Menikmati Sensasi GI Tourism Dieng: Menjelajah Hulu-Hilir Buah Carica yang Unik

Putri Najwa
3 Min Read
GI Tourism Dieng hadir sebagai ekosistem terpadu yang menghubungkan perlindungan kekayaan intelektual dengan pengembangan sektor pariwisata daerah.(Foto: dgip.go.id)

MERCUSUARNEWS.CO — Kawasan Dataran Tinggi Dieng tidak hanya menawarkan keindahan lanskap alamnya, tetapi juga menghadirkan pengalaman edukasi berbasis produk lokal terlindungi melalui program Geographical Indication (GI) Tourism. Salah satu komoditas utama yang menjadi magnet wisatawan dalam program ini adalah Carica Dieng (Vasconcellea pubescens).

​Direktur Merek dan Indikasi Geografis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum, Fajar Sulaeman Taman, menjelaskan bahwa GI Tourism hadir sebagai ekosistem terpadu yang menghubungkan perlindungan kekayaan intelektual dengan pengembangan sektor pariwisata daerah.

​”Produk Indikasi Geografis ini adalah salah satu produk yang ternyata sudah dilindungi dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat karena ada keterkaitan antara kuliner, pelaku usaha, hingga petani. Beda GI Tourism dengan pariwisata biasa adalah adanya unsur edukasi dan sosialisasi. Wisatawan diajak bagaimana mengetahui proses pembuatannya dari hulu ke hilir,” ujar Fajar saat melakukan peninjauan di kebun Carica Wonosobo, Senin (21/9/2026) dikutip dari laman dgip.go.id.

​Melalui program ini, wisatawan diajak menyaksikan langsung proses budidaya di kebun hingga pengolahan Carica. Edukasi ini bertujuan mengenalkan reputasi, keunikan, serta jaminan kualitas yang melekat pada sertifikat Indikasi Geografis.

​Carica Dieng memiliki syarat tumbuh spesifik, seperti ketinggian minimal 1.700 mdpl, curah hujan tinggi, suhu sejuk di bawah 18°C, serta kandungan unsur sulfur khas pegunungan Dieng. Meski berasal dari Amerika Latin dan sempat ditanam di berbagai wilayah Indonesia pada masa kolonial, tanaman kerabat pepaya ini hanya tumbuh dan berbuah optimal di Dataran Tinggi Dieng.

​Dari sisi kandungan gizi, Carica kaya akan serat, antioksidan hingga 85%, dan senyawa flavonoid. Mengingat daging buah segarnya mengandung papain serta getah tajam, Carica memerlukan pengolahan khusus. Menerapkan prinsip zero waste, masyarakat lokal mengolah Carica menjadi sirup manisan, carica palpi (ready to drink), selai, carica strudel, hingga minuman probiotik carica kombucha. Limbah kulitnya bahkan dimanfaatkan sebagai pakan ternak untuk membasmi cacing pita.

​Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Carica Dieng, Wak Shofi Diantoro (Toro), menyambut baik skema GI Tourism ini. Menurutnya, edukasi pariwisata berbasis IG membantu mempromosikan keunggulan Carica secara luas dan efisien.

​”Kami sangat bersyukur dengan adanya GI Tourism ini. Harapan kami, melalui program ini pemanfaatan Carica semakin luas sehingga bisa berdampak positif bagi para petani. Selama ini banyak petani yang masih mengeksploitasi lahan dengan menanam kentang sepanjang tahun yang berisiko merusak lingkungan,” katanya.

Dengan beralih atau menambah budidaya Carica yang memiliki nilai ekonomi tinggi, selain menguntungkan petani, lingkungan Dieng pun dapat terjaga secara langsung karena sifat pohon Carica sebagai tanaman konservasi.

Share This Article