TAHANI Ahla Al Alami, siswi SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang, bersama rekannya berhasil membawa pulang dua penghargaan dari World Green Mech Competition 2026 di Thailand. Tentu saja ini menjadi kebanggaan bagi pelajar Jawa Tengah di panggung internasional.
- Dua Tim Indonesia dari Semarang Berhasil Bersaing di Thailand
- Latihan Coding dari Senin hingga Sabtu
- Taiwan Jadi Negara yang Paling Diwaspadai
- Peserta Mengumpulkan Poin dari Misi Robot
- Taj Yasin Bersyukur Prestasi Anak Indonesia Meningkat
- Tahun Pertama Ikut Kompetisi Internasional, Langsung Raih Penghargaan
- Coding Tak Sekadar Belajar Teknologi
- YPKPI Siapkan Program Pengembangan Talenta Anak
- SD Isriati Kembangkan Coding Sejak Kelas 1
- Prestasi di Thailand Jadi Awal Pengembangan Talenta Digital
Tahani Ahla Al Alami, putri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, berhasil meraih dua penghargaan dalam kompetisi coding berbasis robot World Green Mech (WGM) Competition 2026 di Nonthaburi, Thailand.
Tahani tampil bersama Abrisam Haldis Alfaruq pada kategori Junior Programmer. Keduanya sukses memperoleh STEM Overseas Award dan Excellence Award dalam kompetisi yang mempertemukan peserta dari berbagai negara tersebut.
Dua Tim Indonesia dari Semarang Berhasil Bersaing di Thailand
SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang mengirimkan dua tim untuk berlaga pada kategori Junior Programmer. Selain pasangan Tahani dan Abrisam, terdapat pasangan Muhammad Ar Rasykhan Lubis dan Alvaro Musa Nurindra.
Keduanya juga berhasil mencatatkan prestasi dengan memperoleh Achievement Award sekaligus menempati peringkat kelima. Dengan demikian, empat siswa yang dikirim SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang sama-sama berhasil membawa pulang penghargaan.
Pada kategori Junior Programmer, Indonesia menurunkan 11 tim. Mereka bersaing dengan peserta dari sejumlah negara, termasuk Thailand, Taiwan, Vietnam, Mongolia, dan India. Secara keseluruhan, terdapat 48 tim dari delapan negara yang berkompetisi pada divisi tersebut.
Latihan Coding dari Senin hingga Sabtu
Di balik prestasi tersebut terdapat persiapan panjang dan intensif. Pelatih tim SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang, Ahmad Naufal Ilmi Fasya, mengungkapkan para siswa menjalani latihan secara konsisten sebelum berangkat ke Thailand.
Persiapan dilakukan sekitar 16 hingga 20 kali pertemuan. Namun, latihan tersebut berlangsung hampir setiap hari.
“Kalau di sekolah biasanya kami libur di hari Jumat, kalau anak-anaknya persiapan coding internasional mereka libur cuma di hari Minggu,” ujar Ilmi.
Menurut Ilmi, kedisiplinan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu anak-anak beradaptasi dengan tantangan kompetisi internasional.
Taiwan Jadi Negara yang Paling Diwaspadai
Sebelum pertandingan dimulai, tim pelatih telah memetakan kekuatan sejumlah negara peserta. Taiwan menjadi salah satu negara yang paling diperhitungkan. Alasannya, robot yang digunakan dalam kompetisi tersebut diproduksi oleh perusahaan asal Taiwan.
Ilmi menilai kondisi itu memberikan keuntungan tersendiri bagi peserta Taiwan karena mereka diperkirakan memiliki akses lebih cepat terhadap informasi maupun perkembangan teknologi robot yang digunakan.
Namun, kekhawatiran tersebut tidak membuat tim Indonesia kehilangan kepercayaan diri. Persiapan yang dilakukan secara intensif membuat para siswa mampu bersaing dan menyelesaikan berbagai misi yang diberikan dalam perlombaan.
Peserta Mengumpulkan Poin dari Misi Robot
Kompetisi WGM tidak sekadar menguji kemampuan peserta menulis atau menjalankan program komputer. Para peserta harus menggunakan kemampuan coding untuk mengendalikan robot dalam menyelesaikan sejumlah misi.
Setiap misi memiliki nilai tertentu. Peserta kemudian mengumpulkan poin sebanyak mungkin berdasarkan keberhasilan menyelesaikan tantangan yang diberikan.
“Di perlombaan robot ini kita mengkalkulasi nilai. Kita mengumpulkan nilai dari beberapa misi yang dikerjakan oleh anak-anak,” katanya.
Model kompetisi tersebut membuat peserta harus menggabungkan kemampuan teknis, ketelitian, strategi, komunikasi, serta kemampuan bekerja dalam tim.

