7 Kiat Utama Mewujudkan Rumah Tangga Sakinah Mawaddah Rahmah

M Salman
5 Min Read
Ilustrasi gambar sebuah keluarga.(dok Magnific)

​MERCUSUARNEWS.CO — Rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah merupakan impian bagi setiap pasangan yang beriman. Tiga pilar tersebut sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 21 merupakan tanda kebesaran Allah SWT. Rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal fisik, melainkan wahana menenangkan jiwa yang di dalamnya terpancar cinta, pengampunan, serta keberkahan guna menguatkan hubungan suami istri.

​Langkah pertama yang harus ditanamkan adalah menguatkan niat ibadah dalam pernikahan. Ketika pasangan suami istri menikah atas dasar niat karena Allah SWT, setiap persoalan hidup yang timbul akan bernilai sebagai ladang pahala.

Sebagaimana bersabda Rasulullah SAW bahwa dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salihah. Niat ibadah ini memastikan keberadaan rumah tangga senantiasa berada dalam penjagaan Allah SWT.

​Niat yang lurus tersebut memudahkan suami dan istri untuk saling memaafkan. Keduanya menyadari keterbatasan manusia yang tidak sempurna, namun mampu saling melengkapi serta menutupi kekurangan. Imam Ibnul Qayyim pernah menyatakan bahwa pernikahan merupakan bentuk kerja sama dua insan dalam perjalanan menuju Allah SWT. Kehadiran niat yang benar menjadikan segala kesulitan terasa lebih ringan.

​Kiat kedua terletak pada pembangunan komunikasi yang dipenuhi rasa kasih sayang. Komunikasi dari hati ke hati antara suami dan istri dapat mencegah terjadinya kesalahpahaman. Allah SWT memerintahkan setiap hamba untuk senantiasa berkata baik, mengingat ucapan yang lembut berdaya melunakkan hati yang keras. Kata-kata yang santun menjadi salah satu sumber sakinah di dalam rumah.

​Pola komunikasi yang baik ini hendaknya tidak hanya diterapkan saat menghadapi permasalahan. Hubungan yang sehat justru terbangun dari dialog ringan sehari-hari yang mendekatkan ikatan batin. Rasulullah SAW bahkan kerap bercanda dengan para istri beliau untuk menciptakan suasana hangat. Rumah yang dipenuhi perkataan lembut dipastikan akan senantiasa diselimuti rahmah.

​Langkah ketiga yakni pembagian peran secara adil dan saling memahami. Suami mengemban amanah sebagai pemimpin rumah tangga, sedangkan istri berperan sebagai penjaga rumah serta pendamping utama. Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT kepada suami untuk menafkahi dan menjaga keluarga dalam Surat An-Nisa ayat 34. Pemahaman atas peran masing-masing menciptakan keselarasan dan harmoni dalam rumah tangga.

​Pembagian peran ini tidak menandakan salah satu pihak lebih mulia dibanding yang lain. Kedua belah pihak memiliki nilai yang setara dan berhak mendapatkan penghormatan. Rasulullah SAW sendiri memberikan keteladanan dengan turut membantu pekerjaan rumah tangga. Kerja sama antara suami dan istri memperkokoh ikatan keluarga dalam suka maupun duka.

​Kiat keempat adalah kebiasaan saling memaafkan sebelum tidur. Rasulullah SAW mengajarkan agar seorang mukmin menghindari sifat memelihara dendam. Hati yang bersih mempermudah turunnya keberkahan ke dalam rumah. Sikap saling meminta dan memberi maaf menjadi salah satu kunci hadirnya rahmah dalam kehidupan berkeluarga.

​Perasaan marah yang dipendam hanya akan melukai batin dan merenggangkan hubungan. Oleh sebab itu, para ulama menasihatkan agar setiap permasalahan diselesaikan pada hari yang sama. Proses saling memaafkan membuat rasa cinta kembali tumbuh lebih kuat, sehingga rumah benar-benar berfungsi sebagai tempat peristirahatan jiwa, bukan arena perselisihan.

​Langkah kelima ditempuh dengan menjaga pelaksanaan ibadah bersama. Aktivitas seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, hingga saling mendoakan menjadi sumber kedamaian utama. Rasulullah SAW bersabda bahwa rumah yang di dalamnya dibacakan Surat Al-Baqarah akan dijauhi oleh setan. Pelaksanaan ibadah bersama turut mengundang kedatangan malaikat untuk menaungi keluarga.

​Rutinitas ibadah bersama mampu menjaga kedekatan hati pasangan meski tengah diuji berbagai masalah. Pasangan suami istri yang mengawali hari dengan doa senantiasa dimudahkan dalam urusannya. Para ulama menegaskan bahwa rumah yang dekat dengan Allah SWT akan jauh dari pertengkaran, yang menjadi rahasia keberkahan rumah tangga.

​Kiat keenam yaitu saling memuji dan menghargai kebaikan-kebaikan kecil. Kebaikan sederhana mampu menjadi penyambung rasa cinta yang besar. Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun, termasuk sebuah senyuman. Apresiasi kecil dari pasangan sanggup menghangatkan perasaan sepanjang hari.

​Pujian dari suami kepada istri serta rasa menghargai dari istri terhadap suami menghadirkan keceriaan dalam hubungan. Banyak kegagalan rumah tangga dipicu oleh kelalaian menghargai hal-hal kecil, padahal ucapan terima kasih berdaya menjaga kekokohan bahtera pernikahan. Penghargaan berfungsi sebagai pupuk bagi hadirnya mawaddah.

​Langkah ketujuh adalah menjadikan kesabaran sebagai pakaian sehari-hari. Tidak ada rumah tangga yang luput dari ujian, namun keluarga yang bersabar akan mampu bertahan melintasi berbagai badai kehidupan. Allah SWT berjanji bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Insyirah. Melalui kesabaran, rumah tangga akan diliputi sakinah, mawaddah, dan rahmah yang kokoh serta berkelanjutan.

Share This Article