MERCUSUARNEWS.CO– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong rumah sakit pemerintah dan swasta memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan sekaligus mengembangkan medical tourism di Jawa Tengah.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, penguatan layanan kesehatan harus dibarengi dengan upaya membangun kepercayaan masyarakat agar tidak perlu mencari pengobatan hingga ke luar daerah maupun luar negeri.
Hal itu disampaikan Taj Yasin usai menghadiri peresmian Queen Latifa Hospital Semarang, Selasa (15/9/2026).
Speling Jangkau 18 Juta Warga Jawa Tengah
Salah satu upaya Pemprov Jateng memperluas akses layanan kesehatan dilakukan melalui program Dokter Spesialis Keliling (Speling).
Program tersebut menghadirkan dokter spesialis lebih dekat dengan masyarakat, terutama untuk memperluas akses pemeriksaan dan pelayanan medis.
Taj Yasin menyebut cakupan program Speling hingga Selasa telah mencapai sekitar 18 juta warga Jawa Tengah.
Menurutnya, program tersebut juga mendapat apresiasi dari pemerintah pusat karena tidak sekadar mengejar jumlah penerima layanan, tetapi menghadirkan dokter spesialis secara langsung di tengah masyarakat.
“Alhamdulillah perkembangannya baik. Kemarin terakhir ketika ada penilaian dari pemerintah pusat, dari kementerian, kami dinobatkan yang terbaik dalam memberikan pelayanan,” kata Taj Yasin.
Ia berharap kehadiran dokter spesialis secara langsung dapat meningkatkan rasa nyaman sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di Jawa Tengah.
“Dokter-dokter spesialis kami turunkan langsung untuk bertemu dengan masyarakat sehingga masyarakat lebih nyaman dan lebih percaya terhadap kesehatan atau tenaga kesehatan yang ada di Jawa Tengah,” ujarnya.
Pemprov Jateng Ingin Warga Tak Perlu Berobat ke Luar Negeri
Taj Yasin menilai pengembangan medical tourism di Jawa Tengah membutuhkan dukungan kualitas layanan dan kepercayaan masyarakat.
Menurutnya, fasilitas kesehatan dan kompetensi tenaga medis di Jateng terus berkembang. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui bahwa berbagai layanan kesehatan yang tersedia di daerah juga mampu menangani penyakit serius dan kronis.
“Tantangan kita adalah meyakinkan masyarakat bahwa penanganan rumah sakit kita sebenarnya tidak kalah dengan pelayanan rumah sakit di provinsi lain maupun di luar negeri,” katanya.
Ia mencontohkan penanganan kanker dan sejumlah penyakit kronis yang kini semakin didukung kemajuan teknologi serta kompetensi tenaga kesehatan.
“Sudah banyak yang sembuh. Ini yang perlu kita kampanyekan supaya masyarakat melek, tidak perlu lagi berobat ke luar negeri, cukup di Jawa Tengah,” ujarnya.
Taj Yasin juga mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan ketika menemukan gejala penyakit. Deteksi dan penanganan lebih awal dinilai penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.
Riset dan Inovasi Rumah Sakit Jadi Modal Medical Tourism
Selain memperkuat akses layanan, Pemprov Jateng melihat riset dan inovasi yang dilakukan sejumlah rumah sakit sebagai modal penting dalam membangun ekosistem medical tourism.
Menurut Taj Yasin, perkembangan tersebut perlu diperkuat melalui kolaborasi antara rumah sakit pemerintah, swasta dan berbagai pihak terkait.
“Rumah sakit-rumah sakit di Jawa Tengah banyak yang melanjutkan penelitian dan inovasinya. Ini yang kami sebut sebagai wisata kesehatan di Jawa Tengah,” tuturnya.
Konsep medical tourism diharapkan tidak hanya menghadirkan layanan kesehatan, tetapi juga terintegrasi dengan potensi pariwisata yang dimiliki Jawa Tengah.
Queen Latifa Hospital Semarang Siap Dukung Medical Tourism
Direktur Queen Latifa Hospital Semarang, dr. Alviena Bestari Savitri, menyambut positif gagasan pengembangan medical tourism yang disampaikan Taj Yasin.
Ia memastikan pihaknya siap mengambil bagian dalam program tersebut.
“Untuk Jawa Tengah, Queen Latifa Hospital Semarang terutama siap untuk melayani,” katanya.
Menurut Alviena, konsep medical tourism dapat dikembangkan dengan menggabungkan pelayanan kesehatan dan wisata.
Jawa Tengah dinilai memiliki banyak destinasi yang dapat menjadi bagian dari paket tersebut, mulai dari kawasan wisata Kota Lama Semarang hingga kawasan pegunungan.
“Misalnya Kota Lama, terus kalau mencari gunung bisa ke Ungaran. Untuk dipaketkan dengan medical tourism, nanti arahnya ke mana, pelayanannya kami siap untuk mendukung programnya Pak Wagub,” tandasnya.
Dengan dukungan fasilitas kesehatan, tenaga medis, inovasi rumah sakit dan potensi wisata, Jawa Tengah kini didorong tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga destinasi medical tourism yang mampu menarik masyarakat dari berbagai daerah.
