GTR Ultra 2026: 900 Pelari Tantang 3 Gunung, Gerakkan Ekonomi Warga Hingga Rp4,5 Miliar

Akmil Musyafa
5 Min Read
GTR Ultra 2026 di Kabupaten Semarang diikuti sekitar 900 pelari dari 7 negara. Menantang 3 gunung, event ini diperkirakan menggerakkan ekonomi desa hingga Rp4,5 miliar. (dok. panitia)

MERCUSUARNEWS.CO – Sekitar 900 pelari dari tujuh negara menaklukkan jalur ekstrem tiga gunung dalam Gajah Trail Run (GTR) Ultra 2026 di Kabupaten Semarang, Minggu (27/9/2026). Selain menjadi ajang olahraga trail, event tersebut diperkirakan menggerakkan belanja hingga Rp4,5 miliar di kawasan desa penyelenggara.

GTR Ultra 2026 berlangsung di Dusun Kayuwangi, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru. Peserta harus melewati kawasan Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, dan Gunung Kendil dengan karakter medan dan tingkat elevasi yang berbeda.

Event yang memasuki tahun keempat itu mempertandingkan empat kategori, yakni 7 kilometer, 12 kilometer, 30 kilometer, dan 52 kilometer.

900 Pelari Tantang Tiga Gunung

Race Director GTR Ultra 2026, Sri Agus Budi Santoso, mengatakan jumlah peserta tahun ini meningkat sekitar 200 orang dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang diikuti sekitar 700 pelari.

“Gajah Trail Run Ultra 2026 ini pelaksanaan tahun keempat dengan kategori yang masih sama ada 7, 12, 30, 52 (KM),” kata Agus.

Kategori 52 kilometer menjadi tantangan terberat dengan total elevasi sekitar 3.000 meter. Sementara kategori 30 kilometer memiliki elevasi sekitar 2.000 meter, 12 kilometer sekitar 800 meter, dan 7 kilometer sekitar 400 meter.

Rute 52 kilometer tahun ini mengalami penyesuaian. Namun, peserta tetap dibawa menuju kawasan puncak Gunung Telomoyo dan melintasi tiga gunung.

Tak hanya menghadapi tanjakan dan turunan, peserta juga mendapat panorama Gunung Telomoyo, Gunung Kendil, Gunung Gajah hingga pemandangan Kota Salatiga dari ketinggian.

Peserta GTR Ultra 2026 Datang dari 7 Negara

Cakupan peserta GTR Ultra juga semakin luas. Tahun ini pelari datang dari tujuh negara, termasuk Selandia Baru, Prancis, Amerika Serikat, dan Inggris.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang diikuti peserta dari sekitar empat negara.

Menurut Agus, pertumbuhan peserta sekaligus memperluas dampak event terhadap aktivitas masyarakat di sekitar lokasi lomba.

Homestay Warga Ikut Kebagian Dampak Ekonomi

Kehadiran ratusan peserta membuat akomodasi di sekitar Kayuwangi ikut bergerak. Keterbatasan hotel membuat sejumlah rumah warga dimanfaatkan sebagai homestay.

“Tentunya dengan jumlah peserta ini yang stay di sekitaran warga ini lumayan banyak. Karena memang tantangannya di desa sini adalah hotel masih belum begitu banyak,” jelas Agus.

Pengeluaran peserta tidak hanya untuk biaya pendaftaran, tetapi juga akomodasi, konsumsi, transportasi dan aktivitas wisata.

Penyelenggara memperkirakan rata-rata pengeluaran peserta mencapai sekitar Rp5 juta. Dengan sekitar 900 peserta, potensi perputaran belanja selama event diperkirakan mencapai Rp4,5 miliar.

“Kalau kita hitung rata-rata peserta itu spending-nya Rp5 juta, sudah termasuk pendaftaran. Rp5 juta kali 900 peserta berarti sekitar Rp4,5 miliar,” katanya.

Peserta Sekalian Wisata di Semarang dan Salatiga

Dampak event juga terlihat dari peserta yang memilih memperpanjang masa tinggal setelah perlombaan.

Salah satunya Rimba Simanjuntak, peserta kategori 52 kilometer asal Jakarta. Ia datang bersama lima rekannya dan menjadikan GTR Ultra 2026 sebagai pengalaman pertamanya mengikuti lomba trail sepanjang 52 kilometer.

“Ini kebetulan sama teman-teman kita mengikuti trail run, GTR ini. Dan kebetulan kami sama-sama ngambil yang kategori 52 km. Ini pertama kali, virgin trail lah di 52,” ujarnya.

Rimba mengaku mempersiapkan diri selama sekitar lima bulan. Ia tiba dua hari sebelum perlombaan dan berencana tinggal sekitar dua malam setelah lomba untuk bersilaturahmi dengan keluarga di Salatiga sekaligus berwisata di Semarang, Salatiga dan sekitarnya.

Ia bahkan sempat mencari homestay milik warga agar dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat. Namun, seluruh homestay yang dicarinya telah penuh.

“Penuh semua, sebetulnya homestay ini kan menarik buat anak-anak bersosialisasi seperti living lah, cuma penuh,” katanya.

Rimba juga mengapresiasi antusiasme warga yang memberikan dukungan kepada peserta sepanjang lintasan.

“Wah, itu ramai memang. Sudah mirip-mirip 17-an Agustus. Mereka antusias menyambut kita dan mengarahkan,” ujarnya.

Peserta Diminta Utamakan Keselamatan

Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Jawa Tengah, Anton Asfihani, mengingatkan peserta agar tidak hanya mengejar catatan waktu, tetapi juga memperhatikan kondisi tubuh selama berada di lintasan.

Pesan tersebut disampaikan saat flag off kategori 52 kilometer mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Taj Yasin dan Sekda Jawa Tengah Sumarno.

“Prepare yourself well. Persiapkan diri kalian sebaik mungkin,” kata Anton.

Ia meminta peserta tidak memaksakan diri ketika tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

“Alarm di tubuh itu adalah kode alam yang harus kita ikuti. Start happy, finish safety,” ujarnya.

GTR Ultra 2026 diselenggarakan Escape Nice bersama Karang Taruna setempat. Event tersebut tercatat di International Trail Running Association (ITRA) dan berafiliasi dengan UTMB atau Ultra-Trail du Mont-Blanc.

Dengan menggabungkan olahraga, wisata alam, dan keterlibatan masyarakat lokal, GTR Ultra 2026 turut membuka ruang bagi desa sekitar untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari kedatangan peserta dan wisatawan.

Share This Article