Kisah Mus’ab bin Umair: Ketika Kain Kafan Tak Cukup Menutup Kaki Sang Pemuda Terkaya Makkah

M Salman
6 Min Read
Di Makkah, sebelum Islam berdiri tegak, nama Mus’ab bin Umair adalah simbol kemewahan.(Ilustrasi gambar Meta AI)

​MERCUSUARNEWS.CO — Di Makkah, sebelum Islam berdiri tegak, nama Mus’ab bin Umair adalah simbol kemewahan. Ia dikenal sebagai pemuda paling rapi, paling harum, dan paling memesona di kota itu. Setiap langkahnya selalu mengundang decak kagum. Pakaiannya terbuat dari sutra terbaik Yaman, sandalnya dari kulit pilihan, serta minyak wangi yang melekat di tubuhnya membuat orang tahu bahwa Mus’ab baru saja melintas.

​Mus’ab lahir dari keluarga bangsawan Quraisy di Makkah dan hidup dalam limpahan harta. Ibunya, Khunais binti Malik, merupakan seorang wanita terpandang yang tak pernah membiarkan anaknya kekurangan apa pun. Namun, sejarah tidak selalu memilih orang yang nyaman untuk memikul risalah, sebab Allah Swt. memilih hati yang berani.

​Awal Hidayah di Darul Arqam

​Segalanya berubah ketika Mus’ab diam-diam mendengar kabar tentang seorang Nabi di Darul Arqam. Ada getaran tersendiri dalam dadanya. Ia datang dan mendengar Al-Qur’an dibacakan oleh Rasulullah ﷺ. Saat itu juga hatinya runtuh, bukan karena takut, melainkan karena kebenaran.

​Kalimat-kalimat wahyu menembus lapisan kemewahan yang selama ini membungkus jiwanya. Mus’ab kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat. Tanpa sorak dan tanpa pesta, hanya langit yang menjadi saksi keislamannya.

​Keislamannya sempat disembunyikan, bukan karena ragu, melainkan karena tahu badai besar yang akan datang. Namun, rahasia selalu menemukan jalannya untuk terbongkar. Ketika ibunya mengetahui hal tersebut, cinta yang dahulu hangat seketika berubah menjadi cambuk. Mus’ab dikurung, disiksa, dan diputus dari segala fasilitas. Pakaian sutra diganti dengan karung kasar, serta wewangian diganti dengan bau debu dan luka. Meski demikian, iman di dadanya tak mampu direnggut oleh siapa pun.

​Ibunya mengancam, memohon, merayu, bahkan bersumpah tidak akan makan dan minum. “Pilih aku atau agama barumu,” kata sang ibu.

​Mus’ab menatap dengan mata basah namun penuh ketegasan. “Wahai ibu, seandainya engkau memiliki seratus nyawa dan satu per satu keluar di hadapanku, aku tidak akan meninggalkan agama ini.” Pada momen itu, seorang ibu kehilangan anak kebanggaannya, sementara Islam mendapatkan seorang pejuang sejati.

​Duta Pertama Islam ke Yatsrib

​Mus’ab kemudian melakukan hijrah ke Habasyah, lalu kembali, dan melakukan hijrah lagi. Setiap kali berhijrah, ia semakin melepaskan keterikatan dari dunia. Hingga suatu hari, Rasulullah ﷺ mengutusnya ke Yatsrib—sebuah kota yang belum sepenuhnya mengenal Islam—sebagai duta pertama. Rasulullah ﷺ tidak mengutus Umar yang gagah atau Hamzah yang ditakuti, melainkan Mus’ab, seorang pemuda yang lembut, berakhlak halus, dan penuh hikmah.

​Di Yatsrib, Mus’ab tidak datang membawa pedang, melainkan membawa Al-Qur’an. Ia duduk, berbicara, mendengar, dan menjelaskan dengan penuh kesabaran serta kecerdasan. Lewat keteladanannya, ia berhasil menyentuh hati para pemimpin kabilah, hingga tokoh-tokoh penting seperti Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair memeluk Islam melalui lisannya.

​Dari satu rumah ke rumah lain, cahaya Islam kian menyala. Ketika Mus’ab kembali ke Makkah, hampir tidak ada rumah kaum Anshar yang tidak mengenal Islam. Rasulullah ﷺ pun tersenyum bangga menyaksikan hasil dakwah yang dijalankan tanpa gemerlap tersebut.

​Gugur Pembawa Panji di Medan Uhud

​Tahun-tahun berlalu hingga Perang Uhud meletus. Mus’ab dipercaya membawa panji kaum Muslimin. Di medan perang, ia berdiri tegak bagaikan gunung. Ketika barisan mulai kacau dan panji hampir jatuh, Mus’ab maju ke depan. Sebuah tebasan musuh kemudian memutus tangan kanannya.

Seketika ia memindahkan panji ke tangan kiri. Namun, tangan kirinya pun ikut tertebas. Mus’ab tetap mendekap panji tersebut dengan sisa tubuhnya sambil berseru, “Muhammad hanyalah seorang Rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul.” Perjuangan itu berlanjut hingga sebuah tombak musuh menembus dadanya. Mus’ab roboh, namun panji tetap terjaga dan imannya tetap berdiri kokoh.

​Setelah perang usai, Rasulullah ﷺ berjalan menyusuri medan Uhud. Ketika sampai di hadapan jenazah Mus’ab, beliau terdiam dan air matanya menetes. Di hadapan Nabi, terbujur tubuh pemuda yang dahulu paling mewah di Makkah, namun kini tidak memiliki kain kafan yang cukup untuk menutup jasadnya. Jika ditutup bagian kepalanya, kakinya terbuka. Jika ditutup bagian kakinya, kepalanya yang terlihat. Rasulullah ﷺ akhirnya memerintahkan untuk menutup bagian kepalanya dengan kain dan meletakkan daun idzkhir di bagian kakinya.

​Keteladanan Sepanjang Zaman

​Rasulullah ﷺ bersabda lirih mengenang masa lalu Mus’ab. Dahulu, tidak ada pemuda Makkah yang lebih halus pakaiannya dan lebih lembut hidupnya. Hari itu, ia pergi menghadap Allah dengan benar-benar meninggalkan seluruh urusan dunia. Peristiwa Uhud menjadi saksi bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari apa yang dikenakan, melainkan dari apa yang dikorbankan.

​Kisah Mus’ab bin Umair memberikan cermin kehidupan bagi umat Muslim masa kini. Di zaman ketika iman sering kali ditukar dengan kenyamanan, Mus’ab memilih luka. Ketika popularitas lebih dicari daripada kebenaran, Mus’ab memilih kesunyian dakwah. Ketika dunia menjanjikan sutra, Mus’ab memeluk kain kafan.

​Perjuangannya tidak mati sia-sia. Namanya tetap hidup di setiap hati yang berani memilih Allah di atas segalanya, hidup di setiap langkah dakwah yang dilakukan dengan akhlak mulia, serta hidup di setiap pengorbanan yang dilakukan secara tulus.

​Ketika seseorang merasa berat melepaskan sedikit kenyamanan demi menjalankan agama, peristiwa Uhud seolah kembali mengingatkan bahwa pernah ada seorang pemuda bernama Mus’ab bin Umair yang melepaskan segalanya, hingga Allah mengabadikan namanya selamanya.

Share This Article