Prambanan hingga Borobudur Jadi Ruang Ibadah, Taj Yasin Bidik Potensi Wisata Religi Jawa Tengah

Tahmid Musyafa
4 Min Read
Candi Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon diperkuat sebagai ruang ibadah umat Hindu dan Buddha. Taj Yasin melihat peluang besar wisata religi dan ekonomi UMKM. (dok. Pemprov Jateng)

MERCUSUARNEWS.CO –  Candi Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon akan semakin diperkuat fungsinya sebagai ruang ibadah umat Hindu dan Buddha. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menilai langkah tersebut juga membuka peluang pengembangan wisata religi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan candi.

Dukungan itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan antara pemerintah pusat, Pemprov Jawa Tengah, dan Pemprov DIY di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen yang hadir mewakili Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, penguatan fungsi keagamaan pada empat candi tersebut dapat membentuk pola kunjungan baru. Candi tidak hanya menjadi tempat melihat peninggalan sejarah, tetapi juga tujuan umat untuk menjalankan aktivitas keagamaan.

Taj Yasin: Ibadah Bisa Jadi Magnet Wisata Religi

Taj Yasin menilai aktivitas keagamaan dapat menjadi daya tarik yang membuat umat datang kembali dan menghabiskan waktu lebih lama di kawasan candi.

Ia mengibaratkan potensi tersebut dengan kota-kota yang dikenal sebagai pusat perjalanan keagamaan dunia, seperti Makkah dan Vatikan.

Menurutnya, semakin aktif kegiatan keagamaan di Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon, semakin besar pula peluang munculnya aktivitas ekonomi di kawasan sekitar.

“Perekonomian bukan hanya perhotelan, akan tetapi juga perekonomian yang ada di UMKM karena ibadah itu sebuah magnet tersendiri,” kata Taj Yasin.

Ia mengatakan penguatan fungsi keagamaan candi sejalan dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan di Jawa Tengah. Keberhasilan pariwisata, menurutnya, tidak hanya dilihat dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari keinginan wisatawan untuk kembali dan tinggal lebih lama.

Puluhan Ribu Umat Ikuti Kegiatan Keagamaan

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan candi tidak sekadar merupakan bangunan peninggalan masa lalu. Kawasan tersebut menyimpan nilai spiritual, sejarah, kebudayaan, dan pesan peradaban.

“Candi tentu bukan sekadar bangunan peninggalan masa lalu. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai spiritual, sejarah, kebudayaan, sekaligus juga pesan peradaban,” ujar Nasaruddin.

Ia menjelaskan, kerja sama pemanfaatan candi untuk kepentingan keagamaan telah dibangun sejak 2022. Melalui kerja sama tersebut, Prambanan semakin mendapat ruang untuk peribadatan umat Hindu, sementara Borobudur, Mendut, dan Pawon dikembangkan sebagai ruang ibadah umat Buddha.

Partisipasi umat dalam berbagai kegiatan keagamaan juga menunjukkan peningkatan.

Pada 2024, Upacara Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan diperkirakan diikuti sekitar 10.000 orang. Sementara berbagai kegiatan keagamaan Buddha di Borobudur, Mendut, dan Pawon melibatkan 24.894 peserta.

Jumlah tersebut meningkat pada 2025. Kegiatan keagamaan Buddha di berbagai candi tercatat melibatkan 33.556 peserta, termasuk umat dari luar negeri.

Candi Ditargetkan Jadi Pusat Spiritualitas Dunia

Nasaruddin berharap penguatan fungsi keagamaan tidak menghilangkan fungsi candi sebagai destinasi wisata. Sebaliknya, empat candi tersebut diharapkan berkembang sebagai pusat spiritualitas sekaligus tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Ke depan, kita ingin Candi Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon tidak hanya menjadi destinasi yang dikunjungi, tetapi menjadi pusat spiritualitas dunia,” ujarnya.

Pemanfaatan kawasan untuk aktivitas keagamaan akan tetap berjalan beriringan dengan pelestarian cagar budaya, ketertiban, dan prinsip keberlanjutan.

Penguatan Fungsi Candi Jaga Keragaman

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan kerja sama lintas kementerian dan pemerintah daerah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberagaman Indonesia.

Menurutnya, keberadaan candi menjadi bukti perkembangan peradaban sekaligus mencerminkan toleransi dan keragaman yang perlu terus dijaga.

“Keberadaan candi ini merupakan sebuah bukti dari bukan hanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di zamannya, tetapi juga sebagai sebuah bukti dari toleransi dan keragaman kita yang harus kita terus jaga,” kata Pratikno.

Nota kesepakatan tersebut melibatkan Kementerian Agama, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BPBUMN), Pemprov Jawa Tengah, dan Pemprov DIY.

Penguatan fungsi ibadah, pelestarian budaya, dan pengembangan pariwisata diharapkan berjalan beriringan sehingga kawasan Prambanan hingga Borobudur dapat memberi manfaat bagi umat sekaligus masyarakat dan perekonomian daerah.

Share This Article