MERCUSUARNEWS.CO – Pakaian adat, musik, drumband, hingga ornamen khas daerah mewarnai Pawai Ta’aruf MTQ Nasional XXXI. Taj Yasin menyebut keberagaman yang berpadu dalam pawai sebagai keberkahan bersama.
Ribuan pasang mata warga Kota Semarang tertuju pada iring-iringan Pawai Ta’aruf MTQ Nasional XXXI 2026, Sabtu (12/9/2026). Sebanyak 46 defile dari berbagai provinsi, kabupaten/kota, serta instansi di Jawa Tengah tampil membawa identitas budaya masing-masing.
Pawai menempuh rute sekitar 2,5 kilometer, dimulai dari Balai Kota Semarang hingga Jalan Pahlawan, tepat di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah. Suasana semakin semarak dengan penampilan Drumband atau Korps Musik Taruna (Korsiktar) Universitas Maritim AMNI Semarang sebagai pembuka. Setelah itu, satu per satu defile melintas dengan pakaian adat, ornamen budaya, musik, dan berbagai atraksi khas daerah.
Tak hanya kafilah peserta MTQ, sejumlah daerah dan lembaga di Jawa Tengah juga ikut ambil bagian. Salah satunya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang yang menampilkan perwakilan dari berbagai agama. Kehadiran mereka menjadi gambaran keberagaman yang hadir dalam satu panggung kebersamaan.
Taj Yasin: Keberagaman Ini Jadi Keberkahan Bersama
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen yang menyambut peserta bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar mengapresiasi antusiasme daerah dalam mengikuti Pawai Ta’aruf.
Ia menyebut partisipasi berbagai provinsi dan kabupaten/kota menunjukkan tingginya semangat menyukseskan MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah.
“Alhamdulillah kita bersyukur, dua hari sebelum kita laksanakan kirab ta’aruf ada beberapa provinsi yang baru. Akan tetapi pada hari ini kita bisa saksikan luar biasa, provinsi-provinsi ternyata mengirim untuk kirab ta’aruf ini,” kata Taj Yasin.
Mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, ia juga menyampaikan terima kasih kepada 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang turut mengirimkan defile.
Menurut Taj Yasin, pawai menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Kita pengin menampilkan dari kebudayaan-kebudayaan, dari adat untuk bersatu padu membangun Indonesia ini dengan lewat MTQ Nasional, membumikan Al-Qur’an,” ujarnya.
Ia menegaskan, kemeriahan MTQ Nasional tidak mengenal sekat suku, ras, maupun agama. “Ini kita tahu, ini adalah sebuah keberkahan buat kita bersama, tidak melihat suku, ras, agama, semuanya kumpul, kita bersatu,” katanya.

“Gumreget Nyawiji”, Pesan Persatuan Jawa Tengah
Semangat persatuan juga diangkat Jawa Tengah melalui tema defile “Gumreget Nyawiji”. Taj Yasin mengatakan tema tersebut mencerminkan semangat masyarakat Jawa Tengah untuk bergerak bersama tanpa meninggalkan siapa pun.
“Jadi kita pengin satu menjadi satu kesatuan untuk membangun Jawa Tengah ini. Tidak melihat siapa-siapa, tidak ada yang ditinggalkan, kita ajak bersama-sama untuk maju,” ujarnya.
Antusiasme warga terlihat di sepanjang rute. Masyarakat menyaksikan iring-iringan, mengabadikan penampilan peserta, dan memberikan sambutan ketika setiap defile melintas.
Papua Tengah Bawa Pakaian Adat dan Ornamen Khas
Keragaman budaya Indonesia terlihat jelas dari penampilan para kafilah. Kafilah Papua Tengah, misalnya, membawa sekitar 100 anggota, dengan 28 orang di antaranya mengikuti Pawai Ta’aruf menggunakan pakaian adat dan ornamen khas Papua Tengah.
Ketua Kafilah Papua Tengah, Wahyu Budi Santoso, mengatakan rombongannya sengaja membawa identitas budaya daerah, termasuk simbol burung cenderawasih.
“Dalam kegiatan pawai ta’aruf kami menampilkan pakaian adat-adat di Papua Tengah,” katanya.
Peserta dari Papua Tengah, Emi Titin Indrawati, menjelaskan busana yang digunakan merepresentasikan sejumlah kebudayaan dan suku di wilayah Papua Tengah, termasuk Kamoro dan Amungme.
Rombongan juga membawa berbagai perlengkapan budaya seperti tifa, topi Papua, rumbai, dan tongkat. Emi juga mengapresiasi penyambutan yang diberikan masyarakat Jawa Tengah.
“Menurut saya ini sudah terprepare dengan baik dan memberikan kesan yang baik buat kita dari luar daerah tentunya. Alhamdulillah meriah,” ujarnya.
Kepulauan Riau Tampilkan Tugu Bahasa
Sementara itu, Kafilah Kepulauan Riau mengangkat tema Tugu Bahasa sebagai simbol sejarah dan budaya bahasa Indonesia.
Perwakilan Kafilah Kepulauan Riau, Sofyan Sulaiman, mengatakan tema tersebut berkaitan dengan sejarah bahasa Melayu yang menjadi salah satu akar bahasa Indonesia.
“Kita dalam pawai karnaval ini menunjukkan Tugu Bahasa. Bahasa sebagai salah satu budaya nasional,” katanya.
Kafilah Kepulauan Riau mengirimkan 121 orang untuk mengikuti MTQ Nasional XXXI dan berpartisipasi dalam seluruh cabang serta golongan yang diperlombakan.
Sofyan mengapresiasi antusiasme masyarakat Jawa Tengah yang menurutnya turut menikmati kemeriahan pawai.
“Saya pikir masyarakat Jawa Tengah dengan event MTQ Nasional ini sangat memberikan respons dan turut bergembira melihat setiap karnaval yang berasal dari setiap provinsi,” ujarnya.
Agenda MTQ Nasional XXXI Jawa Tengah
MTQ Nasional XXXI 2026 berlangsung di Jawa Tengah pada 11-20 September 2026. Setelah kedatangan dan registrasi kafilah serta Malam Ta’aruf pada 11 September, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Pawai Ta’aruf, pelantikan dan orientasi dewan hakim, pembukaan pameran dan bazar, serta pembukaan MTQ Nasional pada 12 September.
Berikut agenda utama MTQ Nasional XXXI 2026:
- 11 September: Kedatangan kafilah, registrasi ulang, dan Malam Ta’aruf.
- 12 September: Pawai Ta’aruf, pelantikan dan orientasi dewan hakim, pembukaan pameran dan bazar, serta pembukaan MTQ Nasional XXXI.
- 13-17 September: Penyisihan seluruh cabang musabaqah.
- 18 September: Final seluruh cabang musabaqah.
- 19 September: City tour dan penutupan MTQ Nasional XXXI.
- 20 September: Kepulangan kafilah.
Pawai Ta’aruf menjadi pembuka yang memperlihatkan wajah Indonesia dalam satu iring-iringan. Dari pakaian adat hingga musik tradisional, keberagaman daerah hadir berdampingan di Kota Semarang.
Bagi Jawa Tengah, kemeriahan tersebut bukan sekadar seremoni. Pawai menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi, memperkenalkan kekayaan budaya, sekaligus menegaskan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika seluruh elemen masyarakat memilih untuk nyawiji atau bersatu.
