Mengenal Hutan Payau Cilacap, Ekowisata Bersejarah Sejak 1978 yang Kaya Daya Tarik Alam

Akmil Musyafa
3 Min Read
Wisata Hutan Payau Cilacap yang sudah dirintis sejak tahun 1978. (Foto: visitjawatengah.jatengprov.go.id)

MERCUSUARNEWS.CO – Wisata Hutan Payau Cilacap semakin menarik perhatian wisatawan lokal maupun luar daerah. Kawasan ekowisata yang kaya akan vegetasi mangrove ini menyuguhkan kombinasi keindahan alam pesisir dan sejarah panjang pelestarian lingkungan di Kabupaten Cilacap.

​Dirintis Sejak 1978 dan Ditetapkan Jadi Hutan Kota

​Rintisan kawasan ini dimulai sejak tahun 1978 melalui penanaman vegetasi bakau di atas lahan rawa pesisir. Penanaman awal tersebut ditujukan untuk melindungi garis pantai dari ancaman abrasi sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut dan daratan di kawasan Segara Anakan.

​Setelah dikembangkan selama beberapa dekade, status kawasan ini diperkuat secara hukum. Bupati Cilacap mengeluarkan keputusan resmi pada 2 Maret 2009 yang menetapkan Hutan Payau sebagai hutan kota. Langkah ini tidak hanya memberikan kepastian administratif, tetapi juga mengarahkan tata kelola kawasan sebagai ruang terbuka hijau dan destinasi ekowisata.

​Kaya Keanekaragaman Hayati di Lahan 10 Hektar

​Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektar, Hutan Payau Cilacap kini ditumbuhi lebih dari 15.000 pohon mangrove. Berbagai jenis mangrove hidup di kawasan ini, di antaranya tancang, api-api, bakau bandul, dan bakau kacangan. Vegetasi ini dipadu dengan tanaman asosiasi seperti jeruju, waru, dan ketapang.

​Akar-akar mangrove yang terikat kuat berperan menahan gempuran ombak demi mencegah erosi pesisir. Selain penahan abrasi, ekosistem ini menjadi benteng alami serta habitat aman bagi ikan, udang, dan beragam spesies burung pesisir.

​Spot Jembatan Mesra dan Fasilitas Penunjang

​Pengelola terus membenahi sarana penunjang untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Wisatawan dapat menyusuri lorong-lorong hijau di atas jembatan kayu yang melintasi hamparan hutan payau.

​Salah satu spot favorit wisatawan adalah Jembatan Mesra, jalur kayu sepanjang sekitar 300 meter yang kerap dijadikan area bersantai dan latar berfoto. Di sepanjang jembatan, tersedia gubuk-gubuk kecil untuk tempat beristirahat sejenak.

​Area yang menghadap langsung ke Segara Anakan menyajikan pemandangan laut yang menawan, cocok untuk kegiatan piknik, edukasi lingkungan, maupun agenda komunitas. Ke depan, pengelola juga merencanakan penambahan wahana baru seperti kolam pemancingan.

​Pusat Edukasi Lingkungan dan Aksesibilitas

​Lokasi Hutan Payau Cilacap sangat mudah dijangkau dari pusat kota menggunakan jalur darat. Pengunjung disarankan datang pada pagi atau sore hari demi mendapatkan cuaca sejuk serta pencahayaan alami yang ideal untuk berfoto.

​Selain sebagai tempat rekreasi, kawasan ini aktif dimanfaatkan oleh pelajar, mahasiswa, dan komunitas sebagai laboratorium alam untuk mempelajari pelestarian mangrove. Pemerintah daerah bersama Perhutani dan warga sekitar terus menggalakkan rehabilitasi berkala demi menjaga kelestarian ekosistem pesisir ini secara berkelanjutan.

Share This Article