MERCUSUARNEWS.CO — Bagi masyarakat yang mencari destinasi wisata alam yang sejuk, alami, dan ramah di kantong, Situ Tirta Marta di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, bisa menjadi pilihan utama. Telaga dengan kejernihan air bagaikan kristal ini kian populer di kalangan wisatawan lokal maupun luar daerah.
Berada di Dusun I, Desa Karangcegak, Kecamatan Kutasari, destinasi ini menawarkan sensasi berenang hingga berfoto di dalam air (underwater) dengan latar dasar telaga yang terlihat sangat jelas. Daya tarik visual inilah yang kerap diburu para pengunjung, khususnya kalangan muda pencinta fotografi.
Untuk menikmati kesegaran mata air alami ini, pengunjung tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Tarik tiket masuk yang dikenakan sangat terjangkau, yakni Rp5.000 pada hari biasa (Senin–Jumat) dan Rp7.500 pada akhir pekan (Sabtu–Minggu).
Akses menuju lokasi terbilang mudah. Berjarak sekitar 8–10 kilometer dari pusat Kota Purbalingga, jalur menuju lokasi sudah beraspal mulus sehingga aman dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Fasilitas yang disajikan di kawasan wisata ini tergolong lengkap, antara lain:
- Area parkir kendaraan yang luas
– Gazebo dan tempat duduk santai di bawah pepohonan rindang
- Kamar bilas dan toilet umum
- Warung makan serta minuman khas pedesaan
- Spot foto underwater dan penyewaan ban pelampung
- Mushola untuk sarana ibadah
Berbalut Legenda Abad ke-15
Di balik keindahan alamnya, Situ Tirta Marta menyimpan kisah legenda historis yang melekat di masyarakat setempat sejak abad ke-15.
Konon, telaga ini bermula dari perjalanan Raden Jaka Kusuma, putra Adipati Purbalingga, yang membawa kendi berisi banyu panguripan (air kehidupan) untuk sang kakak, Surya Kusuma.
Saat melintasi kawasan hutan yang kini menjadi Desa Karangcegak, kendi tersebut terjatuh hingga pecah.
Dari pecahan kendi itulah memancar mata air pertama yang dinamai mata air Sirah. Seiring berjalannya waktu, aliran air tersebut meluas hingga membentuk telaga besar. Pemerintah daerah setempat kemudian meresmikan penamaan kawasan ini menjadi Situ Tirta Marta sekitar tahun 1973.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Purbalingga bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) terus melakukan penataan sarana dan peningkatan promosi. Pengelolaan difokuskan agar Situ Tirta Marta tetap nyaman dikunjungi sebagai ruang rekreasi keluarga tanpa merusak fungsi utamanya sebagai ekosistem mata air alami.
