Lahir dari Perjuangan Pangeran Diponegoro, Tradisi Keilmuan Pesantren Watucongol Tetap Terjaga

Akmil Musyafa
5 Min Read
Wagub Taj Yasin saat menghadiri akhirssanah Pondo Pesantren Watucongol Magelang. (dok. Pemprov Jateng)

MAGELANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengapresiasi keberlanjutan tradisi membaca Al-Qur’an dan Dalailul Khairat di Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Magelang, sebagai warisan keilmuan yang telah bertahan selama lebih dari dua abad.

Tradisi keilmuan di Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Kabupaten Magelang, ini terus bertahan melewati perubahan zaman. Pesantren yang lahir dari lingkungan perjuangan melawan kolonialisme sekitar dua abad silam itu hingga kini masih menjaga amalan keagamaan yang diwariskan para pendahulunya.

Ia menilai konsistensi pesantren dalam menjaga pendidikan agama dan amalan keislaman menjadi salah satu kekuatan penting dalam mencetak generasi berilmu. Hal itu disampaikan Taj Yasin saat menghadiri Haflah Akhirussanah ke-8 Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, Muntilan, Kabupaten Magelang, Sabtu (15/8/2026).

Watucongol, Pesantren yang Berakar dari Perjuangan

Pondok Pesantren Darussalam Watucongol memiliki sejarah panjang. Pesantren tersebut didirikan oleh Kiai Abdurrauf bin Hasan Tuqa sekitar tahun 1820.

Selain dikenal sebagai ulama, Kiai Abdurrauf juga tercatat sebagai salah satu senopati atau panglima Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Latar sejarah tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Watucongol dalam membangun tradisi pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, semangat perjuangan itu diteruskan dalam bentuk pendidikan pesantren dan penguatan tradisi keilmuan. Salah satu tradisi yang hingga kini masih dijalankan adalah pembacaan Al-Qur’an serta Dalailul Khairat, kitab yang berisi kumpulan shalawat dan doa yang diamalkan secara rutin di lingkungan pesantren.

Taj Yasin: Tradisi Keagamaan Harus Dijaga dengan Istiqamah

Taj Yasin menilai tradisi membaca Al-Qur’an dan Dalailul Khairat tidak hanya menjadi rutinitas keagamaan. Lebih dari itu, tradisi tersebut turut membangun lingkungan pendidikan yang mendorong lahirnya generasi berilmu.

Menurutnya, proses menjadi alim tidak berlangsung secara instan. Pendidikan, pembiasaan, serta konsistensi dalam menjalankan tradisi keagamaan menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

“Di dalam khataman Al-Qur’an, ada Dalailul Khairat. Ini mengantarkan banyak orang menjadi alim. Sebabiyah yang pertama adalah Al-Qur’an, kemudian Dalailul Khairat,” kata Taj Yasin.

Ia juga menyoroti pola pembacaan Dalailul Khairat yang dibagi berdasarkan hari. Menurutnya, pembagian tersebut membuat amalan lebih ringan sehingga lebih mudah dilakukan secara konsisten.

“Dalailul Khairat dibagi dari Senin, Selasa sampai kembali Senin lagi. Ini meringankan wiridan supaya kita bisa istiqamah,” ujarnya.

Bagi Taj Yasin, istiqamah menjadi salah satu kunci dalam menjaga keberlangsungan tradisi keagamaan. Tradisi yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pemerintah Apresiasi Pesantren yang Terus Hidupkan Majelis Ilmu

Keberadaan pesantren dan majelis ilmu yang tetap aktif di tengah masyarakat juga dinilai sebagai hal positif bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Taj Yasin berharap kegiatan pengajian, pendidikan pesantren, serta berbagai tradisi keagamaan tetap tumbuh dan berkembang di berbagai daerah.

“Atas nama pemerintah, saya senang kalau pengajian-pengajian seperti ini masih berjalan di wilayah Jawa Tengah,” katanya.

Menurutnya, keberadaan pesantren bukan hanya penting sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki peran dalam membentuk karakter masyarakat dan menjaga nilai-nilai keislaman yang telah diwariskan para ulama terdahulu.

Pengasuh: Pesantren Berdiri di Atas Amanah

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, KH Aly Qoishor Ahmad Abd Haq atau Gus Mad, mengatakan keberlangsungan pesantren hingga saat ini tidak terlepas dari amanah para orang tua yang mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada pesantren.

Menurutnya, amanah tersebut menjadi tanggung jawab yang harus dijalankan dengan penuh pengabdian. Ia menggambarkan posisi pengasuh pesantren bukan semata-mata sebagai pekerjaan yang berorientasi pada imbalan, melainkan sebagai bentuk pengabdian untuk menjalankan tugas yang telah dipercayakan masyarakat.

“Jenenge wong akon niku hakikine juragan sing dikon jenenge kuli. Dadi mboten kyai tapi kuli,” ujarnya.

Pernyataan tersebut secara sederhana bermakna bahwa orang yang memberi perintah merupakan juragan, sementara orang yang menjalankan amanah adalah kuli. Karena itu, menurut Gus Mad, para pengasuh pesantren harus memandang tugasnya sebagai bentuk pengabdian.

Warisan Watucongol untuk Generasi Mendatang

Sejarah panjang Pondok Pesantren Darussalam Watucongol menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi ruang pendidikan agama, tetapi juga memiliki akar kuat dalam perjalanan perjuangan bangsa.

Kementerian Agama mencatat para pendiri Pesantren Darussalam sebagai ulama sekaligus mujahid yang turut terlibat dalam perjuangan melawan kolonialisme. Kini, warisan tersebut terus diteruskan melalui pendidikan pesantren, pengajian, pembacaan Al-Qur’an, Dalailul Khairat, serta berbagai tradisi keagamaan lainnya.

Bagi Watucongol, menjaga tradisi bukan berarti berhenti pada masa lalu. Justru, warisan keilmuan tersebut menjadi bekal untuk membentuk generasi baru yang memiliki pengetahuan, karakter, dan keteguhan dalam menjalankan nilai-nilai keagamaan.

Di tengah perubahan zaman, keberadaan pesantren seperti Watucongol menjadi pengingat bahwa tradisi keilmuan dapat tetap hidup ketika dirawat dengan istiqamah, amanah, dan diwariskan lintas generasi.

Share This Article