WONOGIRI — Upaya pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah mulai diarahkan pada pola yang tidak berhenti di pemberian bantuan. Melalui Program Desa Dampingan, pemerintah mendorong bantuan agar berkembang menjadi aset produktif yang mampu menciptakan pendapatan dan memperkuat ekonomi keluarga.
- Bantuan Rp511 Juta Menyasar Ekonomi hingga Sanitasi
- Kemiskinan Wonogiri Masih di Atas Rata-rata Jawa Tengah
- Bantuan Kambing Didorong Jadi Sumber Pendapatan
- Pertanian Masih Bergantung pada Musim Hujan
- UMKM Minggarharjo Punya Produk Lokal, tetapi Pemasaran Masih Terbatas
- Program Desa Dampingan Juga Menyasar Kesehatan
- Desa Dampingan Diharapkan Berlanjut hingga Warga Mandiri
Pola tersebut diterapkan RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta di Desa Minggarharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Program pendampingan yang berjalan sejak Januari 2026 itu menyasar berbagai persoalan warga, mulai dari pertanian, peternakan, UMKM, kesehatan, sanitasi, hingga rumah tidak layak huni.
Bantuan Rp511 Juta Menyasar Ekonomi hingga Sanitasi
Dalam rangkaian intervensi di Desa Minggarharjo, bantuan diberikan berdasarkan hasil asesmen terhadap kondisi dan potensi masyarakat.
Total bantuan yang disalurkan mencapai sekitar Rp511,11 juta. Bantuan tersebut meliputi peningkatan kualitas empat Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) senilai Rp40 juta, Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Rp20 juta, empat paket modal usaha senilai Rp12 juta, serta pembangunan tiga unit jambanisasi senilai Rp19,11 juta.
Dukungan juga datang dari sektor swasta. PT Djarum memberikan bantuan lima unit Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH) senilai Rp370 juta. Sementara PT Jamkrida Jateng membantu pembangunan 15 unit jambanisasi senilai Rp50 juta.
Intervensi tersebut dirancang agar bantuan tidak hanya menyelesaikan persoalan kebutuhan dasar, tetapi juga membuka peluang bagi warga untuk meningkatkan pendapatan.
Kemiskinan Wonogiri Masih di Atas Rata-rata Jawa Tengah
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan penanganan kemiskinan membutuhkan kerja bersama lintas sektor.
Ia menyebut angka kemiskinan Jawa Tengah berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru telah turun dari 9,39 persen menjadi 9,21 persen. Namun, angka kemiskinan Kabupaten Wonogiri masih mencapai 9,59 persen, atau berada di atas rata-rata Jawa Tengah.
Kondisi tersebut membuat Pemprov Jateng melakukan pemetaan lebih detail hingga tingkat kecamatan dan desa untuk menentukan lokasi yang membutuhkan intervensi.
“Dari Wonogiri ini kita petakan lagi kecamatannya. Kecamatan yang masih di atas data Kabupaten Wonogiri mana? Nah, kebetulan di Kecamatan Eromoko ini masih di atas Wonogiri. Sehingga perlu diintervensi,” ujar Taj Yasin.
Menurut Gus Yasin, kolaborasi antara pemerintah, rumah sakit, BUMD, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar program pengentasan kemiskinan memiliki dampak yang lebih luas.
Bantuan Kambing Didorong Jadi Sumber Pendapatan
Salah satu pendekatan yang dilakukan dalam Program Desa Dampingan adalah mengembangkan potensi ekonomi yang memang sudah dimiliki warga. Di sektor peternakan, masyarakat Desa Minggarharjo telah memelihara sapi, kambing, dan ayam. Namun, pengelolaan pakan masih dilakukan secara sederhana dan konvensional.
Pemerintah kemudian mendorong bantuan peternakan agar tidak sekadar menjadi barang yang diterima warga, tetapi berkembang menjadi sumber pendapatan.
“Tujuan kita memberikan bantuan kelompok-kelompok usaha bersama ini supaya menjadi income (pendapatan),” kata Taj Yasin.
Ia menegaskan perkembangan bantuan akan terus dipantau. Jika kelompok penerima mampu mengembangkan ternak dan mengelolanya dengan baik, pola bantuan tersebut dapat dikembangkan kepada kelompok masyarakat lainnya.
“Dengan adanya pengolahan, pelatihan, pendampingan seperti ini harapannya pertaniannya semakin baik,” ujarnya.
