Inovasi Banjarnegara: Limbah Cucian Pasir Diolah Jadi Bata Merah

Burhanuddin
3 Min Read
Limbah cucian pasir putih disulap jadi bata merah bekualitas. (dok. mercusuarnews)

MERCUSUARNEWS.CO – Limbah hasil pencucian pasir putih di Desa Petir, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, mulai diubah menjadi produk bernilai ekonomi. Material yang sebelumnya menumpuk dan berpotensi mengganggu lingkungan kini diuji coba sebagai bahan baku bata merah.

Inovasi tersebut dilakukan melalui kolaborasi warga dengan pengrajin bata merah di Desa Panggisari, Kecamatan Mandiraja. Pengolahan ini diharapkan menjadi solusi untuk mengurangi timbunan limbah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Limbah Cucian Pasir Ditargetkan Berkurang hingga 70 Persen

Wakil Ketua DPRD Banjarnegara Bambang Suparno mengatakan, pemanfaatan limbah cucian pasir sebagai bahan baku bata merah saat ini masih dalam tahap uji coba.

“Limbah dari hasil cucian pasir ini biasanya menjadi masalah setiap tahun. Alhamdulillah kita bekerja sama dengan pengrajin bata merah di Desa Panggisari,” kata Bambang.

Menurut dia, material sisa pencucian pasir terlebih dahulu dikeringkan sebelum diproses menggunakan mesin. Saat ini baru tersedia satu unit mesin untuk menguji efektivitas pengolahan.

Jika proses tersebut berjalan optimal, pemanfaatan limbah diperkirakan mampu mengurangi timbunan material hingga sekitar 70 persen.

Namun, kapasitas produksi masih terbatas. Tambahan mesin diperlukan apabila seluruh material yang menumpuk akan diolah.

“Kalau diangkat semua nanti perlu mesin satu lagi, karena ini baru ada satu mesin untuk dicoba,” ujarnya.

Bata Hasil Limbah Dinilai Lebih Halus dan Kuat

Pengrajin bata merah asal Desa Petir, Atong Subianto, mengatakan hasil uji coba sejauh ini cukup menjanjikan. Setelah melalui proses pembakaran, bata yang dibuat dari limbah cucian pasir dinilai memiliki tekstur lebih halus dan kekuatan yang baik.

“Memang masih uji coba, tetapi dari hasil pembakaran sementara sangat memuaskan. Bata merahnya lebih halus dan lebih kuat,” ujar Atong.

Ia menyebut potensi pemanfaatan material tersebut tidak berhenti pada produksi bata merah. Dengan pengembangan lebih lanjut, bahan baku yang sama berpeluang digunakan untuk membuat bata tempel maupun bata hias.

“Bahan baku ini sebetulnya bisa dibuat lebih dari bata merah, contoh untuk bata tempel dan bata untuk hias,” katanya.

Berpotensi Jadi Sumber Ekonomi Baru Warga

Pengolahan limbah cucian pasir juga diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat sekitar. Warga yang selama ini terdampak persoalan limbah, terutama di sekitar aliran sungai, diharapkan dapat terlibat dalam proses produksi.

Selain mengurangi material yang menumpuk, pemanfaatan limbah menjadi bahan bangunan dinilai berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi baru di tingkat masyarakat.

Untuk tahap awal, bata merah hasil pengolahan tersebut diperkirakan akan dipasarkan dengan harga sekitar Rp600-Rp650 per buah.

Jika hasil uji coba menunjukkan hasil konsisten dan didukung penambahan peralatan, pengolahan limbah cucian pasir di Desa Petir berpeluang menjadi solusi lingkungan sekaligus sumber pendapatan baru bagi warga.

Material yang sebelumnya menjadi persoalan kini mulai diarahkan menjadi produk bangunan yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Share This Article