Speling Bawa Dokter Spesialis Lebih Dekat, Jarak Tak Lagi Jadi Hambatan

Tahmid Musyafa
8 Min Read
Banyak warga memanfaatkan program speling yang digagas Pemerintah Provinsi. (dok. Pemprov)

SEMARANG – Program Dokter Spesialis Keliling atau Speling telah menjangkau 1.378 desa di 35 kabupaten/kota Jawa Tengah hingga 13 Agustus 2026, dengan 128.109 warga mendapat layanan kesehatan langsung.

Bahkan program ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat, seperti yang dialami oleh Retno, warga Desa Kapulogo, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, yang mengaku untuk dapat bertemu dokter spesialis bukan perkara mudah. Jarak sekitar 36 kilometer menuju rumah sakit terdekat, ditambah keterbatasan kendaraan, membuat akses layanan kesehatan menjadi persoalan yang harus ia hadapi.

Kondisi itu semakin berat ketika anaknya membutuhkan pemeriksaan dokter spesialis saraf akibat gangguan pembekuan darah di otak. Keterbatasan biaya dan transportasi bahkan sempat membuat pengobatan anaknya terhenti.

Situasi berubah ketika Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) hadir di desanya, dia bisa mendapatkan layanan dokter spesialis digelar di balai desa dan memberikan pemeriksaan, konsultasi, hingga pengobatan secara gratis. Retno pun kembali mendapatkan kesempatan untuk memeriksakan diri dan membawa anaknya berkonsultasi tanpa harus menempuh perjalanan puluhan kilometer ke rumah sakit.

“Saya terbantu. Kendala kami memang tidak punya kendaraan, jadi sempat berhenti berobat. Dari sini kami bisa berobat lagi,” katanya.

Kisah Retno menggambarkan persoalan yang masih dihadapi sebagian masyarakat di wilayah dengan akses layanan kesehatan terbatas. Melalui pendekatan jemput bola, Speling berupaya mendekatkan dokter spesialis kepada warga, bukan menunggu warga datang ke rumah sakit.

Speling Hadir di Tengah Keterbatasan Akses Kesehatan

Program Speling mulai dijalankan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada Maret 2025 sebagai salah satu upaya menjawab kesenjangan akses terhadap pelayanan kesehatan spesialistik. Kehadiran program ini menyasar masyarakat yang terkendala jarak, biaya transportasi, kondisi ekonomi, maupun faktor geografis.

Pelayanan dilakukan dengan membawa tenaga kesehatan dan dokter spesialis langsung ke desa. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh pemeriksaan lebih dekat dari tempat tinggalnya.

Bagi sebagian warga, kehadiran layanan tersebut bukan sekadar mempersingkat perjalanan. Speling juga membuka kembali peluang untuk mendapatkan penanganan medis yang sebelumnya sulit dijangkau.

Hingga 13 Agustus 2026, Speling telah digelar sebanyak 1.553 kali di 1.378 desa, yang tersebar di 465 kecamatan pada 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Dalam periode tersebut, sebanyak 128.109 warga telah memperoleh layanan kesehatan secara langsung.

Dari Wonosobo hingga Kendal, Warga Merasakan Manfaatnya

Manfaat Speling juga dirasakan Jamsari, warga Desa Pidodo Kulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal. Selama sekitar 15 tahun, Jamsari hidup dengan diabetes. Ia mengaku pernah tidak rutin melakukan pemeriksaan karena biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali kontrol cukup besar.

Kondisinya kemudian memburuk hingga bagian kakinya mengalami luka akibat komplikasi gula darah. “Sekali kontrol sekitar Rp450 ribu. Saya kira sudah sembuh, ternyata kaki sampai luka karena efek gula,” ujarnya.

Kehadiran Speling memberinya kesempatan kembali berkonsultasi dengan dokter spesialis tanpa harus terbebani biaya pemeriksaan. Cerita berbeda datang dari Banyumas. Feni Anindya (16), siswi SMA Negeri 2 Purwokerto, memanfaatkan layanan kesehatan jiwa yang tersedia dalam program tersebut.

Feni saat itu sedang menghadapi kebingungan dalam menentukan pilihan pendidikan setelah menyelesaikan sekolah menengah. Melalui konsultasi dengan psikolog, ia memperoleh ruang untuk membicarakan pilihan jurusan kuliah sekaligus rencana masa depannya.

“Alhamdulillah setelah berkonsultasi jadi lebih ada gambaran. Saya berharap program ini bisa dilaksanakan lagi,” katanya.

Lima Fokus Utama Layanan Speling

Program Speling tidak hanya berorientasi pada pengobatan. Salah satu kekuatannya adalah pendekatan promotif dan preventif melalui deteksi dini berbagai persoalan kesehatan.

