Shelter Tsunami 6 Lantai Dibangun di Cilacap, Jaraknya 400 Meter dari Pantai

Malik Ibrahim
4 Min Read
Pj Sekda Cilacap Annisa Fabriana saat membuka Sosialisasi dan Koordinasi Pembangunan Shelter Tsunami Cilacap di ruang rapat BPBD Cilacap. (Pemkab Cilacap).

0MERCUSUARNEWS.CO – Pemerintah membangun shelter tsunami enam lantai di Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap. Fasilitas ini disiapkan sebagai tempat evakuasi vertikal bagi warga pesisir saat terjadi tsunami.

Shelter tersebut berada sekitar 400 meter dari garis pantai. Pembangunan berlangsung di atas lahan seluas 24.106 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 11.742 meter persegi.

Proyek ini ditargetkan selesai pada Juli 2027. Pembangunan shelter menjadi salah satu upaya pemerintah memperkuat kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Cilacap.

Shelter Tsunami Jadi Fasilitas Evakuasi Warga

Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Cilacap Annisa Fabriana mengatakan keberadaan shelter penting untuk melengkapi kesiapan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana tsunami.

Menurutnya, edukasi dan peningkatan pemahaman kebencanaan perlu berjalan bersama dengan penyediaan fasilitas evakuasi. Dengan begitu, masyarakat memiliki tempat yang dapat digunakan ketika membutuhkan evakuasi secara cepat.

“Kalau kita sudah siap, mudah-mudahan tidak perlu dipakai. Tapi setidaknya kehadiran shelter tsunami ini diharapkan memberikan rasa aman bagi masyarakat di pesisir,” kata Annisa saat membuka Sosialisasi dan Koordinasi Pembangunan Shelter Tsunami Cilacap di ruang rapat BPBD Cilacap, Rabu (30/9/2026).

Annisa juga meminta pemerintah kecamatan dan kelurahan bersama masyarakat ikut menjaga shelter tersebut. Menurut dia, masyarakat perlu memahami fungsi bangunan agar fasilitas yang dibangun dengan anggaran besar itu dapat terawat dan dimanfaatkan secara tepat.

Selain itu, Annisa meminta BPBD Cilacap memetakan kebutuhan fasilitas evakuasi serupa di wilayah pesisir lainnya. Hal itu berkaitan dengan panjang garis pantai Cilacap yang membuat kebutuhan titik evakuasi tidak hanya berada di satu kawasan.

“Kalau memang diperlukan, bisa diadakan di sebelah timur Cilacap. Shelter tsunami tidak hanya di satu titik, tetapi juga di titik lain yang membutuhkan,” ujarnya.

Nilai Kontrak Konstruksi Rp 83,25 Miliar

Pembangunan shelter tsunami Tegalkamulyan merupakan proyek Kementerian Pekerjaan Umum. Nilai kontrak konstruksinya mencapai Rp 83,25 miliar.

PT Nindya Beton mendapat pekerjaan konstruksi shelter tersebut. Sementara PT Widha menangani pengawasan dan manajemen konstruksi dengan nilai kontrak Rp 2,54 miliar.

Pejabat Pembuat Komitmen Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis III Jawa Tengah, Fahrizal Patriaman, mengatakan tahapan administrasi proyek sudah berjalan. Kontrak pekerjaan juga telah ditandatangani dan tim sudah melakukan pengukuran di lokasi.

“Sudah penandatanganan kontrak dan sudah dilakukan pengukuran di lapangan,” kata Fahrizal.

Pekerjaan konstruksi berlangsung selama 300 hari kalender. Pelaksanaan dimulai pada 25 September 2026 dan dijadwalkan berakhir pada 21 Juli 2027.

Setelah pekerjaan konstruksi selesai, proyek tersebut akan memasuki masa pemeliharaan selama 360 hari.

Shelter enam lantai itu dirancang untuk menghadapi kondisi bencana, termasuk gempa serta hantaman arus dan gelombang tsunami. Di luar kondisi darurat, bangunan tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas umum.

Pekerjaan pembangunan meliputi pondasi dan struktur bangunan, arsitektur, sistem mekanikal, elektrikal dan plambing, hingga penataan kawasan. Proyek juga menerapkan sistem manajemen keselamatan konstruksi.

Pemerintah berharap keberadaan shelter tersebut dapat memperkuat sistem mitigasi bencana di Cilacap. Warga pesisir nantinya memiliki alternatif evakuasi vertikal yang dapat digunakan ketika tsunami mengancam kawasan permukiman.

Share This Article