Tahan Guncangan Geopolitik Global, Transaksi Mata Uang Lokal Indonesia Melonjak 259 Persen Tembus USD 42,07 Miliar

Burhanuddin
3 Min Read
Gelaran Central Banking Services Festival (CB Fest) 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta.(Foto: bi.go.id)

​MERCUSUARNEWS.CO – Di tengah meluasnya konektivitas ekonomi lintas negara dan eskalasi risiko geopolitik global, skema Local Currency Transaction (LCT) yang digagas Indonesia mencatatkan lonjakan tajam. Pada semester I 2026, nilai transaksi LCT berhasil menembus angka USD 42,07 miliar, meroket 259 persen secara year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 11,72 miliar.

​Capaian paruh pertama tahun ini bahkan telah melampaui total realisasi transaksi LCT sepanjang tahun 2025 yang mencatatkan angka USD 25,74 miliar. Perluasan LCT yang kini mencakup tujuh negara mitra—Malaysia, Thailand, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura—menjadi benteng krusial dalam memperkuat ketahanan eksternal serta menstabilkan nilai tukar Rupiah.

​Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Thomas A. M. Djiwandono, menegaskan bahwa meluasnya konektivitas keuangan internasional menuntut keandalan, efisiensi, dan keamanan layanan kebanksentralan.

​”Kredibilitas kebijakan perlu didukung oleh kredibilitas operasional,” ujar Thomas saat membuka gelaran Central Banking Services Festival (CB Fest) 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, dikutip dari laman bi.go.id, Selasa (29/9/2026).

​Menurut Thomas, keandalan operasional BI mencakup penyelesaian transaksi operasi moneter, pengelolaan cadangan devisa, kerja sama keuangan internasional, pengelolaan cadangan emas, hingga penatausahaan rekening dan utang luar negeri Pemerintah. Bagi industri keuangan, BI memastikan kelancaran penyelesaian transaksi surat berharga baik dalam denominator Rupiah maupun valuta asing.

​Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung soroti pentingnya membangun ketahanan ekonomi sebelum krisis terjadi. Ketahanan nasional, menurutnya, tidak hanya diukur dari kemampuan merespons gejolak, tetapi juga sejauh mana otoritas mampu menjaga kepercayaan publik melalui sinergi kebijakan.

​”Ketahanan perlu dibangun sebelum krisis melalui kebijakan yang kredibel, institusi yang kuat, tata kelola yang baik, adaptasi berkelanjutan, dan kerja sama. Sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan sangat diperlukan untuk merespons dinamika ekonomi dan pesatnya perkembangan teknologi,” kata Juda.

​Respons Strategis Terhadap Risiko Geopolitik

​Mengusung tema “Strengthening Financial Services Resilience Amid Escalating Geopolitical Risk to Support Economic Growth”, forum tahunan CB Fest 2026 menjadi wadah strategis bagi bank sentral, kementerian/lembaga, serta pelaku industri perbankan nasional dan internasional untuk merumuskan langkah mitigasi risiko.

​Rangkaian diskusi menghadirkan ragam perspektif, mulai dari pakar geopolitik Centre for Strategic and International Studies (CSIS), akademisi teknologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan University of Melbourne, hingga praktisi data-analitik dari Deloitte dan J.P. Morgan Asia Pacific.

​Para panelis menggarisbawahi bahwa tingginya ketidakpastian global mewajibkan otoritas keuangan menerapkan manajemen risiko yang adaptif. Salah satu sorotan utama adalah pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan Generative AI untuk mendorong efisiensi operasional dan pelaporan cerdas (intelligent reporting), tanpa mengabaikan aspek transparansi, akuntabilitas, serta tata kelola data.

​Melalui sinergi antarlembaga dan inovasi teknologi layanan kebanksentralan, CB Fest 2026 diharapkan dapat melahirkan rekomendasi kebijakan konkret untuk menjaga stabilitas sektor keuangan sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Share This Article