MERCUSUARNEWS.CO – Perekonomian Indonesia mengawali Triwulan IV-2026 dengan pijakan yang kokoh di tengah dinamika global. Kebangkitan aktivitas manufaktur yang melompat signifikan ke zona ekspansi menjadi motor utama penggerak ketahanan ekonomi nasional pada awal Oktober 2026.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2026 melesat ke level 52,4 dari posisi 49,8 pada bulan sebelumnya. Lonjakan ini ditopang oleh pesanan ekspor baru yang mencatatkan laju pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengungkapkan bahwa pemulihan sektor manufaktur didorong oleh lonjakan permintaan ekspor, volume pesanan baru, masuknya proyek-proyek baru, serta perbaikan daya beli masyarakat.
”Geliat industri pengolahan kembali terakselerasi. Pesanan baru tumbuh pada laju paling cepat sejak Februari 2026, sementara pesanan ekspor mencatat pertumbuhan tertinggi dalam empat tahun terakhir,” ujar Haryo dalam keterangannya di Jakarta dikutip dari laman kemenkeu.go.id, Kamis (8/10/2026).
Dampak positif dari perbaikan manufaktur ini turut mendorong peningkatan penyerapan tenaga kerja, aktivitas pembelian, serta penumpukan persediaan input produksi. Di saat yang sama, tekanan biaya input dan output melambat ke tingkat terendah dalam enam bulan terakhir.
Hilirisasi Topang Surplus Perdagangan USD7,25 Miliar
Daya tahan ekonomi nasional juga diperkuat oleh kinerja eksternal yang solid. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus kumulatif sebesar USD7,25 miliar.
Kinerja ekspor nasional terus ditopang oleh produk olahan bernilai tambah hasil kebijakan hilirisasi. Komoditas besi dan baja menyumbang USD19,18 miliar (tumbuh 4,88%), disusul minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya senilai USD17,75 miliar (tumbuh 6,57%), serta batu bara sebesar USD16,58 miliar (tumbuh 4,31%). Secara keseluruhan, ekspor industri pengolahan tumbuh 6,62%.
Sementara itu dari sisi impor, sebanyak 91,3% didominasi oleh barang modal serta bahan baku dan penolong yang masing-masing bernilai USD36,74 miliar dan USD133,38 miliar. Lonjakan impor mesin dan peralatan mekanis sebesar 15,26% serta mesin/perlengkapan elektrik sebesar 22,94% mencerminkan ketersediaan modal kerja dan persiapan investasi domestik yang kian masif.
Inflasi Terjaga dan Penguatan Bantalan Sosial
Di tengah pesatnya laju produksi, stabilitas harga dalam negeri tetap terkendali. Inflasi nasional September 2026 terjaga di angka 3,28% (yoy), masih berada di dalam koridor target pemerintah 2,5±1%. Inflasi inti melandai ke level 2,84% (yoy), sedangkan inflasi Administered Prices (AP) turun menjadi 3,25% (yoy).
Namun demikian, Pemerintah tetap menaruh perhatian khusus pada kelompok makanan bergejolak (volatile food) yang mencatatkan inflasi 5,03% (yoy) akibat dinamika cuaca ekstrem El Nino dan penurunan produksi komoditas hortikultura.
Guna mengamankan daya beli masyarakat dan ketahanan pangan hingga akhir tahun, Pemerintah mempercepat penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) Tahap III dan Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan untuk periode Oktober–Desember 2026. Langkah tersebut diperkuat melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium oleh Perum Bulog, Gerakan Pangan Murah (GPM), serta optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
”Ke depan, arah kebijakan Pemerintah akan tetap ditujukan untuk menjaga daya beli, memacu investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional agar momentum pertumbuhan ini dirasakan manfaatnya secara luas oleh masyarakat,” pungkas Haryo.
