Empat Tahun Menanti, Pemkab Banyumas Lanjutkan Pembangunan Jembatan Sungai Logawa

Redaksi
2 Min Read
Pemkab Banyumas resmi melanjutkan pembangunan tahap keempat jembatan permanen di atas Sungai Logawa, ruas jalan Baseh–Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas. (dok. Pemkab Banyumas)

​MERCUSUARNEWS.CO — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas resmi melanjutkan pembangunan tahap keempat jembatan permanen di atas Sungai Logawa, ruas jalan Baseh–Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Senin (24/8/2026). Proyek ini menjadi angin segar bagi warga Grumbul Cibun, Desa Sunyalangu, setelah menanti kepastian kelanjutan pembangunan sejak akhir 2022.

​Pembangunan tahap IV ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, didampingi anggota DPR RI Yanuar Arif Wibowo serta Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Banyumas Kresnawan.

​Kepala Dinas PU Banyumas, Kresnawan, menjelaskan bahwa pekerjaan konstruksi tahap ini didukung penganggaran kolaboratif antara APBD Kabupaten Banyumas sebesar Rp2,1 miliar dan bantuan gelagar dari pemerintah pusat senilai sekitar Rp5 miliar.

​”Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Yanuar yang telah ikut mengawal kegiatan ini sehingga mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat. Bantuan melengkapi anggaran yang ada,” ujar Kresnawan.

​Ia menambahkan, setelah jembatan rampung, masih diperlukan tahapan berikutnya untuk membangun dan meneruskan jalan di seberang sungai agar jembatan dapat difungsikan secara optimal oleh kendaraan roda empat.

​Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan penganggaran jalan penghubung tersebut. Sadewo memperkirakan proyek pengerjaan jalan seberang baru bisa direalisasikan pada 2028.

​”Kalau tahun 2027 sepertinya agak susah. Mudah-mudahan nanti 2028 bisa jalan. Untuk kebutuhan pelebaran jalan, warga tadi sudah sepakat dan siap menyerahkan lahan mereka tanpa meminta ganti rugi,” ungkap Sadewo.

​Jembatan permanen Sungai Logawa dirancang memiliki panjang 60 meter dan lebar 8 meter, dengan target waktu pengerjaan selama 5 bulan.

​Sektor aksesibilitas ini sangat vital bagi ekonomi masyarakat setempat. Salah satu warga Grumbul Cibun, Wartun, mengungkapkan bahwa keberadaan jembatan sangat menentukan kelangsungan aktivitas harian warga.

​”Sebelum ada jembatan gantung pada tahun 2004, kami menyeberang lewat sungai. Kalau pekerjaan jembatan berhenti dan tak ada akses, mobilitas kami terhenti total. Mau ke pasar saja harus jalan jauh muter ke Sokawera,” kata Wartun.

Share This Article