PURBALINGGA — Tantangan generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi bukan hanya soal kemampuan menggunakan gawai, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan nyata. Persoalan screen time yang tinggi di kalangan remaja pun menjadi perhatian Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif.
Fahmi mendorong jawara Duta GenRe Jawa Tengah, Labib Mubarok, untuk menghadirkan program yang mampu memberikan dampak nyata bagi remaja, khususnya dalam mengurangi ketergantungan terhadap gadget.
Menurut Fahmi, upaya menekan penggunaan gawai tidak efektif jika hanya dilakukan dengan melarang atau meminta anak-anak meninggalkan perangkat digital. Remaja perlu diberikan alternatif aktivitas yang menarik, produktif, dan mampu membuat mereka betah berinteraksi di dunia nyata.
“Persoalan screen time di kalangan anak muda menjadi perhatian banyak pihak,” ujar Fahmi.
Labib Mubarok sendiri merupakan alumni SMAN 1 Bobotsari yang berhasil meraih prestasi sebagai Juara I Duta GenRe Putra Jawa Tengah.
Kurangi Screen Time dengan Aktivitas yang Menarik
Fahmi menilai, pendekatan terhadap remaja harus dilakukan dengan cara yang relevan dengan karakter generasi saat ini.
Alih-alih sekadar membatasi penggunaan gadget, remaja perlu diberi ruang untuk melakukan kegiatan yang mampu mengembangkan minat, kreativitas, kemampuan bersosialisasi, sekaligus membangun rasa percaya diri.
Menurutnya, konsep JAMU JATI KENDI yang dibawa Labib memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu alternatif kegiatan bagi generasi muda.
Namun, Fahmi mengingatkan agar kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai aktivitas pengisi waktu.
“Setelah ada aktivitasnya, bagaimana interaksi dan komunikasinya? Jangan hanya mengalihkan screen time, tetapi harus ada output,” katanya.
Output yang dimaksud antara lain peningkatan soft skill, karakter, mental, kemampuan berkomunikasi, hingga adab.
Bupati Purbalingga Minta Program Duta GenRe Punya Target Terukur
Fahmi juga menekankan pentingnya keberlanjutan program. Menurutnya, sebuah program kepemudaan akan lebih bermakna apabila memiliki indikator keberhasilan yang dapat diukur.
Ia meminta program yang dijalankan Labib memiliki target tahunan, mulai dari jumlah remaja yang terlibat, jenis kegiatan yang dilakukan, hingga perubahan positif yang dihasilkan.
Dengan begitu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari kemeriahan kegiatan pada awal pelaksanaan, tetapi dari manfaat yang benar-benar dirasakan peserta.
“Keberlanjutannya harus bisa diukur. Bisa dibuat target, dalam satu tahun menghasilkan apa dan berapa anak yang terjangkau. Jadi bukan hanya bagus di awal, tetapi ada keberlanjutan dan hasil yang jelas,” kata Fahmi.
Labib Mubarok Siap Perluas Program Ruang Kawuningan
Menanggapi tantangan tersebut, Labib Mubarok menyatakan siap memperluas program yang sebelumnya menjadi bagian dari advokasi dalam ajang Duta GenRe Jawa Tengah.
Salah satu program yang akan dikembangkan adalah Ruang Kawuningan. Program tersebut tidak hanya akan diperluas di Purbalingga dan wilayah Jawa Tengah, tetapi juga dikembangkan melalui jejaring digital dengan membawa nama Ruang Kawuningan Indonesia.
Labib mengatakan, perluasan program menjadi langkah berikutnya setelah dirinya meraih Juara I Duta GenRe Putra Jawa Tengah.
“Ke depan, kami akan memasifkan program yang sudah diadvokasikan dalam ajang Apresiasi Duta GenRe Jawa Tengah. Ruang Kawuningan akan kami perluas, baik di Purbalingga, Jawa Tengah, maupun secara digital melalui Ruang Kawuningan Indonesia,” kata Labib.
Duta GenRe Didorong Jadi Penggerak Remaja di Era Digital
Prestasi Labib di tingkat Jawa Tengah diharapkan tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Fahmi ingin keberhasilan tersebut menjadi pintu masuk untuk menghadirkan lebih banyak program yang menyentuh kebutuhan remaja.
Di tengah meningkatnya penggunaan teknologi, generasi muda membutuhkan ruang yang memungkinkan mereka tetap produktif tanpa harus sepenuhnya bergantung pada aktivitas berbasis layar.
Karena itu, program kepemudaan perlu dirancang dengan pendekatan yang menyenangkan, relevan, sekaligus memberikan manfaat jangka panjang.
Bagi Fahmi, keberhasilan Duta GenRe bukan sekadar soal memenangkan kompetisi, tetapi tentang seberapa besar gagasan yang dibawa mampu menjangkau dan memberi perubahan bagi remaja.
Ia juga berharap Labib dapat kembali mengukir prestasi di tingkat nasional sekaligus membawa gagasan dari Purbalingga dan Jawa Tengah ke lingkup yang lebih luas.
Dari Mengurangi Gadget Menuju Membangun Generasi Berkualitas
Tantangan terhadap screen time pada akhirnya bukan sekadar persoalan berapa lama remaja menggunakan gadget. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana waktu yang dimiliki anak muda dapat diarahkan menjadi pengalaman yang membangun.
Kegiatan yang memperkuat interaksi sosial, kemampuan komunikasi, karakter, mental, kreativitas, dan adab menjadi bagian penting dalam membentuk generasi muda yang siap menghadapi masa depan.
Melalui Duta GenRe dan berbagai program kepemudaan seperti Ruang Kawuningan, upaya tersebut diharapkan dapat menciptakan alternatif aktivitas yang menarik sekaligus memberikan dampak nyata.
Dengan demikian, mengurangi screen time bukan sekadar menjauhkan remaja dari layar, tetapi menghadirkan dunia nyata yang lebih menarik, produktif, dan bermakna bagi mereka.
