17 ribu pompa untuk disalurkan ke daerah sesuai kebutuhan.
Petani Juga Mendapat Perlindungan dari Risiko Gagal Panen
Peningkatan produksi pangan tidak terlepas dari risiko usaha tani. Perubahan cuaca, banjir, kekeringan, serangan organisme pengganggu tanaman, hingga bencana alam dapat sewaktu-waktu mengganggu produksi. Untuk mengurangi risiko tersebut, Pemprov Jawa Tengah mengalokasikan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk lahan seluas 10.449 hektare.
Selain itu, disiapkan pula subsidi suku bunga bagi 800 paket pembiayaan petani. Perlindungan tersebut diharapkan memberikan rasa aman bagi petani agar tetap berani berproduksi tanpa harus menanggung seluruh risiko kerugian seorang diri.
Ahmad Luthfi menegaskan pembangunan pertanian membutuhkan keterlibatan seluruh kabupaten dan kota, terutama dalam menjaga lahan, memperkuat mekanisasi, serta memberikan pendampingan kepada kelompok tani.
“Gapoktan kita openi, dari mulai pembibitan, pemupukan, sampai pascapanen,” katanya.
Produksi Tinggi Harus Diikuti Distribusi yang Merata
Tantangan pangan Jawa Tengah tidak berhenti ketika gabah berhasil dipanen. Produksi yang tinggi harus diikuti sistem distribusi yang baik agar surplus pangan dapat dinikmati masyarakat secara luas dan tidak menimbulkan gejolak harga di tingkat konsumen maupun petani.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menilai distribusi menjadi salah satu pekerjaan penting yang harus mendapat perhatian.
“Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi, agar surplus ini bisa merata dan menjaga stabilitas harga,” kata dia.
Artinya, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya diukur dari seberapa banyak gabah yang dihasilkan. Rantai pangan dari sawah hingga konsumen harus berjalan seimbang.
Dari Sawah Jateng untuk Meja Makan Indonesia
Di usia ke-81, Jawa Tengah kembali menegaskan perannya dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Di satu sisi, petani seperti Joko Mursito di Sukoharjo terus mengolah sawah dan menjaga produktivitas lahan. Di sisi lain, petani seperti Karyono di Rembang memanfaatkan irigasi dan mekanisasi agar sawah dapat menghasilkan lebih banyak dalam setahun.
Di balik setiap angka produksi, ada kerja panjang petani, dukungan irigasi, mesin pertanian, benih, perlindungan lahan, hingga kebijakan pemerintah yang saling terhubung. Target produksi 10,56 juta ton GKG pada 2026 menjadi tantangan sekaligus penegasan bahwa Jawa Tengah ingin tetap berada di garis depan dalam penyediaan pangan nasional.
Sebab, setiap bulir padi yang dipanen dari sawah Jawa Tengah bukan sekadar hasil pertanian daerah. Sebagiannya akan bergerak ke berbagai penjuru negeri, menjadi beras yang tersaji di meja makan masyarakat Indonesia.
Merawat petani, mempertahankan sawah, memperkuat produksi, dan memastikan distribusi berjalan baik menjadi bagian dari perjalanan Jawa Tengah untuk terus menjadi lumbung pangan Indonesia.
