SEMARANG, MERCUSUARNEWS.CO – Lagu-lagu KLa Project seolah menjadi mesin waktu bagi ribuan penonton Harmony of Java 2026. Begitu Katon Bagaskara, Lilo, dan Adi muncul di panggung, Sabtu (22/8/2026) malam, suasana langsung berubah menjadi ruang nostalgia.
Penampilan KLa Project menjadi pamungkas perayaan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah di kawasan Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah, Kota Semarang.
Lagu “Gerimis” membuka penampilan mereka. Sorak penonton langsung pecah, disusul lantunan sejumlah lagu yang telah menemani perjalanan beberapa generasi.
KLa Project Bawa Penonton Kembali ke Masa Lalu
Katon, Lilo, dan Adi tampil membawakan lagu-lagu populer seperti “Menjemput Impian”, “Belahan Jiwa”, “Semoga”, “Lagu Baru”, hingga “Terpuruk”.
Ribuan penonton ikut bernyanyi. Bagi para KLanis, sebutan penggemar KLa Project, malam itu bukan sekadar konser.
Musik KLa Project membawa kembali kenangan ketika kaset menjadi bagian dari keseharian, radio menjadi teman perjalanan, dan lirik lagu menjadi cara sederhana untuk mengungkapkan perasaan. Bahkan ketika “Terpuruk” dimainkan, penonton justru bernyanyi dengan wajah penuh senyum.
“Kalian ini gimana, lagu Terpuruk kan liriknya sedih, tapi kalian kok tetap saja nyanyinya ceria?” canda Katon dari atas panggung.
Datang Jauh-jauh Demi Nostalgia
Eli Rahmawati, warga Salatiga, datang bersama lima sahabatnya. Mereka rela menempuh perjalanan dan menunggu hingga malam demi menyaksikan langsung penampilan KLa Project. Bagi Eli, konser gratis tersebut menjadi kesempatan untuk kembali menikmati lagu-lagu yang lekat dengan masa mudanya.
“Kebetulan ini gratis, jadi semua teman-teman berminat. Bisa bernostalgia, terutama untuk kami yang seusia, yang masih tahun 80-an,” ujar Eli.
Menurutnya, keseruan konser bukan hanya terletak pada musik, tetapi juga karena dapat menikmati nostalgia bersama sahabat yang memiliki kenangan serupa.
“Kesannya luar biasa menyenangkan. Semoga pesta rakyat ini menjadi dedikasi dan inspirasi untuk berikutnya ada acara yang selanjutnya,” katanya.
KLa Project Satukan Orang Tua dan Anak
Penggemar KLa Project juga datang dari berbagai usia. Antonius, warga Kota Semarang, bahkan mengajak istri dan kedua anaknya. Ia mengaku sudah menyukai KLa Project sejak grup tersebut mulai dikenal luas pada akhir 1980-an.
“Mengikuti konser ini asyik, Mas. Mantap,” ujarnya.
Kehadiran keluarga dalam konser menunjukkan bagaimana musik KLa Project mampu melampaui batas generasi. Lagu yang lahir puluhan tahun lalu tetap dapat dinikmati oleh generasi yang lebih muda.
Hal itu terlihat ketika “Tak Bisa ke Lain Hati” dan “Yogyakarta” dimainkan. Penonton usia muda pun ikut menyanyikan lagu tersebut bersama penonton yang lebih senior.
Penonton Berharap Konser Legendaris Kembali Digelar
Antonius berharap pertunjukan dengan konsep serupa dapat kembali hadir dalam perayaan berikutnya. “Mungkin bisa kembali dihadirkan artis-artis yang populer, yang legendaris dan gratis. Tetap harus merakyat,” katanya.
Harapan tersebut menggambarkan bagaimana konser musik dapat menjadi bagian dari ruang publik yang mempertemukan masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang.
“Tentang Kita” Tutup Malam Penuh Kenangan
Puncak nostalgia terjadi ketika KLa Project membawakan “Tentang Kita” sebagai lagu penutup.
Di bawah cahaya panggung, ribuan penonton bernyanyi bersama. Lagu tersebut seolah merangkum suasana malam itu: tentang kenangan, kebersamaan, dan harapan untuk kembali menikmati momen sederhana bersama orang-orang terdekat.
Harmony of Java 2026 akhirnya bukan sekadar panggung hiburan untuk merayakan usia ke-81 Jawa Tengah.
Malam itu menjadi ruang bertemunya berbagai generasi. Ada yang datang membawa kenangan masa muda, ada yang hadir bersama keluarga, dan ada pula generasi baru yang menemukan lagu-lagu lama melalui suasana konser.
KLa Project membuktikan bahwa musik memiliki cara sendiri untuk menyatukan waktu dan generasi.
Di panggung Harmony of Java 2026, nostalgia tidak sekadar dikenang. Ia dinyanyikan bersama, dirayakan, dan menjadi bagian dari kebersamaan Jawa Tengah.
“Tentang Kita” pun menutup malam itu dengan satu pesan sederhana: kembali pada kebersamaan, merawat asa, dan menjaga kepekaan nurani.