Taj Yasin Bersyukur Prestasi Anak Indonesia Meningkat
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi langsung dari Taj Yasin Maimoen. Wakil Gubernur Jawa Tengah itu bersama istrinya hadir di Thailand untuk memberikan dukungan kepada para siswa. Taj Yasin mengaku bersyukur karena prestasi delegasi Indonesia menunjukkan perkembangan positif dibandingkan tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah kita bersyukur. Yang pertama Indonesia ada kemajuan,” kata Taj Yasin.
Menurutnya, peningkatan prestasi tersebut menjadi sinyal positif bagi pengembangan kemampuan teknologi dan keterampilan anak-anak Indonesia. Ia juga mengapresiasi semakin banyak sekolah dari Indonesia, termasuk Jawa Tengah, yang berani mengikuti kompetisi tingkat internasional.
Tahun Pertama Ikut Kompetisi Internasional, Langsung Raih Penghargaan
Bagi SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang, capaian di Thailand menjadi pencapaian istimewa karena merupakan pengalaman pertama sekolah mengikuti program keterampilan bertaraf internasional tersebut. Empat siswa yang menjadi delegasi semuanya berhasil membawa pulang penghargaan.
Taj Yasin menilai pencapaian tersebut menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan diri siswa sekaligus mendorong sekolah terus mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi.
Ia berharap kemampuan coding anak-anak Jawa Tengah dapat terus diperkuat, terutama karena materi coding kini mulai dikenalkan di berbagai jenjang pendidikan.
Coding Tak Sekadar Belajar Teknologi
Menurut Taj Yasin, pembelajaran coding memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar mengajarkan anak mengoperasikan teknologi. Coding dapat melatih pola berpikir, kemampuan memecahkan persoalan, ketelitian, kreativitas, hingga kemampuan bekerja sama. Karena itu, ia mendorong pengembangan pembelajaran coding sejak usia dini.
Program pengenalan coding bahkan telah mulai diperluas ke jenjang pendidikan anak usia dini melalui berbagai kolaborasi pembelajaran. Harapannya, anak-anak Jawa Tengah tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami dan menciptakan solusi berbasis teknologi.
YPKPI Siapkan Program Pengembangan Talenta Anak
Ketua Umum Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI), KH Ahmad Daroji, turut memberikan apresiasi terhadap capaian siswa SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang. Kompetisi internasional seperti WGM memberikan pengalaman berharga karena anak-anak belajar menghadapi tantangan bersama.
Tidak hanya kemampuan teknis, peserta juga dituntut membangun kekompakan, kreativitas, tanggung jawab, serta kemampuan berkomunikasi dengan peserta dari negara lain.
Ia menyebut pengalaman seperti itu penting untuk menyiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi sekaligus kemampuan beradaptasi.
YPKPI, lanjut Ahmad Daroji, berencana mengembangkan program yang dapat mendukung kemampuan anak-anak di bidang teknologi dan keterampilan masa depan. Bahkan, pihaknya berharap Jawa Tengah dapat menjadi tuan rumah kegiatan serupa pada 2027.
SD Isriati Kembangkan Coding Sejak Kelas 1
Wakil Kepala SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang, Falik Rusdayanto, mengatakan prestasi di Thailand tidak akan berhenti pada satu kompetisi. Para siswa akan terus mendapatkan pembinaan dan diarahkan mengikuti level kompetisi sesuai perkembangan kemampuan dan jenjang pendidikan.
Siswa yang kini mengikuti kategori junior akan terus dibina hingga kelas 5 dan 6. Dengan pembinaan berkelanjutan, sekolah berharap kemampuan mereka semakin matang ketika menghadapi kompetisi tingkat internasional berikutnya.
Falik menjelaskan, pembelajaran coding di SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang telah diterapkan mulai kelas 1 hingga kelas 6.
Program tersebut telah berjalan selama sekitar empat tahun. Awalnya, pembelajaran dikembangkan dari materi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kemudian disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pendidikan.
Sekolah bahkan mulai mengenalkan logika coding kepada siswa TK melalui pendekatan bermain yang disesuaikan dengan usia anak.
Prestasi di Thailand Jadi Awal Pengembangan Talenta Digital
Prestasi empat siswa SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang di Thailand menunjukkan bahwa kemampuan teknologi dan coding dapat dikenalkan kepada anak sejak usia sekolah dasar.
Bagi Tahani, Abrisam, Rasykhan, dan Alvaro, penghargaan yang diraih bukan hanya menjadi pencapaian pribadi. Prestasi tersebut juga menjadi pengalaman internasional yang dapat menjadi bekal untuk menghadapi kompetisi dan tantangan teknologi pada masa mendatang.
Dengan pembinaan yang berkelanjutan, dukungan keluarga, sekolah, pemerintah, dan lembaga pendidikan, talenta-talenta muda Jawa Tengah di bidang coding diharapkan semakin berkembang.
Dari ruang kelas hingga panggung kompetisi internasional, kemampuan coding kini bukan lagi sekadar pelajaran tambahan, tetapi mulai menjadi salah satu bekal penting generasi muda menghadapi masa depan.
