Cerita Ketua DPRD Jateng Pernah Jadi Sales Jamu, Kini Dorong Anak Muda Terjun Jadi Afiliator

Malik Ibrahim
3 Min Read
Ketua DPRD Jateng Sumanto membuka acara Pelatihan Content Creator dan Afiliator di Kabupaten Karanganyar. .(Foto: dok Sumanto)

​MERCUSUARNEWS.CO – Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sumanto, membagikan kisah inspiratif perjalanan hidupnya kepada generasi muda. Ia berpesan agar anak muda masa kini tidak merasa gengsi atau malu jika harus mengawali karier sebagai seorang sales atau tenaga penjual.

​Menurutnya, dunia penjualan justru merupakan “sekolah kehidupan” yang sangat ampuh untuk mengasah kemampuan komunikasi, memahami karakter orang lain, dan membentuk mental kepemimpinan.

​Hal tersebut disampaikan Sumanto saat membuka acara Pelatihan Content Creator dan Afiliator di Kabupaten Karanganyar, belum lama ini. Siapa sangka, di balik posisinya kini sebagai Ketua DPRD, politisi PDI Perjuangan ini rupanya pernah terjun langsung menjajakan jamu di ibu kota.

​Selepas lulus kuliah, Sumanto menghabiskan waktu selama tiga tahun (1993-1996) bekerja sebagai sales jamu di Jakarta. Pada masa itu, jamu bukanlah kebutuhan primer sehingga ia dituntut memiliki keahlian khusus untuk meyakinkan calon pelanggan.

​”Dulu di Jakarta saya pernah jadi sales jamu. Mulai dari naik motor hingga naik truk perusahaan. Kalau mau ketemu calon pembeli harus antre di depan toko bareng sales lainnya,” kenang Sumanto di hadapan para peserta pelatihan.

​Perjuangannya pun tak selalu mulus. Sumanto sering kali harus menelan pil pahit penolakan di lapangan. “Kadang dapat giliran terakhir. Pernah saat ketemu pemilik toko malah disuruh pulang,” tambahnya.

​Meski berat, Sumanto mengakui bahwa pengalaman tiga tahun tersebut menjadi bekal investasi yang sangat berharga dalam perjalanan kariernya. Sebelum terjun ke dunia politik dan menjabat Ketua DPRD Jateng, ia juga sempat berprofesi sebagai pengacara selama 28 tahun. Kesuksesannya itu tak lepas dari skill dasar yang ia pelajari saat menjadi sales.

​Ia menegaskan, menjadi sales bukan sekadar soal merayu orang agar mau membeli produk, melainkan belajar berempati dan mendengarkan.

​“Belajar mendengar, memahami kebutuhan pelanggan, skill kepemimpinan. Sebab pemimpin yang baik adalah pendengar yang baik. Tidak ada yang terbuang. Semua pengalaman adalah investasi untuk masa depan,” tegas Sumanto.

​Peluang Emas di Era Digital: Jadi Afiliator

​Lebih lanjut, Sumanto membandingkan perjuangan sales di eranya dengan kemudahan teknologi saat ini. Jika dulu ia harus datang langsung dan mengantre berjam-jam untuk menemui pemilik toko, kini anak muda bisa berjualan dari mana saja berkat kecanggihan media sosial.

​Ia melihat peluang besar bagi anak muda untuk menjadi content creator sekaligus afiliator. Melalui program afiliasi (affiliate), seseorang tidak perlu pusing memikirkan modal untuk menyewa toko atau stok barang. Cukup dengan kreativitas membuat konten menarik, mereka bisa mempromosikan produk lewat tautan (link) dan meraup pundi-pundi rupiah dari komisi penjualan.

​Kendati mediumnya telah bergeser dari konvensional ke digital, Sumanto mengingatkan bahwa ruh penjualannya tetap sama. Seorang afiliator tetap harus mampu menawarkan produk, memahami audiens, serta membangun kepercayaan.

​Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk berani mencoba, membuang jauh-jauh rasa gengsi, dan tidak meremehkan pekerjaan sales di ranah digital ini.

​“Yang penting mau belajar, mau mendengar, memahami kebutuhan orang lain, dan terus mengembangkan kemampuan,” pungkas Sumanto.

Share This Article