Ubah Zona Rawan Narkoba Jadi Pusat Ekonomi, BNN Gulirkan Program Pemberdayaan Masyarakat

Burhanuddin
3 Min Read
Rapat Kerja Sinergi Stakeholder Kawasan Rawan Narkoba yang digelar secara virtual dari Gedung Tan Satrisna BNN, Cawang, Jakarta Timur.(Foto: bnn.go.id)

MERCUSUARNEWS.CO – Badan Narkotika Nasional (BNN) terus memperluas jangkauan pemulihan kawasan rawan narkoba di Indonesia. Setelah sebelumnya memperkuat sinergi di Jawa Barat, BNN kini membidik Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), tepatnya di Kecamatan Jerowaru, melalui program pemberdayaan alternatif berbasis potensi lokal.

​Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui Rapat Kerja Sinergi Stakeholder Kawasan Rawan Narkoba yang digelar secara virtual dari Gedung Tan Satrisna BNN, Cawang, Jakarta Timur. Forum ini menjadi sarana konsolidasi lintas sektor untuk menyamakan persepsi dan menyusun langkah bersama dalam membebaskan masyarakat dari cengkeraman jaringan narkotika.

​Direktur Pemberdayaan Alternatif Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN, Edi Swasono, menegaskan bahwa strategi pemberantasan narkoba tidak bisa hanya bergantung pada upaya penindakan hukum, melainkan harus dibentengi dengan pendekatan pencegahan dan pemulihan ekonomi masyarakat.

​”Penanganan narkoba tidak cukup hanya melalui upaya penindakan, tetapi perlu diperkuat dengan pencegahan dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Edi Swasono dikutip dari laman bnn.go.id, Minggu (27/9/2026).

​Berdasarkan pemetaan BNN pada 2026, Provinsi NTB tercatat memiliki 104 kawasan rawan narkoba, dengan rincian 6 kawasan berstatus bahaya dan 98 berstatus waspada. Sementara itu, Kabupaten Lombok Timur menyumbang 13 desa/kelurahan rawan narkoba, terdiri atas 1 desa berstatus bahaya dan 12 desa berstatus waspada.

​Kecamatan Jerowaru menjadi salah satu wilayah prioritas intervensi BNN guna mengurai kerawanan tersebut melalui pengembangan potensi daerah menjadi kegiatan ekonomi yang legal, produktif, dan berkelanjutan.

​Hasil pemetaan potensi sumber daya alam dan manusia yang dilaksanakan pada Februari 2026 mengidentifikasi sejumlah sektor potensial di Lombok Timur. Di antaranya budi daya ikan air tawar, jasa perbengkelan dan pengelasan, pengelolaan wisata mangrove, hingga pengembangan UMKM berbasis pengolahan hasil laut, produk pertanian, kerajinan, kuliner lokal, dan produk wisata.

​Sebagai langkah konkret, BNN merancang tahap lanjutan berupa Bimbingan Teknis (Bimtek) Life Skill bagi warga setempat. Pelatihan keterampilan terapan ini ditujukan untuk membekali masyarakat dengan keahlian praktis agar mampu membuka peluang kerja baru maupun membangun usaha mandiri.

​Guna memastikan keberlanjutan program, BNN juga mendorong penguatan pendampingan kewirausahaan, perluasan akses pemasaran produk, dukungan sarana dan prasarana, serta penguatan regulasi daerah terkait Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

​Program terpadu ini menggalang kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, pemerintah desa, dunia usaha, akademisi, serta tokoh masyarakat, agama, dan pemuda. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mengubah kawasan yang semula rentan menjadi lingkungan yang mandiri, sejahtera, serta bersih dari narkoba.

Share This Article