Pemprov Jateng Uji Bata Interlock untuk Rumah Bantuan, Biaya Hemat Rp30 Juta dan Lebih Cepat Dibangun

Akmil Musyafa
5 Min Read
Wakil Gubernur Gus Yasin saat meresmikan rumah bantuan dengan menggunakan bata interlock di Wonogiri. (dok. Pemprov Jateng)

WONOGIRI-Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai menguji teknologi bata interlock untuk mempercepat pembangunan rumah sekaligus menekan biaya. Inovasi tersebut diterapkan pada pembangunan rumah bantuan bagi warga di Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Rumah berukuran 30 meter persegi itu diresmikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Kamis (13/8/2026).

Uji coba bata interlock dilakukan Pemprov Jateng bekerja sama dengan PT Semen Indonesia (Persero). Teknologi tersebut diharapkan menjadi alternatif konstruksi untuk program bantuan rumah pemerintah, khususnya dalam upaya mempercepat penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Taj Yasin mengatakan, hasil uji coba menunjukkan adanya potensi efisiensi yang cukup signifikan, baik dari sisi anggaran maupun waktu pengerjaan.

“Kalau dihitung oleh tukang, biasanya satu meter persegi itu Rp3 juta. Berarti kalau 30 meter persegi habisnya Rp90 juta. Tetapi alhamdulillah pembangunan ini kita biayai dengan angka Rp60 juta,” kata Gus Yasin.

Rumah Rp60 Juta Bisa Dibangun dalam 1,5 Bulan

Selain menekan biaya, penggunaan bata interlock juga dinilai mampu mempercepat proses pembangunan rumah.

Rumah bantuan di Desa Jaten tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu setengah bulan. Durasi itu menjadi salah satu pertimbangan Pemprov Jateng untuk menguji teknologi tersebut dalam program pembangunan rumah bantuan.

Menurut Taj Yasin, efisiensi konstruksi menjadi penting karena pemerintah tidak hanya dituntut menambah jumlah rumah, tetapi juga memastikan anggaran bantuan dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Ini yang kita dorong untuk pemakaian, pengaplikasian khususnya untuk bantuan-bantuan rumah dari Pemprov Jawa Tengah,” ujarnya.

Dengan biaya yang lebih efisien, anggaran pemerintah diharapkan dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat tanpa mengurangi tujuan utama, yakni menyediakan hunian yang layak.

Pemprov Jateng Baru Uji Coba pada Dua Rumah

Penerapan bata interlock dalam program rumah bantuan ini masih berada pada tahap uji coba. Untuk sementara, teknologi tersebut baru digunakan pada dua unit rumah.

Pemprov Jawa Tengah akan mengevaluasi hasil pembangunan, termasuk efektivitas penggunaan material, kualitas bangunan, biaya, serta waktu pengerjaan sebelum memutuskan penerapan yang lebih luas.

Jika hasil evaluasi menunjukkan kinerja yang baik, teknologi bata interlock berpotensi digunakan dalam pembangunan rumah bantuan di wilayah Jawa Tengah lainnya.

Taj Yasin berharap inovasi tersebut tidak hanya berhenti di tingkat pemerintah provinsi.

Menurutnya, pemerintah kabupaten dan kota maupun pemerintah pusat dapat mempertimbangkan teknologi konstruksi yang mampu membuat pembangunan rumah lebih terjangkau.

“Harapannya, inovasi seperti ini juga bisa diterapkan pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah pusat, sehingga pembangunan rumah layak huni dapat dilakukan dengan biaya yang lebih ringan dan tidak semakin membebani penerima manfaat,” katanya.

5.111 Rumah Tidak Layak Huni Jadi Sasaran Intervensi Jateng

Penggunaan teknologi konstruksi baru tersebut menjadi bagian dari strategi Pemprov Jawa Tengah dalam mengatasi persoalan perumahan.

Pada 2026, intervensi melalui APBD Jawa Tengah diarahkan untuk meningkatkan kualitas 5.111 rumah tidak layak huni (RTLH) yang tersebar di 35 kabupaten/kota.

Kabupaten Wonogiri mendapatkan alokasi peningkatan kualitas sebanyak 235 unit rumah.

Selain meningkatkan kualitas rumah yang telah ada, Pemprov Jateng juga menyiapkan pembangunan rumah baru sebagai bagian dari upaya mengurangi backlog atau kekurangan kebutuhan hunian.

Total terdapat 120 unit rumah baru yang dialokasikan untuk penanganan backlog perumahan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 unit berada di Kabupaten Wonogiri.

Buruh Tani Kini Punya Rumah Layak untuk Keluarga

Salah satu penerima bantuan pembangunan rumah baru adalah Isnano Dalhari Nuryanto, warga Desa Jaten, Kecamatan Selogiri.

Sehari-hari Isnano bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Penghasilan tersebut harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan dua anaknya.

Sebelum mendapatkan bantuan, Isnano dan keluarganya masih tinggal dengan menumpang.

Kini, kondisi tersebut berubah. Rumah bantuan yang sebelumnya hanya menjadi harapan telah berdiri dan siap ditempati.

Bagi Isnano, rumah tersebut bukan sekadar bangunan baru. Hunian itu menjadi ruang bagi keluarganya untuk menjalani kehidupan dengan kondisi yang lebih layak dan nyaman.

“Layak banget (rumahnya),” pungkas Isnano.

Teknologi Konstruksi Jadi Alternatif Percepat Penyediaan Hunian

Uji coba bata interlock menunjukkan bahwa inovasi teknologi konstruksi dapat menjadi salah satu alternatif dalam mempercepat penyediaan rumah layak huni.

Ketika biaya pembangunan dapat ditekan dan waktu pengerjaan dipersingkat, pemerintah memiliki peluang untuk memperluas jangkauan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penanganan backlog perumahan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan rumah dalam jumlah besar. Efisiensi teknologi, kolaborasi dengan dunia usaha, serta ketepatan sasaran bantuan juga menjadi bagian penting dari strategi penyediaan hunian yang terjangkau.

Pemprov Jawa Tengah kini menunggu hasil evaluasi dua rumah yang menjadi proyek percontohan sebelum menentukan langkah selanjutnya dalam penerapan bata interlock pada program rumah bantuan.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *