Champion of Class Gracias, Cara SMPN 1 Bawang Ajarkan Kepemimpinan Lewat Olahraga

Tahmid Musyafa
4 Min Read
Siswa SMPN 1 Bawang Kelola Turnamen Badminton, Belajar Kepemimpinan Lewat Sport Education Model. (dok. SMPN 1 Bawang)

MERCUSUARNEWS.CO – Aula SMP Negeri 1 Bawang, Banjarnegara, berubah menjadi arena pertandingan sekaligus ruang belajar kepemimpinan siswa. Melalui turnamen Champion of Class Gracias, siswa kelas IX-G tidak hanya bertanding untuk menjadi juara, tetapi juga mengelola kompetisi dari balik layar.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penerapan Sport Education Model (SEM) dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).

Selama lima hari, siswa menjalankan berbagai peran, mulai dari pemain, pelatih, wasit, panitia, tim medis, reporter, jurnalis hingga dokumentasi.

Sport Education Model Melatih Kemandirian Siswa

Guru PJOK kelas IX SMP Negeri 1 Bawang, Faizun Azhar, mengatakan penerapan SEM dirancang agar siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih luas melalui olahraga.

Menurutnya, siswa diberi ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus karakter sesuai dengan peran yang mereka pilih.

“Model SEM ini sengaja dipilih untuk menumbuhkan karakter siswa di berbagai bidang yang diminati,” kata Faizun.

Rangkaian Champion of Class Gracias dimulai dari latihan, persiapan teknis, technical meeting, simulasi pertandingan, kompetisi hingga penutupan.

Sejak awal, siswa terlibat dalam pembagian tugas dan persiapan turnamen. Mereka tidak hanya berlatih sebagai atlet, tetapi juga belajar menjalankan fungsi kepanitiaan dan perangkat pertandingan.

Siswa Kelola Turnamen Secara Mandiri

Tak hanya itu, para siswa yang sudah terbagi dalam berbagai divisi mulai menjalankan tugas masing-masing. Tim dokumentasi mengabadikan kegiatan, tim medis menyiapkan kebutuhan pertandingan, sementara panitia mengatur berbagai keperluan teknis.

Kegiatan dilanjutkan dengan menggelar technical meeting yang dipimpin ketua panitia. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai sistem pertandingan dan aturan yang berlaku.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan simulasi pertandingan. Tahapan tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk menguji kesiapan sekaligus memperbaiki kekurangan sebelum kompetisi resmi berlangsung.

Pertandingan utama digelar pada hari keempat mulai pukul 07.30 WIB. Kepala SMPN 1 Bawang Joko Catur Subianto bersama Faizun Azhar turut memantau jalannya kegiatan.

Joko mengapresiasi model pembelajaran tersebut karena memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam menjalankan berbagai peran di sebuah kompetisi.

“Di dunia pendidikan, hal seperti ini dibutuhkan. Dulu ketika zaman RSBI namanya Penghayatan Hidup, jadi bermain peran betul-betul bermain peran dengan totalitas. Saya mendukung baik kegiatan seperti ini,” ujarnya.

Minions dan Duo Fighters Jadi Juara

Kompetisi berlangsung di sektor putra dan putri dengan persaingan antartim yang cukup ketat.

Pada sektor putra, Minions berhasil melaju hingga partai final dan mengalahkan Puntuk Gank untuk merebut gelar juara. Bawor GG menempati posisi ketiga setelah menghadapi Doa Ibu.

Sementara di sektor putri, Duo Fighters tampil sebagai juara setelah menundukkan Shuttle Belles di partai puncak. Dynamo Smash berada di posisi ketiga setelah mengalahkan Venus Court. Namun, hasil pertandingan bukan satu-satunya capaian dalam kegiatan tersebut.

Turnamen Badminton Jadi Laboratorium Kepemimpinan

Melalui Champion of Class Gracias, siswa mendapatkan pengalaman mengelola sebuah kegiatan secara menyeluruh.

Mereka belajar mengambil keputusan, berkomunikasi, bekerja sama, mematuhi aturan serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Siswa yang tidak turun bertanding pun tetap memiliki peran penting sebagai wasit, pelatih, panitia, tim medis, reporter maupun dokumentasi.

Penerapan Sport Education Model tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran olahraga di sekolah tidak berhenti pada kemampuan bermain. Olahraga juga dapat menjadi sarana untuk melatih kepemimpinan, kemandirian, kerja sama dan tanggung jawab.

Bagi siswa kelas IX-G SMPN 1 Bawang, Champion of Class Gracias akhirnya menjadi pengalaman yang lebih dari sekadar turnamen badminton. Mereka belajar bahwa keberhasilan sebuah kompetisi ditentukan bukan hanya oleh pemain di lapangan, tetapi juga oleh kerja sama seluruh orang yang terlibat di dalamnya.

Share This Article