Tanda Hilangnya Rasa Malu di Tengah Masyarakat yang Mengancam Moralitas

Burhanuddin
4 Min Read
Ilustrasi orang menutup wajah.(dok Magnific)

​MERCUSUARNEWS.CO – Rasa malu yang merupakan perhiasan iman dan benteng terakhir penjaga seorang hamba dari perbuatan hina dinilai kian mengikis di tengah kehidupan masyarakat modern. Hilangnya benteng moral ini menjadi awal dari kerusakan akhlak yang nyata sebagaimana peringatan Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Jika engkau tidak malu, lakukanlah sesukamu.”

​Fenomena sosial ini ditandai oleh beberapa perubahan perilaku mendasar yang mencerminkan hilangnya kompas hati dalam menjaga batas-batas syariat dan kehormatan diri.

​Maksiat Dilakukan Terang-terangan

Tanda paling nyata dari hilangnya rasa malu adalah ketika perbuatan maksiat dilakukan secara terbuka tanpa beban. Hal-hal yang dahulu disembunyikan kini justru dipamerkan secara luas bahkan dijadikan konten media sosial demi popularitas.

Padahal, Allah SWT telah menegaskan dalam QS. Al-A’raf: 33 bahwa segala bentuk kefasikan merupakan hal yang diharamkan.

Imam Ibnul Qayyim juga menegaskan bahwa dosa yang dilakukan secara terang-terangan memiliki bobot keburukan yang jauh lebih besar daripada dosa yang disembunyikan, karena hal tersebut mencerminkan hilangnya rasa takut kepada Allah SWT.

​Nasihat Dianggap sebagai Gangguan

Pergeseran sikap masyarakat juga terlihat ketika upaya perbaikan atau nasihat kebaikan justru direspons dengan amarah dan penolakan. Orang yang berusaha mengingatkan malah dijauhi, sementara pujian lebih disukai daripada pengarahan menuju kebenaran.

Kondisi ini bertolak belakang dengan nilai dalam QS. Al-‘Asr yang memuji hamba yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ketika nasihat tidak lagi dihargai, kerusakan moral menyebar jauh lebih cepat karena masyarakat lebih memilih pembenaran daripada perbaikan diri.

​Pergeseran Fungsi Pakaian dan Penjagaan Aurat

Tanda berikutnya tampak pada cara berpakaian yang tidak lagi ditujukan untuk menutup aurat, melainkan untuk menarik perhatian publik. Fenomena wanita berpakaian tetapi telanjang yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW kini menjadi kenyataan sosial.

Allah SWT telah memerintahkan dalam QS. An-Nur: 31 agar laki-laki dan perempuan menutup aurat dengan baik. Aurat bukan sekadar bagian tubuh, melainkan simbol kehormatan diri yang harus dijaga.

Runtuhnya kesadaran menutup aurat menjadi indikator kuat lunturnya rasa malu dari dalam hati.

​Kebanggaan atas Kebohongan dan Pencitraan

Masyarakat yang kehilangan rasa malu juga cenderung bangga hidup dalam kepalsuan.

Pemalsuan identitas, ucapan, dan pencitraan dilakukan demi terlihat baik di depan manusia. Imam Syafi’i pernah menyatakan bahwa barangsiapa menghias dirinya dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, maka Allah SWT akan mempermalukannya. Kebiasaan berdusta ini melenyapkan rasa takut kepada Sang Pencipta, padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa kedustaan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan akan mengarahkan pada neraka.

​Pencemoohan Terhadap Perbuatan Baik

Tanda terakhir yang memprihatinkan adalah ketika nilai-nilai kebaikan justru mendapatkan penolakan dan ejekan. Orang yang menjaga diri dan taat menjalankan agama sering kali dicap kuno atau kurang pergaulan. Kondisi terbaliknya standar nilai ini sangat berbahaya bagi bangunan moral bangsa. Ketika perbuatan dosa dianggap biasa dan ketaatan dianggap aneh, masyarakat berada dalam ancaman kehilangan kompas arah kebaikan.

​Upaya Mengembalikan Kesadaran Moral

Kendati fenomena ini terus meluas, benteng rasa malu tetap dapat dipupuk kembali melalui pendekatan ilmu, ibadah, dan pembentukan lingkungan sosial yang baik.

Islam mengajarkan bahwa rasa malu merupakan bagian tak terpisahkan dari iman yang harus dijaga setiap hari melalui pemeliharaan pandangan, lisan, perilaku, serta penjagaan hati dari hal-hal syubhat. Bergaul dengan orang saleh dan terus berdoa memohon ketetapan hati kepada Allah SWT menjadi langkah krusial agar nilai kehormatan diri tetap terjaga di tengah tantangan zaman.

Share This Article