Unik dan Sarat Filosofi, Masjid Alif Baa Banjarnegara Dibangun dengan Kayu Berusia 1.250 Tahun

Tahmid Musyafa
3 Min Read
Penampakan masjid unik yang berada di Ponpes Alif Baa Bawang Banjarnegara. (Foto: dok Mercusuarnews.co).

​MERCUSUARNEWS.CO — Sebuah bangunan tempat ibadah dengan arsitektur tak biasa berdiri kokoh di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Adalah Masjid Alif Baa, sebuah masjid unik bernuansa tradisional yang memadukan keindahan material alami dengan kedalaman filosofi ajaran Islam.

​Masjid ini berdiri di lingkungan Pondok Pesantren Alif Baa, Desa Mantrianom, Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Bangunan berukuran 15 x 15 meter tersebut mampu menampung hingga sekitar 500 jamaah. Meski secara ukuran terbilang bersahaja, ruang dalam masjid menawarkan suasana yang amat sejuk, tenang, dan teduh.

Komposisi material kayu kuno, susunan batu alam, serta atap bernuansa ijuk menghadirkan nuansa alami yang sangat kuat.

Penampakan masjid unik yang berada di Ponpes Alif Baa Bawang Banjarnegara. (Foto: dok Mercusuarnews.co).
Penampakan masjid unik yang berada di Ponpes Alif Baa Bawang Banjarnegara. (Foto: dok Mercusuarnews.co).

​Makna Filosofis dalam Setiap Sudut Bangunan

​Setiap detail elemen arsitektur pada Masjid Alif Baa tak sekadar mengedepankan estetika, melainkan dirancang dengan makna filosofis yang mendalam. Dinding masjid tersusun rapi dari batu kali tanpa lapisan semen luar berlebih.

Selain memberikan ketahanan dan kesan kokoh, batu kali dimaknai sebagai simbol keteguhan. Batu diposisikan sebagai dasar penopang bangunan, layaknya manusia yang diharapkan mampu menjadi penopang kebaikan serta memberi kemanfaatan bagi sesama.

​Beranjak ke bagian interior, berdiri empat tiang utama atau soko guru yang menopang struktur tengah masjid. Tiang-tiang tersebut terbuat dari kayu sonokeling dan kayu jati pilihan yang diperkirakan telah berusia sekitar 650 tahun. Empat tiang ini melambangkan empat pilar utama dalam kehidupan seorang muslim, yakni iman, ibadah, ilmu, dan akhlak.

​Daya tarik paling menakjubkan terletak pada bagian mihrab atau tempat imam memimpin salat. Di area sakral ini, terdapat ornamen kayu langka yang diperkirakan telah berusia hingga 1.250 tahun.

​Sementara itu, pada bagian atap ijuknya terpasang delapan bentuk tanduk. Angka delapan dimaknai sebagai simbol garis tanpa putus, merefleksikan harapan agar tali silaturahmi antarumat manusia senantiasa terjalin erat dan tidak pernah terputus.

​Keunikan lain terlihat pada hadirnya ruang-ruang kecil di sisi kanan dan kiri interior masjid. Ruangan khusus tersebut difungsikan bagi para santri untuk melaksanakan suluk, yakni ikhtiar mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui ibadah, zikir, dan perenungan mendalam.

​Berburu Kayu Kuno hingga Terkubur Tanah

​Pengasuh Pondok Pesantren Alif Baa, KH Khayatul Makki, menuturkan bahwa proses pengumpulan material kayu berusia ratusan hingga ribuan tahun tersebut bukanlah hal yang mudah. Ia harus berkeliling ke berbagai pelosok daerah di Pulau Jawa selama bertahun-tahun demi berburu material kayu yang layak dan memiliki nilai historis serta spiritual.

​“Sebagian kayu bahkan ditemukan dalam kondisi telah lama terkubur di dalam tanah, sebelum kemudian diolah dan dijadikan bagian dari bangunan masjid yang kini berdiri kokoh di lingkungan pesantren tersebut,” katanya.

​Kini, Masjid Alif Baa tidak hanya menjadi sarana ibadah harian para santri dan warga sekitar, tetapi juga menjadi mahakarya arsitektur bernilai sejarah dan filosofi tinggi yang membawa kedamaian bagi siapa saja yang beribadah di dalamnya.

Share This Article