PDB Ekraf Tembus Rp1.757 Triliun Melampaui Target, Kemenekraf Dorong IP Jadi Mesin Devisa

Burhanuddin
3 Min Read
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menggelar Forum Redaksi & Aspirasi Media Ekraf (FRAME) untuk mempererat hubungan dengan insan media sekaligus menyelaraskan agenda kementerian dengan mandat Asta Cita di Jakarta.(Foto: ekraf.go.id)

​MERCUSUARNEWS.CO – Sektor ekonomi kreatif (ekraf) Indonesia mencatatkan kinerja impresif dengan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) menembus Rp1.757,87 triliun. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 6,86 persen, melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional (5,11 persen) sekaligus menembus target RPJMN 2025 hingga 124 persen.

​Untuk memperkuat pemahaman publik dan mempererat kolaborasi strategis, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) menggelar Forum Redaksi & Aspirasi Media Ekraf (FRAME) bertema “United in Ideas, Empowering The Creative Economy” di kawasan Senayan, Jakarta.

​Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menyampaikan bahwa forum ini menjadi pijakan penting untuk menyelaraskan agenda kementerian dengan mandat Asta Cita, khususnya dalam penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda dan penguatan kelas menengah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sektor ini mendominasi penyerapan tenaga kerja muda, yakni kelompok Millennial (36,63 persen) dan Gen Z (26,40 persen).

​”Acara ini bertujuan agar media dan Kementerian Ekraf semakin dekat, sekaligus mengenalkan lebih dalam penugasan yang diberikan kepada kementerian ini. Selaras dengan Asta Cita, ekraf berkontribusi langsung dalam membentangkan lapangan kerja bagi generasi muda dan menopang ekonomi kelas menengah,” ujar Teuku Riefky dikutip dari laman ekraf.go.id, Jumat (2/10/2026).

​Menatap panggung global, Teuku Riefky menegaskan pentingnya penguatan Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP) sebagai instrumen soft diplomacy sekaligus pendorong devisa negara.

​”Tidak hanya seni budaya yang kita bawa keluar, tetapi juga IP dari ekonomi kreatifnya supaya memberikan nilai ekonomi yang menambah devisa negara,” tegasnya.

​Sebagai langkah konkret, Indonesia dijadwalkan kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) pada tahun 2026. Forum tingkat dunia ini menargetkan lahirnya Jakarta Vision on Creative Economy serta mengarusutamakan agenda ekonomi kreatif dalam pembangunan global pasca-SDG 2030 melalui diplomasi dan kolaborasi internasional.

​Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menambahkan bahwa WCCE 2026 akan mengedepankan strategi desentralisasi lokasi dan pendekatan heksaheliks secara penuh. Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang menerapkan pendekatan heksaheliks secara utuh, memungkinkan para delegasi internasional menyaksikan secara langsung dinamika ekosistem kreatif nasional.

​”WCCE ini bertujuan membawa resolusi ke United Nations (PBB). Selain plenary meeting, juga akan ada G2G meeting tempat berkumpulnya pemangku kepentingan mulai dari pemerintah hingga pelaku bisnis,” katanya.

Inisiatif strategis ini mendapat apresiasi positif dari para pimpinan media nasional yang hadir. Wakil Pemimpin Redaksi TV One, Wahyu Kustyanto, menilai ekonomi kreatif memiliki potensi tanpa batas yang sangat layak dijadikan pilar utama pertumbuhan ekonomi masa depan.

​”Kreativitas itu tidak ada matinya, berbeda dengan sumber daya alam yang bisa habis. Pemerintah harus serius betul menggarap sektor ini,” tutur Wahyu.

​Sementara itu, Pemimpin Redaksi MDTV, Ponco Wijaya, memuji langkah pembinaan serta pola komunikasi cepat yang dibangun kementerian terhadap industri penyiaran dan film tanah air.

Share This Article