Tradisi Ujungan Gumelem Digelar, Warga Banjarnegara Berharap Hujan Segera Turun

Tahmid Musyafa
6 Min Read
Tradisi Ujungan Gumelem digelar di Desa Gumelem Wetan, Banjarnegara. Ribuan warga menyaksikan ritual turun-temurun sebagai ikhtiar memohon hujan. (Mercusuarnews)

MERCUSUARNEWS.CO – Kemarau panjang menyebabkan sejumlah lahan pertanian terancam gagal panen, ada acara unik yang dilakukan warga Desa Gumelem, Kecamatan Susukan dalam tradis ritual meminta hujan.

Seni saling pukul bagian kaki dengan menggunakan rotan bukanlah untuk saling menyakiti, tetapi ini menjadi bagian dari tradisi leluhur warga setempat dalam meminta hujan. Tradisi yang sudah diwariskan turun temurun ini dikenal dengan nama Ujungan.

Ribuan warga memadati lapangan Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Banjarnegara, Jumat (25/9/2026) sore. Mereka menyaksikan tradisi Ujungan Gumelem, ritual turun-temurun yang dipercaya masyarakat sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan di tengah kekeringan.

Di tengah arena, dua laki-laki berhadapan. Secara bergantian, mereka menyabetkan rotan ke bagian kaki lawan. Suara sorak warga mengiringi setiap benturan rotan yang menjadi bagian dari ritual budaya tersebut.

Ujungan Gumelem, Tradisi Memohon Hujan

Ketua Adat Desa Gumelem Wetan, Budi Sulistyo, mengatakan Ujungan bukan sekadar pertunjukan adu ketangkasan. Bagi masyarakat setempat, tradisi ini memiliki nilai spiritual sebagai bentuk doa bersama agar hujan segera turun.

“Ini tradisi turun-temurun untuk memohon hujan. Harapannya Allah mengabulkan doa masyarakat Gumelem dan sekitarnya yang sedang mengalami kekurangan air,” ujarnya.

Menurut Budi, pelaksanaan Ujungan biasanya dimulai pada Jumat Kliwon. Jika hujan belum turun, ritual dapat kembali digelar pada Jumat berikutnya hingga masyarakat mendapatkan hujan yang diharapkan.

Para pemain yang masuk arena bukan sembarang peserta. Mereka merupakan warga yang memiliki kemampuan sekaligus terbiasa mengikuti tradisi Ujungan.

Seiring perkembangan zaman, aturan dalam Ujungan juga mengalami perubahan. Budi menyebut sasaran pukulan kini dibatasi dari bagian paha hingga kaki.

“Berbeda dengan sebelum tahun 1980, ketika sasaran pukulan masih bebas hingga kepala,” ungkapnya.

Tradisi Ujungan Gumelem digelar di Desa Gumelem Wetan, Banjarnegara. Ribuan warga menyaksikan ritual turun-temurun sebagai ikhtiar memohon hujan
Tradisi Ujungan Gumelem digelar di Desa Gumelem Wetan, Banjarnegara. Ribuan warga menyaksikan ritual turun-temurun sebagai ikhtiar memohon hujan. (dok. warga)

Sempat Berdarah, Pemain Ujungan Tak Menyimpan Dendam

Benturan rotan dalam Ujungan tak jarang membuat peserta mengalami luka hingga mengeluarkan darah. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi sumber permusuhan di antara para pemain.

Budi mengatakan hubungan antar peserta tetap baik setelah ritual berakhir.

“Dendam hanya ada di dalam arena. Setelah selesai, semuanya kembali bersaudara,” katanya.

Salah seorang peserta, Basiran, mengaku tidak gentar meski kakinya berkali-kali terkena sabetan rotan hingga berdarah.

Baginya, rasa sakit bukan hal utama ketika berada di arena Ujungan.

“Rasanya asyik saja. Tidak ada rasa sakit,” ujarnya.

Basiran berharap ritual yang dapat dilaksanakan hingga tiga atau empat kali tersebut menjadi ikhtiar masyarakat untuk menghadirkan hujan.

Kemarau panjang, kata dia, telah menyulitkan petani memperoleh air untuk mengairi lahan pertanian.

“Harapannya setelah Ujungan ini hujan turun, supaya petani mudah mendapatkan air dan semuanya kembali enak,” katanya.

Dibalik Sejarah Lahirnya Seni Tradisi Ujungan

Diperoleh informasi, konons ejarah munculnya seni ujungan dalam tradisi masyarakat Gumelem ini muncul saat puncak musim kemarau, dimana kala itu masyarakat saling berebut air untuk kebutuhan pertanian, tak jarang kondisi ini menyebabkan masyarakat saling serang hingga menyebabkan korban jiwa.

Peristiwa tersebut terjadi karena adanya perselisihan atau perkelahian antara dua orang petani setempat pada masa lalu saat terjadi kemarau panjang. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1813.

Saat itu, Desa Gumelem Wetan sedang dilanda kekeringan yang sangat panjang, sehingga membuat tidak sedikit petani kerap berebut air untuk keperluan sawah atau ladang.  Suatu hari, di sebuah sumber air, terjadi pertengkaran antara dua petani yang sedang berebut air untuk mengairi sawah.

Ki Singakerti, salah satu penduduk, melihat kejadian itu dan berusaha untuk melerai, tetapi gagal.  Akhirnya, Ki Singakerti pun memberikan masing-masing dari mereka sebilah Kayu Rasihe untuk saling sabet.

Kejadian penyabetan berlangsung cukup lama, membuat tubuh kedua petani tersebut luka-luka dan bercucuran darah.  Tidak berselang lama, turunlah hujan dengan sangat deras. Kedua petani ini kemudian tersadarkan atas perbuatan yang mereka lakukan.

Mereka saling meminta maaf dan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah menurunkan hujan.  Peristiwa “saling sabet” antara kedua petani tersebut, oleh Ki Singakerti dan para Demang di Gumelem dijadikan sebagai momentum yang kemudian menjadi tradisi bernama Ujungan.

Pemkab Banjarnegara Dorong Pelestarian Ujungan

Sekretaris Daerah Banjarnegara Hendro Cahyono mengatakan pemerintah daerah mendukung keberadaan Ujungan sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat.

Menurutnya, pelestarian tradisi perlu dilakukan agar Ujungan tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kami harapkan tradisi ini terus diuri-uri agar tetap lestari. Pemkab melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan terus melakukan pembinaan, dan Ujungan juga diusulkan sebagai warisan budaya tak benda,” ujar Hendro.

Bagi masyarakat Gumelem, Ujungan bukan sekadar tradisi tahunan. Ritual tersebut menjadi ruang berkumpul warga sekaligus simbol ikhtiar bersama menghadapi kekeringan dan menjaga warisan budaya yang telah berlangsung lintas generasi.

Share This Article