Stula PKA VII Jateng Kaji Inovasi Visiting Jogja dan Pengembangan Desa Wisata

Soleh Ismail
5 Min Read
Jateng belajar digitalisasi pariwisata dan desa wisata ke Yogyakarta. (dok. Pemprov Jateng)

MERCUSUARNEWS.CO — Pengembangan desa wisata berbasis digital menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Melalui Studi Lapangan (Stula) Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan VII Tahun 2026, Pemprov Jateng mempelajari inovasi pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya pemanfaatan platform Visiting Jogja dan kolaborasi pentahelix dalam mengembangkan desa wisata.

Kegiatan yang digelar di Dinas Pariwisata DIY, Rabu (9/9/2026), tersebut menjadi ajang studi komparasi bagi para pejabat administrator peserta PKA VII untuk melihat langsung praktik pengelolaan destinasi, promosi pariwisata, hingga penguatan ekonomi kreatif.

Pemprov Jateng Dorong Kolaborasi Pariwisata Lintas Daerah

Stula PKA VII BPSDMD Provinsi Jawa Tengah didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jateng, Hanung Triyono.

Menurut Hanung, Jateng memiliki banyak program pariwisata yang sejalan dengan DIY. Namun, terdapat sejumlah praktik yang dinilai dapat menjadi bahan kaji tiru, terutama dalam pengembangan desa wisata dan destinasi unggulan.

“Program kita sebenarnya banyak yang sama, tetapi ada hal-hal yang perlu kita kaji tiru, seperti pengembangan desa wisata dan destinasi pariwisata,” kata Hanung.

Ia menilai pengembangan pariwisata tidak lagi cukup dilakukan secara sektoral. Kolaborasi harus dibangun lintas wilayah, mulai dari desa, kabupaten/kota, provinsi hingga tingkat nasional.

Konsep beyond border atau kerja sama melampaui batas administratif juga dinilai penting untuk meningkatkan daya tarik destinasi sekaligus memperpanjang masa tinggal wisatawan.

Hanung menyebut rata-rata lama tinggal wisatawan di DIY telah mencapai sekitar 1,5 hari. Sementara Jawa Tengah masih berada di kisaran 1,2 hingga 1,3 hari.

“Kolaborasi ini tidak hanya di internal Jawa Tengah, tetapi juga dengan provinsi tetangga seperti DIY. Kaji tiru dan kerja sama pariwisata ini sangat berguna untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata secara bersama-sama,” ujarnya.

Visiting Jogja Jadi Contoh Digitalisasi Pariwisata

Kepala Dinas Pariwisata DIY Eling Priswanto menyambut baik kunjungan peserta PKA VII Jateng. Menurutnya, kedekatan geografis antara Jateng dan DIY menjadi modal penting untuk membangun ekosistem pariwisata bersama.

Ia mencontohkan kawasan Borobudur dan Prambanan yang memiliki keterkaitan kuat sebagai destinasi wisata lintas wilayah.

“Tidak perlu kita pertentangkan atau berebut, tetapi saling menguatkan. Wisatawan yang ke Yogya bisa mampir ke Jawa Tengah, begitu pula sebaliknya,” jelas Eling.

Menurut dia, konektivitas transportasi yang semakin baik, termasuk pembangunan infrastruktur jalan tol Jateng-DIY, membuat mobilitas wisatawan antardaerah semakin mudah.

Dalam pengembangan pariwisata, DIY memanfaatkan platform Visiting Jogja untuk memperkuat promosi destinasi, kebudayaan, agenda wisata, sekaligus mendukung digitalisasi layanan pariwisata.

Platform tersebut juga menjadi salah satu instrumen untuk memperkenalkan ratusan desa wisata di DIY yang memiliki karakter dan potensi lokal berbeda.

Pentahelix Perkuat Ekosistem Desa Wisata

Eling menilai digitalisasi harus berjalan beriringan dengan kolaborasi multisektor. Pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat perlu terlibat dalam membangun ekosistem pariwisata.

“Guna memajukan pariwisata, kunci utamanya adalah sinergi, kolaborasi multisektor, dan penerapan konsep pentahelix dengan melibatkan media massa,” ujarnya.

Digitalisasi, lanjut Eling, bukan berarti menghilangkan kearifan lokal. Sebaliknya, teknologi dapat digunakan untuk memperluas jangkauan promosi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi potensi desa.

Peserta PKA Pelajari Tata Kelola Berbasis Data

Ketua Kelompok sekaligus perwakilan peserta Stula PKA VII, Anton Asfihani, mengatakan kunjungan tersebut memberikan gambaran langsung mengenai pengelolaan promosi destinasi dan event pariwisata.

Anton yang juga Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Jateng menyebut peserta mempelajari pemanfaatan Visiting Jogja sebagai media promosi sekaligus pendukung pengumpulan data.

“Melalui studi lapangan ini, kami membedah bagaimana Dinas Pariwisata DIY memanfaatkan aplikasi Visiting Jogja sebagai sarana promosi event dan destinasi secara komprehensif, sekaligus instrumen pengumpulan data publik berbasis evidence-based policy,” katanya.

Menurut Anton, praktik kolaborasi pentahelix dalam pengembangan desa wisata juga menjadi pembelajaran penting. Potensi budaya dan kearifan lokal dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai tambah.

Hasil studi komparasi tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi peserta PKA VII untuk mengembangkan inovasi di lingkungan kerja masing-masing.

Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada kaji tiru, tetapi dapat diterapkan dalam bentuk inovasi layanan publik yang lebih efektif, terukur, dan berorientasi pada outcome di Jawa Tengah.

Share This Article