PuMERCUSUARNEWS.CO – Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan permintaan maaf atas dugaan keracunan yang dialami ratusan siswa SMAN 1 Sampang, Kabupaten Cilacap, setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). BGN memastikan akan menanggung proses pemulihan siswa yang mengalami keluhan kesehatan.
Korwil BGN Kabupaten Cilacap Yuda Prasetyo mengatakan pihaknya mendapat arahan untuk memastikan seluruh korban memperoleh penanganan hingga kondisi mereka pulih. BGN juga menyiapkan trauma healing untuk membantu pemulihan psikologis siswa.
“BGN sendiri memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian musibah ini. BGN di sini akan bertanggung jawab secara penuh untuk pemulihan korban sampai sembuh total,” kata Yuda, Kamis (24/9/2026).
BGN Tunggu Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Terkait penyebab kejadian, BGN belum dapat memberikan kesimpulan. Tim masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui faktor yang memicu munculnya keluhan kesehatan pada siswa.
Menurut Yuda, proses pemeriksaan membutuhkan waktu sekitar 10-14 hari. Tim melakukan pemeriksaan melalui Labkesda dan pengujian di wilayah Jawa Tengah.
“Kalau dugaan sementara itu masih kita menunggu hasil uji lab. Tapi untuk penelusuran sementara, kemarin mungkin ada indikasi kelebihan batas waktu jam konsumsi,” ujarnya.
Meski begitu, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan. Petugas masih memeriksa berbagai kemungkinan, termasuk kondisi makanan yang siswa konsumsi.
Berdasarkan berita acara dan surat jalan, SPPG Sidasari 1 Sampang mengirim makanan sekitar pukul 10.00 WIB. Siswa kemudian mulai mengonsumsi makanan sekitar pukul 12.00 WIB.
Yuda menjelaskan SOP mengatur batas waktu konsumsi makanan setelah makanan matang. Proses pengemasan membutuhkan waktu sekitar satu jam, sedangkan pengantaran juga memerlukan waktu sekitar satu jam.
“Kalau kita lihat itu kemarin dari rentetan waktu konsumsi, tapi juga tidak menutup kemungkinan di kondisi makanan,” kata Yuda.
Karena itu, BGN masih menunggu hasil uji laboratorium sebelum menentukan faktor yang memicu dugaan keracunan tersebut.
BGN Siapkan Pengobatan dan Trauma Healing
Selain pengobatan, BGN menyiapkan trauma healing bagi siswa yang terdampak. Langkah tersebut bertujuan membantu siswa melewati dampak psikologis setelah mengalami keluhan kesehatan.
“Untuk BGN sendiri sampai hari ini, atas perintah pimpinan, ini untuk korban itu hanya sampai di penyembuhan total dan trauma healing,” jelas Yuda.
Langkah pemulihan juga mencakup komunikasi dengan sekolah dan orang tua mengenai keberlanjutan program MBG di SMAN 1 Sampang. BGN berencana meminta orang tua mengisi angket untuk mengetahui pilihan mereka terkait program tersebut.
“Nanti dari pihak orang tua itu akan kita berikan angket apakah mau melanjutkan atau stop untuk menerima paket MBG,” ujarnya.
Apabila sekolah dan orang tua memilih melanjutkan program MBG, BGN akan mengalihkan penyediaan makanan kepada SPPG terdekat.
“Kalau melanjutkan nanti akan di-cover oleh SPPG yang terdekat,” kata Yuda.
BGN Belum Siapkan Kompensasi
Untuk saat ini, BGN memusatkan perhatian pada pengobatan dan pemulihan siswa. Lembaga tersebut belum menyiapkan kompensasi khusus di luar penanganan kesehatan dan trauma healing.
“Untuk kompensasi sih hari ini sampai detik ini belum ada,” ungkap Yuda.
BGN juga meminta semua pihak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebelum menyimpulkan penyebab kejadian tersebut.
Sebelumnya, ratusan siswa SMAN 1 Sampang mengeluhkan sejumlah gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG. Keluhan yang muncul antara lain pusing, mual, muntah hingga diare.
Pihak sekolah kemudian menangani siswa yang mengalami keluhan. Enam siswa menjalani perawatan di Puskesmas Sampang, sedangkan 19 siswa mendapat penanganan di RSUD Cilacap.
BGN memastikan proses pengobatan tetap berjalan tanpa menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Setelah hasil pemeriksaan keluar, tim terkait akan menggunakannya sebagai dasar untuk menentukan langkah selanjutnya.
Hingga Kamis (24/9/2026), BGN masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan tersebut. Trauma healing juga masuk dalam agenda pemulihan siswa setelah kejadian itu.
