MERCUSUARNEWS.CO – Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) semakin luas di Banyumas Raya. Hingga Agustus 2026, masyarakat dan pelaku usaha mencatat 172,01 juta transaksi QRIS dengan nilai mencapai Rp12,91 triliun.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto Aswin Gantina mengatakan pertumbuhan transaksi tersebut menunjukkan semakin kuatnya penggunaan pembayaran digital di masyarakat.
“Ekosistem pembayaran digital di Banyumas Raya terus menunjukkan perkembangan positif. Kami terus memperluas akseptasi dan penggunaan QRIS di berbagai segmen masyarakat,” kata Aswin.
Data KPwBI Purwokerto mencatat jumlah merchant QRIS hingga Agustus 2026 mencapai 668.678 merchant. BI Purwokerto terus menggelar edukasi dan aktivasi QRIS untuk mendorong masyarakat menggunakan pembayaran digital dalam berbagai aktivitas ekonomi.
QRIS Jangkau UMKM hingga Pelajar
Aswin mengatakan BI Purwokerto menyasar berbagai kelompok dalam program edukasi QRIS. Sasaran tersebut mencakup masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa, pelaku UMKM, pedagang pasar, pondok pesantren, komunitas perempuan hingga kelompok lanjut usia.
BI Purwokerto juga mendorong penggunaan QRIS di lebih banyak kawasan. Langkah tersebut bertujuan memperluas inklusi ekonomi dan keuangan digital sehingga manfaat pembayaran digital dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Pertumbuhan QRIS di Banyumas Raya juga mengikuti perkembangan transaksi ekonomi dan keuangan digital secara nasional. Pada Agustus 2026, transaksi ekonomi dan keuangan digital nasional tumbuh 40,36 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi 6,11 miliar transaksi.
Jumlah pengguna QRIS secara nasional mencapai 69,32 juta pada periode yang sama. Sementara itu, 47,11 juta merchant telah menggunakan QRIS.
“Perluasan akseptasi QRIS harus diikuti dengan edukasi dan penguatan ekosistem agar masyarakat dapat memanfaatkan pembayaran digital secara aman dan memberikan manfaat bagi aktivitas ekonomi,” ujar Aswin.
BI Purwokerto Kembangkan Zona QRIS
Selain memperluas edukasi, KPwBI Purwokerto mengembangkan konsep Zona QRIS. Program tersebut lahir melalui Mini Hackathon dalam rangkaian Pekan QRIS Nusantara (PQN) 2026 pada Agustus lalu.
Enam finalis mengikuti pembekalan dan pendampingan dari akademisi serta praktisi teknologi. Mereka kemudian mengembangkan konsep Zona QRIS untuk memperluas penggunaan pembayaran digital di Banyumas Raya.
Konsep tersebut membagi kawasan berdasarkan perkembangan akseptasi dan transaksi QRIS. BI Purwokerto membaginya menjadi tiga kategori, yakni Prime Zone, Growth Zone, dan Basic Zone.
Pemetaan kawasan itu membantu BI menentukan program pengembangan QRIS sesuai kondisi masing-masing wilayah. BI Purwokerto juga mendorong integrasi data tersebut dengan ekosistem pemerintah daerah dan digitalisasi layanan publik.
Aswin menegaskan penguatan ekosistem pembayaran digital membutuhkan kerja sama berbagai pihak. BI Purwokerto menggandeng pemerintah daerah, perbankan, perguruan tinggi, pelaku usaha dan komunitas untuk memperluas penggunaan QRIS.
“Kami bersama pemerintah daerah, perbankan, perguruan tinggi, pelaku usaha dan komunitas terus memperkuat ekosistem pembayaran digital yang inklusif dan inovatif sehingga memberikan manfaat nyata bagi perekonomian Banyumas Raya,” jelasnya.
Perkembangan QRIS di Banyumas Raya turut mendukung agenda Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI x IFSE) 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung pada 24-26 September 2026 di Jakarta International Convention Center dengan fokus pada penguatan sinergi, inovasi dan talenta digital untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan keuangan digital nasional.
