Ancaman Efek Domino Geopolitik dan AI, APBN Siap Jadi Penahan Guncangan Ekonomi

Burhanuddin
3 Min Read
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung saat memberikan pidato kunci pada pembukaan Central Banking Service Festival 2026 di Jakarta.(Foto; kemenkeu.go.id)

​MERCUSUARNEWS.CO — Eskalasi ketegangan geopolitik global, disrupsi kecerdasan artifisial, hingga fragmentasi rantai pasok dunia kini mengintai stabilitas perekonomian Indonesia. Menghadapi ancaman yang saling terhubung tersebut, Pemerintah memperkuat fondasi sektor keuangan dan menegaskan peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagai penahan guncangan utama agar pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga.

​Pesan strategis tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan Juda Agung saat memberikan pidato kunci pada pembukaan Central Banking Service Festival 2026 di Jakarta dikutip dari laman kemenkeu.go.id, Rabu (30/9/2026).

Forum bertema Strengthening Financial Services Resilience Amid Escalating Geopolitical Risk to Support Economic Growth ini menghadirkan para pembuat kebijakan, otoritas bank sentral, akademisi, hingga pelaku industri keuangan.

​Ancaman Efek Domino Risiko Global

​Juda Agung memaparkan bahwa dinamika risiko global saat ini tidak lagi berdiri sendiri. Konflik geopolitik dapat secara mendadak mengganggu rantai pasok energi dunia, memicu kenaikan harga minyak, lalu menjalar pada kenaikan inflasi, lonjakan suku bunga global, volatilitas nilai tukar, hingga membengkaknya biaya pembiayaan.

​Melihat kompleksitas tersebut, tantangan utama pemerintah bukan lagi sekadar merespons ketidakpastian saat guncangan terjadi, melainkan membangun kapasitas kelembagaan yang tangguh untuk menyerap dampak, beradaptasi, dan memastikan fungsi roda ekonomi tetap berjalan.

​Strategi Fiskal Adaptif dan Sektor Keuangan

​Strategi perlindungan ekonomi menuntut APBN bergerak fleksibel. Kebijakan fiskal dirancang agar tetap adaptif, berhati-hati, dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang. APBN bertugas melindungi daya beli masyarakat dan menopang sektor produktif tanpa mengorbankan disiplin serta keberlanjutan keuangan negara.

​Di sisi lain, penguatan sektor keuangan menjadi fondasi vital. Perbankan diimbau bertransformasi dari sekadar penyalur kredit menjadi penggerak produktivitas nasional, khususnya dalam memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, mendorong inovasi, serta menciptakan lapangan kerja.

​Navigasi Teknologi dan Sinergi KSSK

​Terkait pesatnya adopsi teknologi digital dan kecerdasan artifisial di layanan keuangan, efisiensi yang ditawarkan tidak boleh mengabaikan tata kelola risiko. Sektor keuangan tetap membutuhkan cadangan penyangga, saluran transaksi alternatif, dan skema kontingensi demi menjaga keberlangsungan layanan serta kepercayaan publik.

​Guna memastikan seluruh langkah berjalan selaras, koordinasi lintas lembaga melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan terus diperketat. Sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan regulasi makroprudensial menjadi kunci dalam memantau dan meredam potensi risiko.

Ketahanan ekonomi nasional ditentukan oleh kemampuan sistem dalam menyerap dampak guncangan, beradaptasi secara cepat, dan terus bergerak maju tanpa kehilangan kredibilitas.

Share This Article