MERCUSUARNEWS.CO – Di tengah melesatnya tren kajian tasawuf dan ilmu penataan hati, Pengasuh Ponpes Alifbaa Banjarnegara, Muhammad Mikhdlom Nihrir atau Gus Mikh, memberikan pengingat keras bagi umat Islam.
Ia menegaskan pentingnya membangun fondasi syariat dan fiqih sebelum mendalami tingkatan spiritual yang lebih jauh.
Gus Mikh mengibaratkan perjalanan spiritual seperti usaha mencari mutiara di dasar laut. Dalam tatanan tersebut, ilmu syariat adalah kapal, ilmu tarekat adalah lautan, dan ilmu hakikat adalah mutiara yang dicari.
“Jangan ambil risiko mencari mutiara tanpa menaiki kapal, jika tidak ingin mati konyol. Tidak perlu memaksa diri berenang dari bibir pantai menuju tengah lautan,” kata Gus Mikh.
Ia menyoroti kecenderungan sebagian kalangan yang menganggap kajian kitab fiqih dasar kurang bergengsi dibandingkan kitab-kitab tasawuf rujukan utama. Padahal, pemahaman fiqih dasar seperti tata cara wudu dan mandi junub merupakan fardlu ‘ain atau kewajiban individu yang amat mendesak.
Menurutnya, mengabaikan hukum dasar demi terlihat sudah berada di tingkatan spiritual tinggi justru berisiko menyesatkan diri sendiri. Mengaji agama memiliki tingkatan atau anak tangga yang wajib dilalui secara bertahap.
Selain itu, Gus Mikh juga mengkritik sikap sebagian masyarakat yang terkesan meremehkan aturan hukum halal dan haram dengan kalimat pembenaran seperti “yang penting hatinya” atau “Allah Maha Baik”.
“Melanggar aturan Allah adalah bentuk ketidakpatuhan. Bukan hanya membuat hati tidak tertata, tetapi juga merusak hubungan dengan Tuhan. Jika diteruskan, hati bisa jadi remuk tak berbentuk,” tegasnya.
Untuk menggambarkan pentingnya kesungguhan belajar, ia mencontohkan dispensasi hukum dalam salat, seperti bagi orang yang belum lancar membaca Al-Fatihah. Keringanan aturan dalam fiqih merupakan jalan keluar darurat, namun tidak pernah menggugurkan kewajiban seseorang untuk tetap belajar.
“Keringanan adalah jembatan darurat, bukan rumah tinggal. Seseorang tetap wajib mempelajari Al-Fatihah meskipun harus menempuh jarak dan mengeluarkan biaya,” ujar Gus Mikh.
Bagi Gus Mikh, mempelajari fiqih bukan sekadar urusan gengsi akademis atau spiritual, melainkan bentuk ketaatan mendasar seorang hamba. Syariat adalah kapal utama yang harus disiapkan secara matang sebelum seseorang memberanikan diri berlayar mengarungi samudra keimanan.
