SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperluas akses pendidikan tinggi bagi santri melalui Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren 2026. Program ini menjadi bagian dari Pesantren Obah yang digagas untuk memperkuat peran pesantren dalam pembangunan sumber daya manusia.
- 942 Pendaftar, Hanya 73 Lolos Seleksi Beasiswa Santri Jateng
- 15 Santri Dikirim Kuliah ke Luar Negeri
- Kisah Santri: Dari Pesantren ke Kedokteran Gigi Undip
- Santri Jateng Tembus Kampus Teknologi di China
- Pemprov Jateng Dorong Santri Lebih Percaya Diri
- Lulusan Diharapkan Kembali ke Pesantren
- Tali Asih untuk Penghafal Al-Qur’an
- Pesantren Jadi Pusat Pengembangan SDM Jateng
Tahun ini, ratusan santri dan pengasuh pesantren bersaing ketat untuk mendapatkan kesempatan kuliah di dalam maupun luar negeri, mulai dari China hingga Timur Tengah.
942 Pendaftar, Hanya 73 Lolos Seleksi Beasiswa Santri Jateng
Antusiasme terhadap program ini terbilang tinggi. Data Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Jawa Tengah mencatat 942 pendaftar mengikuti seleksi. Rinciannya, 702 santri dan 240 pengasuh pesantren ikut serta dalam proses seleksi. Setelah melalui tahapan ketat berupa tes akademik dan wawancara, hanya 73 peserta yang dinyatakan lolos.
Seleksi mencakup kemampuan membaca kitab kuning, hafalan Al-Qur’an, wawasan kepesantrenan, hingga pengetahuan kebangsaan.
Ketua LFSP Jawa Tengah, Hasyim Muhammad, mengatakan program ini dirancang khusus untuk membuka akses pendidikan bagi kalangan pesantren. “Banyak beasiswa di luar sana, tetapi santri salaf sering kesulitan mengakses. Karena itu, Pemprov memberikan jalur khusus ini,” ujarnya.
15 Santri Dikirim Kuliah ke Luar Negeri
Dari total penerima, 15 santri berhasil mendapatkan beasiswa luar negeri jenjang S1, sementara 58 lainnya melanjutkan studi di perguruan tinggi dalam negeri untuk jenjang S1, S2, hingga S3. Penerima beasiswa luar negeri mendapatkan fasilitas lengkap, mulai dari biaya pendidikan, visa, biaya hidup, asuransi kesehatan, hingga tiket pesawat pulang-pergi.
Sementara itu, penerima dalam negeri memperoleh bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga delapan semester. Bidang studi yang dipilih pun beragam, seperti kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat, pertanian, teknologi, humaniora, hingga studi keislaman.
Program ini merupakan pelaksanaan perdana pada 2026 dan direncanakan akan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
Kisah Santri: Dari Pesantren ke Kedokteran Gigi Undip
Salah satu penerima beasiswa adalah Aqila Keisha Haulina, santri asal Kudus yang kini diterima di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Aqila sebelumnya menempuh pendidikan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an 2 Muria dan MA Mu’allimat NU Kudus. Ia mengaku bersyukur karena beasiswa ini membantu meringankan beban keluarga.
“Sejak kecil saya ingin menjadi tenaga medis. Semoga bisa menjadi dokter gigi yang amanah dan tetap berpegang pada nilai agama,” ujarnya.
Santri Jateng Tembus Kampus Teknologi di China
Penerima lainnya, Akhmad Khafidz Al Mubarok, berhasil melanjutkan studi S1 Computer Science and Technology di Dalian University of Technology, China. Ketertarikannya pada dunia teknologi sejak kecil menjadi alasan utama memilih bidang tersebut.
Khafidz berharap ilmunya dapat bermanfaat tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga keluarga dan masyarakat.

Pemprov Jateng Dorong Santri Lebih Percaya Diri
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa santri memiliki keunggulan karena dibekali ilmu agama sekaligus pendidikan karakter. Ia mendorong para penerima beasiswa untuk percaya diri dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Luthfi juga mengajak pemerintah daerah kabupaten/kota ikut memperluas program serupa agar lebih banyak santri bisa melanjutkan pendidikan tinggi.
Lulusan Diharapkan Kembali ke Pesantren
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa beasiswa ini tidak hanya mengejar prestasi akademik. Lebih dari itu, lulusan diharapkan kembali dan berkontribusi untuk pesantren serta masyarakat.
“Pesantren butuh dokter, ahli pertanian, dan tenaga profesional lainnya,” ujarnya.
Karena itu, penerima beasiswa diharapkan tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan pesantren asalnya.
Tali Asih untuk Penghafal Al-Qur’an
Selain beasiswa pendidikan, Pemprov Jateng juga memberikan tali asih Rp1 juta kepada santri penghafal Al-Qur’an sejak 2025. Program ini tidak membatasi asal daerah. Penerima bahkan berasal dari berbagai provinsi seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta, Yogyakarta, hingga Kalimantan.
Kebijakan ini menjadi bentuk apresiasi pemerintah terhadap para penghafal Al-Qur’an sekaligus penguatan ekosistem pesantren di Jawa Tengah.
Pesantren Jadi Pusat Pengembangan SDM Jateng
Di usia ke-81, Pemprov Jawa Tengah menegaskan komitmennya menjadikan pesantren sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia.
Melalui beasiswa, bantuan, dan program pemberdayaan lainnya, santri diharapkan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.
Program ini diharapkan tidak hanya mencetak lulusan berpendidikan tinggi, tetapi juga generasi yang siap mengabdi untuk masyarakat dan daerahnya.
