MERCUSUARNEWS.CO – Musim kemarau membawa rezeki tambahan bagi nelayan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Dalam sepekan terakhir, nelayan menemukan ubur-ubur dalam jumlah melimpah di perairan selatan Cilacap.
Kapal-kapal motor berukuran kecil tampak hilir mudik di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. Nelayan membawa hasil tangkapan mereka ke daratan. Dalam sekali melaut, satu perahu bahkan mampu membawa hingga 1 ton ubur-ubur.
Salah satu nelayan Cilacap, Sudirman, mengatakan tangkapan ubur-ubur saat ini cukup melimpah. Nelayan menangkap hewan laut tersebut menggunakan jaring dari perahu motor berukuran kecil.
“Alhamdulillah panen ubur-ubur saat ini sedang melimpah, sekitar seminggu terakhir ini. Kalau yang berangkat melaut, satu perahu bisa mendapat sekitar satu ton,” kata Sudirman, Jumat (11/9/2026).
Menurut Sudirman, nelayan mencari ubur-ubur di perairan selatan Pantai Cilacap. Saat kondisi cuaca mendukung, mereka bisa melaut hingga dua kali dalam sehari.
Harga ubur-ubur di tingkat nelayan kini mencapai sekitar Rp 800 per kilogram. Ukuran tangkapan juga cukup besar. Satu ekor ubur-ubur memiliki bobot sekitar 1-2 kilogram.
Nelayan Berharap Panen Ubur-ubur Bertahan
Nelayan membawa ubur-ubur dari laut ke gudang pengolahan. Pekerja kemudian memisahkan bagian tubuh ubur-ubur sebelum mengawetkannya menggunakan garam.
Sudirman mengatakan pengusaha kemudian mengirim hasil olahan tersebut untuk memenuhi kebutuhan ekspor. China menjadi salah satu negara tujuan pengiriman.
Melimpahnya ubur-ubur memberi peluang bagi nelayan untuk menambah penghasilan. Karena itu, mereka berharap fenomena tersebut bertahan lebih lama.
“Ya, semoga lancar, bisa lama keluar ubur-uburnya. Biar nelayan ya bisa ada hasil,” ujarnya.
Namun, nelayan tidak bisa memprediksi kemunculan ubur-ubur secara pasti. Menurut Sudirman, jumlah ubur-ubur biasanya meningkat saat musim kemarau. Hujan dapat membuat ubur-ubur menghilang dari permukaan laut.
“Nggak tentu kalau ubur-ubur. Kadang musim kalau lagi musim banyak yang muncul. Insyaallah kalau ini ya mungkinlah, mudah-mudahan bisa jadi sampai mungkin satu bulan. Kalau enggak hujan itu bisa lama. Tapi kalau kena hujan, ubur-ubur kan bisa hilang, apalagi ada petir gitu,” jelasnya.
Produksi Ubur-ubur Cilacap Pernah Capai 6.450 Ton
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap Indarto membenarkan besarnya potensi ubur-ubur di wilayah tersebut. Namun, jumlah kemunculannya berbeda setiap tahun.
Catatan Dinas Perikanan Cilacap menunjukkan tidak ada produksi ubur-ubur pada 2021. Setahun kemudian, nelayan menghasilkan sekitar 128 ton ubur-ubur.
Produksi kemudian melonjak pada 2023. Saat itu, nelayan Cilacap mencatat hasil sekitar 6.450 ton. Namun, pada 2024, tidak ada produksi ubur-ubur.
“Di tahun 2025 muncul. Itu sekitar 4.650 ton,” kata Indarto.
Menurut Indarto, angka tersebut menunjukkan besarnya potensi ubur-ubur di Cilacap. Meski begitu, nelayan tidak bisa mengandalkan komoditas tersebut setiap tahun.
“Nah, itu menunjukkan bahwa potensi ubur-ubur cukup besar, tapi tidak selalu bisa diandalkan tiap tahun muncul,” jelasnya.
Nelayan Bisa Melaut Dua Kali Sehari
Indarto menjelaskan nelayan biasanya menemukan ubur-ubur dalam jumlah banyak saat musim kemarau dan angin timuran bertiup.
Pada kondisi tersebut, ubur-ubur muncul di permukaan perairan. Ketika hujan turun, ubur-ubur dapat menghilang dari permukaan laut.
“Kalau hujan hilang sebunyi, nanti muncul lagi ya. Jadi bukan mati, namun tidak muncul ke permukaan,” ungkapnya.
Nelayan mencari ubur-ubur di sepanjang wilayah pantai Cilacap. Nelayan dengan kapal motor kecil menjadi salah satu kelompok yang memanfaatkan potensi tersebut.
“Satu kapal kecil itu bisa jadi nampung, mampu ambil, ngangkat sekitar satu ton,” kata Indarto.
Jika kondisi memungkinkan, nelayan bisa melakukan dua perjalanan dalam sehari. Namun, frekuensi melaut tetap bergantung pada kemampuan kapal dan nelayan.
“Tergantung kemampuan. Bisa dua, rata-rata mungkin mampu duanya. Kuat ya bisa jadi tiga, tapi kalau jarang. Lebih banyak mungkin sekitar dua,” jelasnya.
Dari sisi ekonomi, komoditas ini cukup menjanjikan karena nelayan dapat menjual seluruh hasil tangkapan. Harga ubur-ubur di tingkat nelayan berkisar Rp 800-Rp 1.000 per kilogram.
Indarto mengatakan harga tersebut dapat berubah sesuai kondisi dan kualitas hasil tangkapan.
“Ya, bisa jadi harga sih variatif gitu ya, tergantung bahannya, terus mungkin kebersihan atau bagaimana. Sekitar 800 sampai 1.000 mungkin,” ujarnya.
Dinas Ingatkan Pengolahan Tak Cemari Lingkungan
Indarto mengatakan pengusaha mengirim sebagian hasil tangkapan ubur-ubur Cilacap untuk memenuhi pasar ekspor, salah satunya China.
Pengepul mengumpulkan ubur-ubur segar dari nelayan sebelum membawanya ke tempat pengolahan. Pekerja kemudian memisahkan bagian tudung dan kaki sebelum mengawetkannya dengan garam.
“Pertama yang kita data ekspornya ke Cina itu. Ke Cina tangkapan segarnya itu diolah, dikumpulkan ya oleh pengepul, kemudian diolah dengan penggaraman, dipisahkan per badannya, tudungnya sama kakinya itu, kemudian di penggaraman jadi kemudian dikirimnya keluar diekspornya,” tuturnya.
Melihat potensi tersebut, Dinas Perikanan Cilacap mendorong nelayan memanfaatkan momentum kemunculan ubur-ubur. Namun, Indarto meminta pelaku usaha tetap menjaga lingkungan saat menampung dan mengolah hasil tangkapan.
“Ya kalau dari dinas sih imbauannya memanfaatkan potensi yang ada, ubur-ubur yang muncul saat ini dimanfaatkan seoptimal mungkin dengan dilakukan penangkapan ya. Tapi pengolahan atau penampungan dan pengolahannya perlu diperhatikan agar tidak mencemari lingkungan,” tegas Indarto.
Indarto berharap musim ubur-ubur kali ini berlangsung cukup lama. Dengan begitu, nelayan bisa memperoleh tambahan pendapatan dari hasil tangkapan tersebut.
Meski demikian, cuaca tetap menentukan keberlangsungan musim ubur-ubur. Curah hujan selama musim kemarau juga dapat memengaruhi kemunculan ubur-ubur di permukaan laut.
