MERCUSUARNEWS.CO — Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat tradisi dengan menggelar pagelaran wayang kulit di kediamannya, Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar.
Mengangkat lakon Songsong Tunggul Naga, pertunjukan ini menampilkan Dalang Ki Darmadi dari Paguyuban Dalang Karanganyar sebagai wujud nyata ruang pelestarian budaya Jawa.
Sumanto menegaskan bahwa seni wayang kulit tidak sekadar tontonan visual, melainkan media tuntunan yang kaya akan filosofi dan pesan moral kehidupan. Penyelenggaraan rutin ini ditujukan untuk memberikan panggung berkarya bagi para seniman lokal sekaligus mengenalkan budaya tradisi kepada generasi muda.
”Dalam setiap lakon ada cerita, filosofi, dan pesan moral yang bisa kita ambil untuk kehidupan sehari-hari. Saya ingin kegiatan seperti ini terus berjalan dan menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya Jawa agar tidak kehilangan penonton maupun penerus,” ujar Sumanto.
Dalam pementasannya, Ki Darmadi membawakan lakon Songsong Tunggul Naga yang mengisahkan perebutan pusaka kahyangan—sebuah simbol kekuasaan, kewajiban, dan kepemimpinan yang berpihak pada rakyat.
Lakon ini menggambarkan bagaimana para ksatria mengembalikan keseimbangan moral dan alam semesta melalui laku spiritual serta prinsip kepemimpinan yang benar.
Menurut Ki Darmadi, cerita tersebut menjadi bahan renungan mengenai cara bersikap, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab.
Konsistensi Sumanto mendapat apresiasi tinggi dari para pelaku seni. Ki Waluyo Noto Carito dari Paguyuban Dalang Karanganyar mencatat bahwa Sumanto telah 34 kali menggelar pertunjukan wayang kulit bersama dalang lokal.
Atas dedikasinya—termasuk rekor menggelar pentas maraton 36 jam dan 28 jam nonstop pada peringatan Hari Wayang—Sumanto bahkan dinobatkan sebagai “Bapaknya Wayang Kabupaten Karanganyar”.
Apresiasi senada disampaikan Sekretaris Desa Suruh, Aan Andrianto. Ia mengimbau masyarakat untuk memetik pelajaran moral dari karakter pewayangan, seperti meneladani keteladanan Arjuna, Werkudara, dan Kresna, serta menjauhi sifat buruk tokoh Sengkuni.
Lewat sinergi antara pejabat, seniman, dan warga, pagelaran ini sukses menjadi wadah silaturahmi sekaligus benteng pertahanan tradisi pedalangan di Karanganyar.
