MERCUSUARNEWS.CO – Tangis keluarga pecah saat jenazah Maolana Purwa Wibowo (18), warga Desa Danasri Kidul, Kecamatan Nusawungu, Cilacap, tiba di rumah duka. Maolana merupakan salah satu korban kecelakaan kapal Virgo Transport 8 di perairan Kalimantan Selatan.
Tim SAR menemukan dan mengidentifikasi jenazah Maolana sebelum memulangkannya kepada keluarga. Peti jenazah tiba di rumah orang tua korban pada Selasa (29/9/2026) sekitar pukul 10.49 WIB.
Keluarga dan kerabat langsung menyambut kedatangan jenazah dengan suasana haru. Sekitar pukul 11.21 WIB, keluarga membawa jenazah menuju tempat pemakaman umum (TPU) untuk proses pemakaman.
Maolana merupakan putra sulung pasangan Mukholidin (44) dan Umi Salamah. Keluarga mengantarkan pemuda berusia 18 tahun itu ke peristirahatan terakhir setelah beberapa hari menunggu kepastian mengenai nasibnya.
Jenazah Maolana Teridentifikasi dari Barang Bawaan
Tim SAR menemukan sejumlah barang pada tubuh Maolana saat melakukan evakuasi dari KM Virgo Transport 8. Petugas menemukan dompet berisi uang tunai Rp 13 ribu, kartu identitas Maolana, KTP milik neneknya, serta telepon seluler.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan kemudian melakukan proses identifikasi. Hasil pemeriksaan memastikan Maolana menjadi salah satu korban yang berhasil teridentifikasi pada Senin (28/9).
Kabar tersebut sekaligus mengakhiri penantian keluarga yang terus mencari kepastian mengenai keberadaan Maolana sejak kapal mengalami kecelakaan.
Sang ayah, Mukholidin, mengenang momen terakhir bersama anak sulungnya. Ia mengatakan sempat bertemu Maolana pada malam sebelum anaknya berangkat menuju Kalimantan untuk mencari pekerjaan.
“Waktu mau berangkat pamitan, sekitar jam 11 malam saya ke sini, itu pertemuan terakhir. Saya cuma merestui kepergiannya, mau bekerja di Kalimantan,” kata Mukholidin.
Mukholidin mengaku memberikan sejumlah pesan kepada anaknya sebelum keberangkatan. Ia meminta Maolana menjaga diri selama perjalanan.
“Saya cuma nasihatin, hati-hati di jalan, yang kuat, yang kuat, yang kuat saya bilang begitu. Harus tabah, sabar di jalan, nggak boleh bikin salah,” ujarnya.
Ayah Maolana Sempat Merasa Tak Tenang
Mukholidin mengatakan dirinya merasa tidak tenang sejak Maolana meninggalkan rumah. Ia mengaku beberapa kali merasa pikirannya tertuju kepada anak sulungnya tersebut.
Keluarga kemudian menerima kabar mengenai kecelakaan kapal pada Minggu (14/9/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Seorang kerabat menyampaikan informasi tersebut kepada Mukholidin.
“Setelah itu nggak komunikasi karena dia tidak bawa HP. Dikasih HP waktu di Surabaya waktu mau naik kapal, itu kemungkinan belum sempat pasang kartu jadi belum komunikasi,” tuturnya.
“Sememenjak dia pergi, saya juga tidur tidak tenang, seperti terasa mau terjadi sesuatu. Pas dikabari hari Minggu, saya langsung ke rumah Pak Romelan,” sambung Mukholidin.
Berangkat ke Kalimantan untuk Membantu Orang Tua
Maolana berangkat ke Kalimantan bersama lima warga lainnya. Mereka hendak mencari pekerjaan di perkebunan kelapa sawit, termasuk mengerjakan pembersihan lahan sebelum proses penanaman.
Rombongan tersebut berangkat atas ajakan Ramlan, warga Nusawungu yang sampai kini juga belum ditemukan setelah kecelakaan kapal.
“Rombongannya ikut Pak Ramlan yang saat ini belum ketemu. Yang empat alhamdulillah selamat. Dari empat ini, tiga sudah pulang dan satu masih di Banjarmasin dengan kakeknya,” ujar Mukholidin.
Tiga warga yang selamat kemudian kembali ke Cilacap. Mereka juga sempat mendatangi rumah keluarga Maolana untuk bersilaturahmi sekaligus menceritakan kondisi perjalanan rombongan.
Menurut Mukholidin, Maolana selama ini terbiasa bekerja untuk membantu keluarganya. Ia mengaku anaknya memiliki keinginan untuk mendapatkan penghasilan meski belum memiliki banyak pengalaman bekerja di luar daerah.
“Biasanya kerja di sekitar sini saja, apa saja yang penting bisa menghasilkan. Ini baru kali-kali mau kerja ke luar,” katanya.
Mukholidin sebelumnya sempat meminta Maolana menunda keberangkatan. Ia mempertimbangkan kondisi fisik anaknya dan pengalaman Maolana yang belum pernah bekerja jauh dari kampung halaman.
Namun, tekad Maolana untuk membantu keluarga akhirnya membuat Mukholidin memberikan izin.
“Saya bilang nanti saja nunggu fisiknya kuat, belum punya pengalaman. Tapi mungkin dia nggak bisa menahan m⁷embantu orang tua, jadi saya mengizinkan,” pungkasnya.
