MERCUSUARNEWS.CO — Peternakan unggas sering kali diidentikkan dengan bau menyengat yang mengganggu pemukiman. Namun, sebuah usaha ternak rumahan di Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara, justru membuktikan hal sebaliknya.
Di atas lahan berukuran 8 x 6 meter, Dwi Satriani Begi Mawindi, atau yang akrab disapa Windi, sukses mengelola peternakan unggas yang bersih dan bebas bau. Usaha yang dirintis sejak tahun 2019 ini menggabungkan pemeliharaan ayam petelur, bebek Peking, dan entok jumbo dengan pemanfaatan sampah organik rumah tangga.
Windi mengungkapkan bahwa usahanya berawal dari niat sederhana untuk mengolah sisa sisa dapur agar tidak terbuang sia-sia.
”Awalnya hanya ingin memanfaatkan sampah dapur. Daripada dibuang, lebih baik digunakan untuk pakan ternak. Lama-lama berkembang dan ternyata bisa menghasilkan telur serta daging yang bernilai ekonomi,” ujar Windi.
Saat ini, terdapat sekitar 55 ekor unggas yang dipelihara. Pakan ternak memanfaatkan kombinasi sisa sayuran dapur, bekatul, serta jagung yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi unggas. Langkah ini terbukti efektif menekan biaya produksi di tengah tingginya harga pakan ternak, sekaligus membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Meski berdiri di tengah kawasan pemukiman warga, area kandang tetap higienis. Kebersihan dijaga secara berkala melalui pengelolaan kotoran dan pemberian pakan yang teratur, sehingga lingkungan sekitar tetap nyaman tanpa terganggu aroma tak sedap.
Buka Lapangan Kerja Bagi Warga Sekitar
Tidak hanya berdampak positif bagi kebersihan lingkungan, peternakan skala rumahan ini juga memberikan manfaat sosial. Windi merangkul warga sekitar yang belum memiliki pekerjaan tetap untuk membantu operasional harian peternakan.
”Dari usaha kecil ini setidaknya ada tambahan penghasilan untuk tetangga sekitar,” kata Windi.
Para tetangga dilibatkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari pemberian pakan, pembersihan kandang, hingga pengumpulan telur. Penjualan telur ayam, telur bebek, serta anakan entok kini memberikan pemasukan rutin yang membantu perekonomian rumah tangga dan warga yang terlibat.
Melihat prospek keberlanjutan dari pemanfaatan bahan pakan lokal, Windi berharap dapat terus mengembangkan kapasitas usahanya serta mengoptimalkan sistem pengolahan limbah organik ke depan.
”Yang penting mau memulai dan telaten. Dari sesuatu yang sering dianggap sampah ternyata bisa menjadi sumber penghasilan,” tutur Windi.
Model peternakan terpadu berbasis limbah rumah tangga di Karangtengah ini menjadi bukti nyata bahwa kreativitas dan ketekunan mampu menciptakan peluang ekonomi sirkular yang produktif, efisien, sekaligus ramah lingkungan dari halaman rumah sendiri.
