Benteng Keuangan Asia di Era AI: BI Tegaskan Tiga Prioritas Strategis Bank Sentral Kawasan

Redaksi
3 Min Read
Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) yang digelar di Bali.(Foto: Bank Indonesia)

MERCUSUARNEWS.CO — Pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI) menuntut bank sentral di kawasan Asia Pasifik untuk memperkuat barisan dalam menjaga stabilitas dan ketahanan sistem keuangan. Langkah strategis ini menjadi sorotan utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) yang digelar di Bali.

​Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, menyatakan bahwa transformasi AI membawa disrupsi dan tantangan kompleks yang tidak bisa dihadapi oleh satu negara secara mandiri.

“Kolaborasi regional menjadi kunci utama untuk membangun tata kelola AI yang tepercaya sekaligus mengoptimalkan inovasi teknologi bagi inklusi keuangan,” kata Ricky dikutip dari laman bi.go.id, Rabu (7/10/2026).

 

​3 Prioritas Utama Hadapi Gelombang AI

​Untuk merespons dinamika tersebut, Bank Indonesia menekankan tiga prioritas utama bagi bank sentral kawasan. Pertama, membangun kerangka tata kelola AI yang terpercaya, transparan, dan akuntabel. Kedua, mengoptimalkan pemanfaatan AI untuk mendorong ekosistem pembayaran yang lebih efisien, aman, inklusif, dan berdaya tahan. Ketiga, memperkuat kolaborasi regional melalui SEACEN lewat dialog kebijakan, pengembangan kapasitas, serta riset bersama.

​Ricky menambahkan, akselerasi transformasi teknologi menjadikan pembelajaran dan pertukaran pengalaman antar-bank sentral sebagai aset yang sangat berharga dalam menentukan arah kebijakan masa depan.

 

​Interoperabilitas Pembayaran dan Antisipasi Risiko Sistemik

​Krusialnya konektivitas kawasan juga ditegaskan oleh Direktur Eksekutif The SEACEN Centre, Cynyoung Park. Ia menyoroti pentingnya interoperabilitas sistem pembayaran lintas negara untuk menyokong integrasi ekonomi.

Menurutnya, keterhubungan sistem antarnegara harus ditopang oleh standar pengaturan yang kompatibel serta kerangka pengelolaan likuiditas dan risiko penyelesaian transaksi yang tegas.

​Sementara itu, Kepala Ekonom UNDP untuk Asia dan Pasifik, Philip Schellekens, mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan publik sebagai fondasi utama bank sentral. Ia menggarisbawahi potensi risiko sistemik yang timbul akibat ketergantungan pada penyedia platform AI tertentu, sehingga antisipasi dini menjadi hal yang krusial.

​Konferensi bertema “Central Banking in the Age of Artificial Intelligence: Payments, Regulation, and Financial Stability for a Connected Asia” ini menghadirkan berbagai pemikir dan otoritas keuangan global, seperti European Central Bank, Bank of Korea, Hong Kong Monetary Authority, Banque de France, Asian Development Bank Institute, University of Tokyo, KORIKA, hingga Bank Rakyat Indonesia.

 

​Penguatan Kelembagaan SEACEN

​Rangkaian acara dilanjutkan dengan Pertemuan SEACEN Executive Committee (EXCO) ke-25 yang dipimpin langsung oleh Ricky P. Gozali. Pertemuan ini berfokus pada penguatan tata kelola, efektivitas organisasi, dan akuntabilitas SEACEN agar dapat terus memberikan nilai tambah bagi seluruh bank sentral anggota.

​Ke depan, Bank Indonesia berkomitmen mempererat sinergi dengan mitra internasional guna memastikan kawasan siap membangun ekosistem keuangan yang inovatif, aman, inklusif, dan tangguh di tengah arus modernisasi AI.

Share This Article