Bau Bangkai Ikan Sapu-Sapu Ganggu Warga Pati, Gubernur Luthfi Turun Tangan

Tahmid Musyafa
3 Min Read
Tumpukan bangkai ikan bikin resah warga karena bau busuk yang menyengat. (dok. Pemprov Jateng)

MERCUSUARNEWS.CO – Bau bangkai ikan akibat Bendung Karet Sungai Juana mengering dikeluhkan warga. Pemprov Jateng menyiapkan alat berat untuk mempercepat proses evakuasi dan penguburan.

Bau menyengat tersebut bersumber dari ribuan bangkai ikan sapu-sapu di sekitar Bendung Karet Sungai Juana, Kabupaten Pati. Kondisi ini mendapat perhatian Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Untuk mengatasi keluhan warga, bangkai ikan akan segera dievakuasi dan dikubur menggunakan alat berat.

Penanganan tersebut dilakukan setelah Pemprov Jawa Tengah menerima laporan warga terkait bau bangkai ikan yang muncul akibat mengeringnya aliran di kawasan Bendung Karet Sungai Juana.

Pemprov Jateng Siapkan Alat Berat

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Provinsi Jawa Tengah, Urip Sihabudin, mengatakan pihaknya telah turun langsung ke lokasi dan bertemu warga serta perangkat desa.

Menurut Urip, ada dua persoalan utama yang disampaikan masyarakat. Selain bau bangkai ikan sapu-sapu, warga berharap aliran air dari waduk kembali dibuka agar sungai terisi dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.

“Intinya, masyarakat mengharapkan sungai ada air kembali, sehingga bisa dimanfaatkan dan juga menghilangkan dampak bau dari ikan sapu-sapu,” ujar Urip, Selasa (8/9/2026).

Untuk mengurangi gangguan bau, Pemprov Jateng bersama Pemkab Pati sepakat mempercepat pemindahan bangkai ikan.

Bangkai tersebut rencananya dikumpulkan kemudian dikubur di lahan kosong di sekitar Bendung Karet Sungai Juana.

“Ada lahan kosong. Bangkai nanti dikubur agar bau tidak lagi mengganggu,” katanya.

Proses penanganan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Pemprov perlu mendatangkan alat berat untuk menggali lokasi penguburan dan mengevakuasi bangkai ikan.

Warga Minta Aliran Air untuk Pertanian Kembali Dibuka

Selain persoalan bau, warga juga berharap aliran air dari waduk dapat kembali masuk ke Sungai Juana. Pasalnya, keberadaan air sangat dibutuhkan petani untuk mendukung aktivitas pertanian di sekitar lokasi.

Urip mengatakan persoalan pembukaan aliran air masih membutuhkan koordinasi dengan instansi terkait yang memiliki kewenangan.

Sementara itu, Sekretaris Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Luwito Kito, mengatakan mengeringnya Bendung Karet Sungai Juana bukan kali pertama terjadi. Kondisi serupa pernah terjadi pada 2024.

Menurut dia, penanganan bangkai ikan perlu segera dilakukan untuk mencegah munculnya persoalan lingkungan dan kekhawatiran warga terhadap dampak kesehatan.

“Kami meminta air dialirkan lagi untuk pertanian dan bau bangkai ikan tertangani,” kata Luwito.

Pemprov Jateng berharap penanganan bangkai ikan dan koordinasi terkait aliran air dapat segera dilakukan sehingga keluhan warga teratasi dan kebutuhan air pertanian kembali terpenuhi.

Share This Article