Jateng Bersholawat Tutup Hari Jadi ke-81 Jateng, Serukan Persatuan dan Kepedulian

Tahmid Musyafa
4 Min Read
Jateng bersholawat jadi penutup rangkaian hari jadi Jawa Tengah ke 81. (dok . Pemprov Jateng)

SEMARANG, MERCUSUARNEWS.CO –  Ribuan warga memenuhi Halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Minggu (23/8/2026) malam. Dalam suasana khidmat, lantunan selawat bergema dalam Jateng Bersholawat, yang sekaligus menjadi penutup rangkaian Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah.

Tak sekadar perayaan, kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat persatuan, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama. Doa juga dipanjatkan bagi masyarakat yang terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, dan sejumlah wilayah Indonesia lainnya.

Jateng Bersholawat digelar dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah, HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, serta Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H.

Jateng Bersholawat Bawa Pesan “Gumregut Nyawiji”

Mengusung tema “Wolung Puluh Siji, Gumregut Nyawiji”, kegiatan tersebut menegaskan pentingnya kebersamaan dalam membangun Jawa Tengah.

Ustadz Wijayanto yang menyampaikan mauidhoh hasanah mengatakan, selawatan menjadi pilihan yang tepat untuk memperingati hari jadi daerah karena mengandung pesan persaudaraan dan kebersamaan.

“Saya sangat mengapresiasi Jawa Tengah karena memperingati ulang tahun dengan selawatan. Tema besarnya juga luar biasa, gumregut nyawiji, artinya dari Jawa Tengah kita bersatu untuk membangun Indonesia dan Jawa Tengah yang berkeadaban,” ujarnya.

Menurutnya, selawat bukan hanya lantunan pujian kepada Rasulullah SAW, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkuat hubungan antarsesama.

Doa untuk Jateng dan Korban Bencana

Pesan persatuan juga disampaikan Habib Ali Zainal Abidin Assegaf saat memimpin jemaah berselawat. Ia juga mengajak masyarakat menjadikan keteladanan Rasulullah SAW sebagai landasan untuk menjaga kerukunan dan kepedulian.

“Dengan berselawat, kita berdoa untuk Jawa Tengah semoga masyarakatnya guyub rukun, damai, aman, dan sejahtera,” katanya.

Doa khusus juga ditujukan kepada masyarakat yang terdampak bencana di NTT, Kalimantan, serta berbagai daerah lainnya.

“Kita juga berdoa untuk saudara kita di NTT dan seluruh daerah di Indonesia,” ujarnya.

Ahmad Luthfi: Membangun Jawa Tengah Harus Bersama

Sebelum acara dimulai, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pembangunan daerah merupakan tanggung jawab bersama.

Menurut Luthfi, pemerintah tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan Jawa Tengah tanpa dukungan masyarakat.

Selama sekitar 1,6 tahun memimpin Jawa Tengah bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, ia mengakui masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Pembangunan tersebut juga menjadi bagian dari upaya melanjutkan fondasi yang telah dibangun para gubernur sebelumnya.

Karena itu, Luthfi membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan saran sebagai bahan evaluasi pemerintah.

“Hari ini kami mencoba mencatat kembali dengan nyawiji, bersatu. Konsep membangun secara bersama-sama inilah yang kami terapkan di Jawa Tengah, di mana gotong royong dan kerukunan adalah modal dasar kita,” kata Luthfi.

Gotong Royong Jadi Kekuatan Jawa Tengah

Luthfi juga mengajak masyarakat Jawa Tengah memperkuat kepedulian sosial, terutama ketika menghadapi berbagai persoalan dan bencana.

Ia berharap masyarakat yang terdampak bencana segera mendapatkan kekuatan untuk bangkit dan memulihkan kondisi.

“Semoga saudara-saudara kita dikuatkan dan segera recovery dari bencana, termasuk Jawa Tengah agar dijauhkan dari bencana,” ujarnya.

Jateng Bersholawat akhirnya menjadi lebih dari sekadar penutup rangkaian Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah. Di tengah lantunan selawat dan doa, pesan “Gumregut Nyawiji” kembali ditegaskan: bergerak bersama, menjaga kerukunan, dan saling menguatkan.

Sebab, pembangunan Jawa Tengah bukan hanya tentang ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat tetap guyub, peduli, dan hadir bagi sesama ketika menghadapi kesulitan.

Share This Article