Untuk mendukung sektor peternakan, RSJD dr. Arif Zainudin juga menyerahkan tiga unit alat pencacah. Peralatan tersebut dapat digunakan untuk mencacah rumput sebagai bahan pakan sekaligus mengolah kotoran ternak menjadi kompos.
Pertanian Masih Bergantung pada Musim Hujan
Pertanian menjadi salah satu sektor utama perekonomian warga Minggarharjo. Namun, produktivitasnya masih menghadapi sejumlah tantangan.
Sebagian petani masih mengandalkan curah hujan sehingga masa panen utama berlangsung sekitar satu kali dalam setahun. Ketika memasuki musim kemarau, lahan dimanfaatkan untuk tanaman jagung, kacang tanah, tembakau, dan melon.
Persoalan lain yang dihadapi petani adalah serangan hama tikus yang berpotensi menurunkan hasil produksi.
Melalui pendampingan, pemerintah berharap pengetahuan, pengolahan hasil, dan pemanfaatan sarana produksi dapat diperkuat sehingga sektor pertanian mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi warga.
UMKM Minggarharjo Punya Produk Lokal, tetapi Pemasaran Masih Terbatas
Potensi ekonomi desa juga terlihat dari keberadaan sejumlah UMKM. Warga memproduksi berbagai produk lokal, seperti rengginang, wayang kulit, dan batik tulis.
Namun, sebagian produk masih dibuat berdasarkan pesanan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan produksi sudah tersedia, tetapi perlu diikuti dengan strategi pemasaran yang lebih kuat.
Pendampingan diarahkan untuk membantu pelaku UMKM memperluas pasar sehingga produk tidak hanya bergantung pada pesanan dari pelanggan yang sudah ada.
Dengan pemasaran yang lebih luas, produk lokal diharapkan dapat meningkatkan omzet sekaligus membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Program Desa Dampingan Juga Menyasar Kesehatan
Persoalan yang ditemukan dalam asesmen tidak hanya berkaitan dengan ekonomi. Tim pendamping juga menemukan sejumlah persoalan kesehatan masyarakat.
Hasil identifikasi menunjukkan terdapat delapan balita berisiko stunting dan tiga baduta mengalami stunting. Selain itu, terdapat empat warga dengan gangguan kesehatan jiwa yang sebelumnya pernah mendapatkan perawatan di RSJD dr. Arif Zainudin.
Direktur RSJD dr. Arif Zainudin, Setyowati Raharjo, mengatakan program pendampingan diawali dengan survei untuk mengetahui persoalan sekaligus potensi yang dapat dikembangkan.
“Yang kami lakukan dari hasil survei dari peternakan, pertanian, UMKM dan kesehatan,” kata Setyowati.
Pendampingan kemudian dilakukan secara bertahap, mulai dari penyuluhan kesehatan jiwa, pelatihan budidaya kambing, pemberian alat dan kebutuhan masyarakat, hingga membantu pengajuan proposal KUBE serta memfasilitasi dukungan CSR.
Desa Dampingan Diharapkan Berlanjut hingga Warga Mandiri
Kepala Desa Minggarharjo Tri Wiyono mengapresiasi pendampingan yang dilakukan RSJD dr. Arif Zainudin bersama berbagai pihak. Kehadiran program tersebut membantu desa menangani sejumlah persoalan yang tidak seluruhnya dapat dibiayai melalui anggaran desa.
“Harapannya mudah-mudahan tetap masih berlanjut sampai warganya betul-betul sejahtera,” katanya.
Ia menilai pendampingan selama satu tahun menjadi penting karena sejumlah persoalan ekonomi membutuhkan proses dan waktu untuk berkembang. Salah satunya adalah para pengrajin gamelan yang saat ini menghadapi kendala karena minimnya pesanan.
Keberlanjutan program menjadi penting agar bantuan yang telah diberikan tidak berhenti sebagai intervensi sesaat. Dengan pendampingan, pelatihan, akses permodalan, pemasaran, dan dukungan lintas sektor, potensi desa diharapkan mampu berkembang menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan.
Program Desa Dampingan di Minggarharjo pada akhirnya bukan sekadar tentang berapa banyak bantuan yang disalurkan, melainkan bagaimana bantuan tersebut dapat berubah menjadi aset produktif, menciptakan pendapatan, dan membawa warga menuju kemandirian ekonomi.
