Kupat Landan Klampok Terancam Punah, Ini Upaya dari Pemdes

Tahmid Musyafa
4 Min Read
Kupat landan Klampok, kuliner warisan leluhur yang terancam kehilangan generasi. (dok. mercusuarnews.co)

MERCUSUARNEWS.CO – Kupat Landan yang merupakan warisan kuliner leluhur di Desa Klampok, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, menghadapi tantangan pelestarian.

Kupat Landan Klampok, makanan tradisional bercita rasa gurih dengan warna kemerahan khas, kini hanya dibuat oleh sekitar lima hingga enam orang yang sebagian besar telah berusia lanjut.

Pemerintah Desa Klampok bersama masyarakat berupaya menjaga keberadaan kuliner tersebut melalui festival, promosi, dan pengembangan potensi ekonomi lokal.

Kupat Landan memiliki karakter berbeda dari ketupat pada umumnya. Proses pengolahan tradisional menghasilkan warna merah kecokelatan, tekstur pulen dan kenyal, serta cita rasa gurih yang khas.

Kupat Landan Dibuat dengan Air Abu Pelepah Kelapa

Kepala Desa Klampok, Agus Supriyono, mengatakan proses pembuatan Kupat Landan masih mempertahankan cara yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu cirinya adalah penggunaan air abu dari pembakaran pelepah kelapa. Abu tersebut dicampur air, kemudian disaring sebelum digunakan untuk merebus beras yang telah dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa.

Kupat kemudian dimasak menggunakan tungku tradisional dengan kayu bakar selama sekitar tiga jam hingga matang.

“Warna merahnya berasal dari campuran air abu yang digunakan saat menanak kupat. Kupat ini juga masih enak dikonsumsi dan bisa bertahan sampai tiga sampai empat hari,” kata Agus.

Menurutnya, karakter khas tersebut menjadi salah satu alasan Kupat Landan perlu dipertahankan sebagai bagian dari identitas Desa Klampok.

“Harapan kami, kupat landan ini makin dikenal masyarakat luas, menumbuhkan minat UMKM serta menginspirasi generasi muda untuk ikut melestarikan identitas lokal Desa Klampok,” ujarnya.

Regenerasi Pembuat Jadi Tantangan

Keterampilan membuat Kupat Landan selama ini lebih banyak diwariskan melalui keluarga. Namun, proses pembuatan yang cukup lama dan membutuhkan penanganan khusus membuat keberlanjutan kuliner ini menghadapi tantangan.

Agus mengatakan saat ini hanya sekitar lima hingga enam pembuat yang masih aktif, dengan sebagian besar sudah berusia lanjut.

“Kendalanya memang regenerasi. Jumlah pembuat kupat landan aktif kini hanya tersisa sekitar lima sampai enam orang yang rata-rata sudah berusia lanjut,” ujarnya.

Salah satu pembuat yang masih bertahan adalah Mbah Repi, 71 tahun, warga Dusun Purwasari. Ia mewarisi resep dan keterampilan membuat Kupat Landan dari keluarganya.

Dalam sehari, Mbah Repi mampu membuat sekitar 30 buah Kupat Landan sambil berjualan pecel. Produksinya meningkat ketika menerima pesanan untuk acara ngapati, mitoni, hajatan, Lebaran, maupun Festival Kupat Landan dan Tahu Kiringin.

Festival Jadi Upaya Kenalkan Kupat Landan

Pemerintah Desa Klampok bersama masyarakat rutin menggelar Festival Kupat Landan dan Tahu Kiringin sebagai sarana memperkenalkan kuliner tradisional tersebut kepada masyarakat, termasuk generasi muda.

Selain menjadi media promosi, festival diharapkan membuka peluang ekonomi bagi UMKM sekaligus menumbuhkan ketertarikan generasi muda untuk mempelajari pembuatan Kupat Landan.

Agus mengatakan pemerintah desa juga tengah mengupayakan agar Kupat Landan dapat didorong menjadi warisan budaya tak benda.

“Karena dengan kita mempromosikan kupat landan ini diharapkan nanti ada generasi-generasi penerus yang bisa melanjutkan proses pembuatannya agar tidak punah. Kita juga sedang berupaya mendorong kupat landan menjadi warisan budaya tak benda,” katanya.

Upaya tersebut diharapkan membuat Kupat Landan Klampok tidak berhenti sebagai kuliner warisan leluhur, tetapi berkembang menjadi identitas kuliner sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat Desa Klampok.

Share This Article