Setidaknya terdapat lima layanan utama yang menjadi fokus, yaitu:

  1. Skrining tuberkulosis (TBC).
  2. Pemeriksaan kanker serviks.
  3. Layanan kesehatan jiwa.
  4. Pemeriksaan kesehatan ibu hamil.
  5. Pelayanan kesehatan balita, termasuk mendukung percepatan penurunan stunting.

Masyarakat dapat mengakses layanan tersebut secara gratis dengan menunjukkan kartu identitas.

Model pelayanan yang ditempatkan di balai desa juga membantu mengurangi beban biaya transportasi yang selama ini menjadi salah satu kendala masyarakat ketika harus mengakses rumah sakit.

Ribuan Kasus Terdeteksi Lewat Speling

Capaian Speling tidak hanya terlihat dari jumlah desa yang telah didatangi dan warga yang memperoleh pelayanan. Lebih jauh, program ini juga menjadi instrumen untuk menemukan persoalan kesehatan lebih awal sehingga dapat segera ditindaklanjuti.

Pada sektor kesehatan ibu dan anak, misalnya, hingga awal Agustus 2026 telah dilakukan pemeriksaan antenatal care (ANC) terhadap 15.848 ibu hamil. Dari jumlah tersebut, 12.537 ibu hamil dinyatakan dalam kondisi normal, sedangkan 3.311 lainnya membutuhkan pemantauan atau penanganan lebih lanjut.

Di sektor penanggulangan TBC, skrining telah dilakukan terhadap 53.463 warga. Hasil skrining kemudian digunakan untuk menentukan masyarakat yang masuk kategori suspek maupun membutuhkan pemeriksaan lanjutan, termasuk melalui Tes Cepat Molekuler (TCM) dan uji Mantoux.

Sementara itu, layanan kesehatan jiwa telah menjangkau 37.605 warga. Dari hasil skrining tersebut, 1.358 orang teridentifikasi membutuhkan penanganan lebih lanjut. Untuk pencegahan kanker serviks, pemeriksaan telah dilakukan terhadap 5.915 perempuan, dengan 497 kasus yang memerlukan tindak lanjut medis.

Data tersebut menunjukkan bahwa keberadaan layanan kesehatan hingga tingkat desa memiliki arti penting dalam menemukan masalah kesehatan sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Speling Terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mengembangkan Speling melalui kolaborasi dengan berbagai program kesehatan, termasuk Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang merupakan program pemerintah pusat.

Integrasi tersebut memungkinkan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yang lebih komprehensif dalam satu kesempatan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Jawa Tengah mencatat capaian CKG tertinggi secara nasional. Sebanyak 14.248.868 masyarakat telah mengikuti program tersebut, atau sekitar 37,4 persen dari total sasaran nasional.

Ahmad Luthfi: Pelayanan Kesehatan Harus Sampai Desa

Menjelang Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, keberadaan Speling menjadi bagian dari transformasi pelayanan publik di sektor kesehatan.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai kesehatan memiliki posisi strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, kondisi kesehatan masyarakat juga berkaitan erat dengan upaya meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan.

Karena itu, pelayanan kesehatan tidak cukup hanya tersedia di rumah sakit dan puskesmas. Layanan harus mampu menjangkau masyarakat di wilayah perdesaan.

“Jadi kita dorong tidak hanya pelayanan di rumah sakit tapi juga di desa. Masyarakat desa akan senang mereka dapat layanan kesehatan gratis, bisa periksa kesehatan ke dokter spesialis, anaknya yang stunting juga ditangani, termasuk kesehatan jiwa dan sebagainya,” katanya.

Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat prinsip bahwa pelayanan publik harus hadir sedekat mungkin dengan masyarakat yang membutuhkan.

Target Speling: Layani 284 Ribu Warga hingga Akhir 2026

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih akan memperluas jangkauan Speling. Hingga akhir 2026, program tersebut ditargetkan mampu memberikan pelayanan kepada sekitar 284 ribu masyarakat melalui pelaksanaan di seluruh kabupaten/kota.

Target tersebut bukan sekadar mengejar jumlah penerima layanan. Lebih penting, perluasan Speling diarahkan untuk memastikan masyarakat yang selama ini terkendala jarak, biaya, maupun kondisi geografis tetap memiliki kesempatan memperoleh layanan dokter spesialis.

Bagi Retno di Wonosobo, Jamsari di Kendal, dan Feni di Banyumas, hadirnya dokter di desa telah memberikan arti yang berbeda-beda. Namun, ketiganya memiliki pengalaman yang sama: ketika layanan kesehatan datang mendekat, jarak tidak lagi menjadi alasan untuk menunda mendapatkan pertolongan.

Di usia ke-81 Jawa Tengah, Speling menjadi salah satu gambaran bagaimana pelayanan kesehatan bergerak dari rumah sakit menuju desa, dari menunggu pasien menjadi mendatangi masyarakat, serta dari sekadar mengobati menjadi berupaya menemukan penyakit lebih awal dan menindaklanjutinya.

Share This Article